Advertisement

Ali Syarrati dilahirkan pada 1933 di Mazinan, Khurasan, Iran, dari lingkungan keluarga intelektual religius. Ayahnya, Muhammad Taqi Syari`ati, adalah seorang ulama besar, salah seorang pendiri gerak­an intelektual Islam, pendiri Pusat Penye­baran Kebenaran Islam di Masyhad, Iran, dan seorang mujahid. Selama empat puluh tahun, ayahnya berjuang untuk mengem­balikan pemuda didikan Barat ke tradisi ajaran Islam. Kakek dan pamannya dari pihak ayah, Akhund Hakim dan Adil Nisyapur, terkenal sebagai sarjana-sarjana terkemuka dalam bidang hukum, falsafat, dan sastra.

Pendidikan dasar dan menengahnya di­peroleh di Ibn-e Yasin Primary School dan Firdowsi Secondary School di Masy­had. Di samping itu, ia giat mempelajari bahasa Arab dan Prancis, sehingga ia su­dah mampu menerjemahkan buku-buku yang ditulis dalam kedua bahasa tersebut sebelum memasuki universitas. Bahkan, pada masa pra-universitas ini, ia sudah mampu menunjukkan kedalaman pengeta­huan dan kemampuan mengungkapkan pi­kirannya secara jernih dan ekspresif. Mi­salnya, dalam kata pengantar untuk buku terjemahan, Abu Zar, ia sudah mengaitkan perspektif Islam dengan problem-problem sosial. Dalam hal ini perhatiannya mulai tergerak oleh ketimpangan-ketimpangan sosial, dan menawarkan Islam sebagai al­ternatif pemecahannya.

Advertisement

Pada 1960, Ali Syari`ati memperoleh gelar Sarjana Muda, Bachelor of Arts, dari Universitas Masyhad. Kemudian, pada ta­ hun yang sama, ia berangkat ke Prancis untuk melanjutkan studinya di Universitas Sorbone, Paris, dalam bidang sosiologi hingga memperoleh gelar Doktor. Selama studi di Prancis, bukan saja ia memperoleh metode-metode baru dalam pengkajian masyarakat, melainkan juga informasi-in­formasi politik yang di negerinya sendiri tidak bisa diperolehnya. Karenanya, Ali Syari`ati tidak sepenuhnya tenggelam da­lam kampus dan perpustakaan, melainkan juga aktif melibatkan diri dalam kegiatan­kegiatan politik prak tis untuk membela hak-hak asasi kemanusiaan, terutama, un­tuk negerinya sendiri, Iran. Kegiatan-ke­giatan tersebut dilakukannya bersama de­ngan kelompok aktifis Iran, seperti Ibra­him Yezdi, Abu al-Hasan Bani Sadr, Sadeq Gobtzadeh, dan Mustafa Charman.

Rupanya, aktivitas Ali Syari`ati selama di Paris sangat merisaukan pemerintah Iran. Ia dipandang sebagai tokoh oposisi muda yang cukup berbahaya oleh rezim Syah Reza Pahlevi. Atas dasar ini, ketika kembali dari Paris pada 1964, ia ditangkap di Bazargan, wilayah perbatasan Iran de­ngan Turki. Enam bulan kemudian, kare­na gencarnya aksi protes dari dalam mau­pun luar negeri, ia dibebaskan kembali. Kesempatan ini ia pergunakan dengan se­baik-baiknya. Mulanya, ia berangkat ke Teheran, namun di sini men.dapatkan pe­ngawasan yang cukup ketat. Karenanya, ia memutuskan untuk pergi ke Masyhad dan mengajar di Firdowsi Secondary School. Kemudian, entah atas pertimbangan apa, ia diberikan kesempatan mengajar di Uni­versitas Masyhad sampai dengan 1970. Di sini, karena gagasannya yang kontroversial dan metode mengajarnya yang tidak kon­vensional, ia memperoleh perhatian ribuan mahasiswa.

Adapun bagi pihak universitas, kuliah­kuliah Syari`ati dipandang menghasut dan membahayakan rezim Syah. Atas dasar ini, ia dipindahkan ke Teheran dan meng­ajar di Husainiyayi Ershad, sebuah institut keagamaan yang cukup terkenal. Berse­lang beberapa lama, Husainiya-yi Ershad ditutup dan Syari`ati dipenjarakan kemba­li, kali ini, selama lima belas bulan. Sete­lah dibebaskan, meskipun diawasi cukup ketat oleh agen-agen rahasia Syah, ia tetap memberikan ceramah-ceramah. Ia tidak dapat menahan seruan nurani dan gejolak jiwanya untuk menyembunyikan kebenar­an dan membiarkan ketidakadilan, walau­pun harus berhadapan dengan kematian sekalipun. Bahkan, menurutnya, berdiam diri sama dengan menanggung derita ke­matian itu sendiri. Akhirnya, pada 1977, Dr. Ali Syari`ati dibunuh di London oleh satuan SAVAK, polisi rahasia rezim Syah.

Ide dasar pikiran dan perjuangan Sya­ri`ati adalah pembebasan manusia dari himpitan kekuatan ketidakadilan, baik da­lam sistem sosial politik maupun sosial bu­daya. Syari`ati melukiskan empat manusia yang menyusun kekuatan ketidakadilan. Menurutnya, keempat tipe tersebut dilam­bangkan oleh al-Quran dengan Fir’aun, Haman, Qarun, dan Bal’am. Fir`aun ada­lah penguasa yang korup, penindas dan penyusun sistem kelaliman serta kemusy­rikan. Haman mewakili kelompok tek­nokrat, kaum ilmuan yang melacurkan il­munya demi mendukung kekuatan sistem tirani. Qarun merupakan cerminan kaum kapitalis, pemilik dan penguasa sumber daya kekayaan yang diperoleh secara ra­kus melalui penghisapan seluruh sum ber daya kekayaan rakyat. Dan, Bal’am me­lambangkan kaum rohaniwan, tokoh-to­koh agama yang menggunakan agama un­tuk mengabsahkan sistem kekuasaan yang korup, dan, sekaligus, meninabobokan rakyat. Keem pat tipe manusia ini, pada se­tiap zaman, selalu tampil sebagai pendu­kung status quo dan penentang perubahan sosial. Mereka, satu sama lain, sering be­kerja sama untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Kekuatan-kekuatan seperti inilah yang ingin dirobohkan Syari`ati. Penyebarluas­an ide-idenya, selain melalui ceramah dan mengajar, ia tuangkan melalui karya-kar­ya tulisnya. Ali Syari`ati pun terkenal se­bagai penulis yang sangat produktif.

Advertisement
Filed under : Tokoh,