Advertisement

Ali Abdur-Raziq dilahirkan 1888 di Menya, Mesir. Ayahnya adalah sahabat Muhammad Abduh. Dalam usia sepuluh tahun, ia memasuki lembaga pendidikan al-Azhar. Ketika itu, Muhammad Abduh sudah berada pada tahun terakhir hubung­annya dengan al-Azhar. Karenanya, Ali Abdur-Raziq tidak sempat menjadi murid Muhammad Abduh secara langsung.

Sejak 1910, ketika berusia dUa puluh dua tahun, Ali Abdur Raziq mengikuti ku­liah di al-Jdmi`ah al-Misriyyah, Universitas Kairo sekarang, selama hampir dua tahun. Kuliah-kuliah terpenting yang di antaranya, studi Sejarah Sastra Arab dan Sejarah Falsafat, masing-masing dibe­rikan oleh Prof. Nallino dan Prof. Santila­na. Pada usia dua puluh tiga tahun Abdur­Raziq berhasil menyelesaikan program studinya di Universitas al-Azhar. Tahun berikutnya, 1912, ia sempat memberikan kuliah di almamaternya, sebelum berang­kat ke Inggris untuk melanjutkan studi­nya. Sebagai persiapan untuk memasuki Universitas Oxford, ia mempelajari baha­sa Inggris selama satu tahun di London. Di Oxford, ia mengikuti studi Ilmu Politik dan Ekonomi. Sebelum dua tahun studi di sana, ia terpaksa harus kembali ke Mesir, karena terjadi Perang Dunia Pertama.

Advertisement

Sampai di Mesir, Ali Abdur-Raziq di­angkat menjadi hakim di berbagai mahka­mah, di antaranya di kota Alexandria. Di sini, ia sempat mengadakan penelitian ten­tang Sejarah Peradilan Islam. Selain itu, ia pun mengajar untuk mata pelajaran Seja­rah Islam dan Sastra Arab di madrasah fi­lial al-Azhar, Alexandria. Karena prestasi yang berhasil ditunjukkannya, di samping memangku berbagai jabatan penting, juga ia sempat diangkat menjadi Menteri Wa­kaf. Ali Abdur Raziq wafat 22 September 1966, ketika berusia tujuh puluh delapan tahun.

Pikiran dasar yang dikemukakan Ali Abdur-Raziq adalah persoalan Khiliffah, sistem pemerintahan dalam Islam. Ketika Mustafa Kemal menghapuskan sistem ke­khalifahan di Turki pada 1924, hal itu me­nimbulkan pertentangan di kalangan ula­ma dunia Islam. Pertentangan itu didasar­kan kepada pandangan bahwa masalah ke­khalifahan merupakan bagian dari ajaran dasar Islam. Sementara itu, Ali Abdur-Ra­ziq mempunyai pandangan lain.

Menurutnya, sebagaimana yang dipa­parkan dalam bukunya, wa Usul al-Hukm (Islam dan Ketatanegaraan), sis­tem pemerintahan tidak disinggung oleh al-Quran dan Hadis. Karenanya, dalam ajaran Islam sistem pemerintahan tidak di­jelaskan corak dan bentuknya. Nabi Mu­hammad sendiri hanya mengemban misi kerasulan, tidak termasuk pembentukan negara.

Adapun sistem khalifah berkembang sekhalifah sebelumnya, maka para anggota komisi pemilihan (ahlasy-syi7ra) merijatuh­kan pilihan mereka pada Usman dan bu­kan Ali. Memang konsep Ali yang prinsip­nya menuntut kesamaan dapat menggu­gurkan kebijaksanaan Umar, khususnya, tentang preseden (sdbiqah), yaitu sistem stratifikasi yang berdasar kepada cepat atau lambatnya seseorang masuk Islam.

Ali naik tahta dalam posisi yang sangat sulit dan kompleks pada 656 (35 H). Ke­kalutan situasi politik menjelang dan sesu­dah terbunuhnya Usman menjadikan pengangkatan Ali sebagai khalifah terce­mar oleh aksi pemberontakan. Walaupun pembunuhan tersebut dikutuk oleh para pemuka sahabat, namun kritik atas kebi­jaksanaan Usman memang meluas dan di­dukung tokoh-tokoh di Madinah. Karena­nya reaksi terhadap kepemimpinan Usman adalah semacam raison d’etre dari peno­kohan Ali. Dalam situasi yang demikian nampak bahwa Ali mendukung dan me­lindungi tindakan para pemberontak. Penolakan sahabat semacam Zubair bin al-Awwam, Talhah bin Ubaidillah dan Mu`awiyah bin Abi Sufyan serta Aisyah (istri Nabi) terhadap kekhalifahan Ali memperjelas terpecahnya tokoh-tokoh Madinah dalam menghadapi problema perkembangan umat dan lembaga poli­tik yang baru lahir ketika itu. Kekalut­an politik ini memang tak bisa diatasi dan diselesaikan Ali, kendatipun ia mampu mengakhiri perlawanan yang dilancarkan oleh trio Talhah, Zubair dan Aisyah dalam suatu pertempuran yang terkenal dengan “Perang Unta” 657 (36 H).

Dalam bidang politik, Ali harus meng­akui keuletan saingannya, Mu`awiyah. Dengan mengambil Kufah sebagai pusat pemerintahannya Ali berusaha mengkon­solidasikan kekuatan dan kekuasaannya. Dalam sebuah pertempuran panjang di ka­wasan Siffin memang Ali menunjukkan sekali lagi kemampuan militernya. Keme­nangan awal yang dicapai pasukannya te­lah mengundang Mu`awiyah mengajukan gencatan senjata dan upaya perundingan. Penerimaan Ali atas usul perdamaian ini justru memperburuk posisinya; pendu­kungnya pun terpecah dengan munculnya golongan Khawarij yang menentang kepu­tusan Ali tersebut. Setelah pertempuran Siffin, posisi politik Ali semakin sulit se­dang posisi Mu`awiyah di Siria semakin ko­koh. Sampai ia meninggal pada 661 (41 H), kekuasaan Ali menjadi terbatas pada Irak, Hijaz, bagian timur Jazirah Arabia, dan Yaman. Namun keilmuan Ali dan ide­nya tentang persamaan tetap menjadi sumber inspirasi bagi para pengagumnya yang secara formal kemudian berkembang menjadi kelompok Syi`ah.

Advertisement