Advertisement

al-Lais, adalah seorang ahli hadis dan ahli hukum Islam termasyhur di Mesir. Nama lengkapnya adalah al-Lais ibnu Sead ibnu Abdurrahman al-Fahmi, Abu al-Haris. Ia lahir pada 713 (94 H), di desa Qalqasyan-

dah, sebuah dusun di daerah Khurasan. Ia adalah tokoh panutan umat Islam di Mesir pada masanya dalam bidang hadis dan fikih. Ibnu Tigri Bardi dalam kitabnya al­Minhal as-Safi mengatakan bahwa al-Lais adalah seorang tokoh agama Islam di Me-sir, seorang pemuka ulama pada masanya. Di negeri-negeri wilayah Mesir, demikian dikatakan Ibnu Tigri, para hakim tunduk kepada al-Lais dalam masalah hukum Is­lam. Mereka tidak akan memutuskan sua­tu perkara tanpa berkonsultasi lebih dahu­lu dengan al-Lais. Dengan demikian ada yang mengatakan bahwa al-Laislah yang sebenarnya sebagai hakim.

Advertisement

Ia terkenal sebagai seorang yang amat terikat dengan ajaran agama. Banyak iba­datnya, sangat suka membaca al-Quran. Berakhlak tinggi, sehingga ia terkenal se­bagai seorang ulama yang mulia dan dimu­liakan pada masa itu. Di antara sifat-sifat terpuji yang dimilikinya ialah sifat pemu­rah. Diriwayatkan, bahwa apabila tidak ada yang datang meminta sesuatu perto­longan kepadanya, maka ia akan keluar pergi mencari orang yang memerlukan ban tuannya.

Akan kealimannya, Imam Syafil yang pernah berguru beberapa lama dengan Imam Malik itu, pernah berkomentar: “Al-Lais lebih alim dalam masalah fikih daripada Imam Malik, akan tetapi para muridnya tidak mem bukukan fatwa-fat­wanya seperti dilakukan oleh murid-murid Imam Malik.”

Dalam kitab-kitab sejarah disebutkan bahwa al-Lais ada mengarang beberapa buah kitab, namun kitab-kitabnya tidak ada yang sempat beredar sampai kepada kita. Kitab yang khusus menceritakan ri­wayat hidup al-Lais, seperti dikatakan oleh Khairud-Din az-Zerekly, adalah kitab ar-Rahmah al-Gai3iyah Fi at-Tarjumah al­LaiNyah oleh Ibnu Hajar al-Asqalani.

Al-Lais hidup pada masa para imam mujtahid. Di Kufah pada masa itu terke­nal nama-nama ahli fikih seperti Abu Ha­nifah an-Nu`man pendiri mazhab Hanafi, Sufyan ibnu Uyainah (107-198 H) dan Ibnu Abi Laila (w. 148 H). Di Mekah ter­kenal Ibnu Jureij (w. 150 H). Di Madinah terkenal Imam Malik pendiri mazhab Ma liki, dan Abdul-Aziz ibnu Abdillah ibnu Abi Salamah ibnu al-Majsyun. Di Basrah terkenal Usman al-Batty dan Abu Abdil­lah Sawwar, di Syam terkenal al-Auzal dan di Mesir terkenal al-Lais. Dalam seja­rah tasyri, masa ini terkenal ‘dengan ba­nyaknya perdebatan ilmiah di antara ula­ma. Al-Lais tidak ketinggalan dalam masa­lah tersebut. Tercatat dalam sejarah perde­batan sengit yang terjadi antara al-Lais dengan imam Dar al-Hijrah Imam Malik. Persoalannya adalah, Imam Malik dalam ijtihadnya menganggap kesepakatan pen­duduk Madinah sebagai sesuatu yang mempunyai kekuatan untuk dijadikan pe­doman dalam fatwa hukum. Alasannya adalah, keras dugaan bahwa yang disepa­k ati penduduk Madinah, berasal dari Ra­sulullah. Oleh sebab itu, ia didahulukan atas kehendak hadis jika diriwayatkan oleh satu orang saja. Kekuatan kesepakat­an penduduk Madinah menurut Imam Ma­lik sama dengan kekuatan ijmak. Inilah yang dibantah oleh al-Lais. Menurut al­Lais, konsep ijmak penduduk Madinah yang dipegang Imam Malik menyebabkan banyak hadis Nabi yang tidak difungsikan, demikian pula banyak hasil kias yang ti­dak dijalankan. Menurut al-Lais kesepa­katan yang mengikat hanyalah kesepakat­an ulama di seluruh negeri Islam, tidak cukup dengan kesepakatan penduduk Madinah saja. Kesepakatan penduduk Madinah sama saja dengan kesepakatan an negeri-negeri lain, seperti Yaman dan Mesir. Oleh karena itu tidaklah wajar apa­bila ia dapat mengalahkan hadis Nabi wa­laupun diriwayatkan oleh satu orang (ha­dis wahid), demikian pula tidaklah wajar apabila ia dapat mengalahkan kesimpulan kias. Al-Lais menolak habis-habisan kon­sep ijmak penduduk Madinah yang dipe­gang oleh Imam Malik melalui suratnya yang terkenal itu. Ia wafat pada 175 H.

 

Advertisement