Advertisement

al-Khayyat, lengkapnya Abu al-Hu­sein Abdurrahim bin Muhammad bin Usman al-Khayyat, adalah nama salah se­orang pemimpin aliran Mu`tazilah cabang Bagdad. Kapan dan di mana ia lahir tidak diketahui dengan pasti, demikian juga riwayat hidup dan jenjang pendidikan yang dilaluinya. Ia diketahui hidup pada masa kemunduran aliran Mu`tazilah, masa kekuasaan khalifah al-Mutawakkil.

Al-Khayyat wafat pada 912 (300 H) me­ninggalkan sebuah karya penting yang ber­judul Kitab Buku itu kelihatan­nya ditulis dengan maksud membela aliran Mu`tazilah dari serangan Ibnu ar-Rawandi. Di antara pokok-pokok pikiran yang di­wariskan al-Khayyat, sebagai tertuang da­lam karyanya ini, adalah tentang “ketiada­an” (`adam), sifat Tuhan, fungsi wahyu dan kriteria bagi pengikut Mu`tazilah.

Advertisement

Dalam teori adam, al-Khayyat berpen­dapat bahwa semua jisim pada masa adam (sebelum mengambil bentuk) adalah jisim juga, karena ketika ia menjadi sesuatu yang baru (aktual) akan disebut jisim. Tampaknya al-Khayyat, seperti para filo­sof Islam paripatetik sesudahnya (al-Fara­bi dan Ibnu Sina), tidak menganut konsep penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo), sebaliknya ia berpendapat bahwa pencip­taan itu berarti perubahan bentuk saja (dari potensi menjadi aktual).

Ketika membahas soal sifat Tuhan, al­Khayyat kelihatannya agak berbeda dengan para tokoh Mu`tazildh lainnya, yang pada umumnya berpendapat bahwa sifat Tuhan itu bukan sesuatu yang ter­pisah dari Tuhan tetapi adalah zat Tuhan itu, sendiri; ia sendiri berpendapat bahwa kehendak itu bukanlah sifat yang melekat pada zat Tuhan dan pula Tuhan berkehen­dak bukan melalui zat-Nya. Jika dikata­kan Tuhan berkehendak, itu berarti bah­wa Ia mengetahui, berkuasa dan tidak di­paksa melakukan perbuatan-perbuatan­Nya. Dan kalau disebut Tuhan menghen­daki perbuatan-perbuatan-Nya, itu berarti bahwa Ia menciptakan perbuatan-perbuat­an itu sesuai dengan pengetahuan-Nya. Dan jika selanjutnya disebut bahwa Tuhan menghendaki perbuatan-perbuatan hamba­Nya, maka yang dimaksud adalah Tuhan themerintahkan , supaya perbuatan-per­buatan itu dilakukan. Dan arti Tuhan mendengar adalah Tuhan mengetahui apa yang dapat didengar; demikian pula Tuhan melihat berarti Tuhan mengetahui apa yang dapat dilihat.

Mengenai wahyu, al-Khayyat mengata­kan bahwa wahyu di samping berfungsi sebagai konfirmasi dan informasi, penguat dan penyempurna pengetahuan yang te­lah diperoleh akal, adalah juga sebagai batu ujian bagi manusia, dalam arti untuk mengetahui siapa yang patuh kepada Tu­han dan siapa yang melawan Tuhan. Mela­lui wahyu, Tuhan telah menunjukkanjalan ke surga dan jalan ke neraka, dan terserah kepada manusia untuk memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Dalam membicarakan masalah keadilan Tuhan, al-Khayyat tidak berbeda dengan pendapat para tokoh Mu`tazilah lainnya. Ia juga, karena percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta kebebasan manusia, mempunyai tendensi untuk me­ninjau wujud ini dari sudut rasio dan ke­pentingan manusia. Bagi mereka, semua makhluk ini diciptakan Tuhan untuk ke­pentingan manusia. Mereka berpendapat bahwa manusia yang berakal sempurna, kalau berbuat sesuatu mesti mempunyai tujuan, baik untuk kepentingan dirinya sendiri maupun untuk kepentingan orang lain. Tuhan juga mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tetapi karena Tuhan Maha Suci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, perbuatan-per­buatan Tuhan adalah untuk kepentingan maujud lain, selain Tuhan.

Advertisement