Advertisement

al-Jili, atau lengkapnya Abdul-Karim ibnu Ibrahim al-Jili, adalah seorang sufi terkerial dari negeri Bagdad. Riwayat hi­dupnya tidak banyak diketahui orang. Pa­ra penulis hanya menyebutkan bahwa ia lahir di al-Jili, sebuah negeri di kawasan Bagdad, pada 1365 (767 H) dan mening­gal dunia di tempat yang sama pada 1409 (811 H).

Jenjang pendidikan yang dilalui al-Jili juga sulit ditelusuri. Al-Jili hanya diketa­hui pernah berguru pada Abdul-Qadir al­Jailani, seorang pendiri dan pemimpin ta­rekat Qadiriyah yang kondang, di samping itu ia juga sempat berguru pada Syekh Syarafud-Din Ismail ibnu Ibrahim al-Ja-barti, seorang tokoh tasawuf terkenal di negeri Zabit. Yaman.

Advertisement

Dalam dunia tulis menulis al-Jili terma­suk seorang sufi yang cukup kreatif, ka­rangannya tentang tasawuf tidak kurang dari 20 buah, yang paling terkenal di an­taranya: al-Insan Ma`rifat al­Awcikhirwa al-AwFdl dan al-Kahf wa ar­Raqim fi Syarh Bismillah ar-Rahmein ar­Rahim. Konon bukunya yang disebut pertama, al-Insan pernah meng­gemparkan ulama-ulama Sunnah dan Fi­kih pada masa itu, meskipun isinya hanya menjelaskan buah pikiran Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi, karena memang al-Jilt terkenal sebagai penerus dan pembela ajar-an Muhyiddin Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi, walaupun dalam beberapa hal me­reka berbeda pendapat.

Ajaran al-Jill secara garis besar meli­puti pengertian tentang Zat Mutlak, ma­salah ruh, tentang Nur Muhammad dan Insan Kamil (manusia sempurna). Zat Mutlalc, menurut al-Jili adalah sesuatu yang dihubungkan kepadanya nama dan sifat ainnya bukan pada wuju-dnya. Dalam arti bahwa setiap nama atau sifat yang di­hubungkan kepada sesuatu maka sesuatu itu disebut zat, baik is ada atau tidak. Zat Allah itu gaib dengan sendirinya, tidak da­pat dicapai atau dijangkau dengan isyarat apa pun, maka untuk mencapai zat yang tertinggi harus dengan jalan Kasyaf Ilahi, tanpa mengetahui Kasyaf tersebut maka pendekatan terhadap Zat Ilahi tidak mungkin dapat diketahui dan dicapai, ka­rena zat tersebut berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa dan panca indera. Kasyaf tersebut menurut al-Jili dapat me­lalui dengan beberapa tahap:

  • Fana dari dirinya sendiri untuk menca­pai hadirat Tuhan.
  • Fana dari Tuhan untuk mencapai raha­sia-rahasia Rububiyah.
  • Fana dari ketergantungan terhadap si­fat-sifat Tuhan untuk berhubungan de­ngan Zat Tuhan.

Ajaran al-Jili lainnya adalah tentang ruh. Ruh menurut al-Jili ialah para malai­k at. Malaikat adalah makhluk yang dicip­takan Tuhan dari cahaya-Nya, kemudian dari malaikat inilah Tuhan menciptakan alam. Malaikat merupakan makhluk yang terdekat dan termulia di sisi Allah, karena itu malaikat diberi tempat di alam Ufuk, alam Jabarut dan alam Malakut. Sedang­kan Ruh al-Qudits atau Ruh al-Arwah me­rupakan wajah yang khas dari wajah Tu­han, dengan wajah itu terciptalah yang maujud ini. Ruh al-Qudus berarti ruh yang suci dari semua yang maujud. Ruh itu di­sebut juga dengan wajah Ilahi yang ada da­lam semua makhluk.

Tentang Nur Muhammad al-Jili menya­takan, Nur itulah sumber dari segala yang maujud, tanpa Nur maka tidak akan ada alarn ini, tidak ada zaman dan keturunan. Kejadian alam ini pada mulanya bersum­ber daripada Hakikat al-Muhammadiyah atau Nur Muhammad, karena Nur Muham­mad itulah asal segala kejadian. Ajaran Nur Muhammad ini pada mulanya dicetus­kan oleh al-Hallaj, yang diteruskan kemu­dian oleh Ibnu Arabi. Al-Jili dalam hal ini hanya mengembangkan saja. Dalam ajaran Nur Muhammad ini dijelaskan bahwa Nabi Muhammad terdiri dari dua aspek, yakni rupa yang kadim dan rupa yang azali. Dia telah terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada. Rupa yang azali adalah sebagai manusia, sebagai seorang rasul dan nabi yang diutus Tuhan, dan rupa ini akan mengalami maut. Sedang rupa yang kadim tetap ada .meliputi alam, dari rupa yang inilah diambil segala Nur untuk mencipta­kan segala nabi dan rasul serta para wali.

Yang terakhir dari ajaran al-Jili adalah mengenai Insan Kamil, manusia sempurna. Menurut al-Jili Muhammad adalah al-Insan al-Kamil, karena mempunyai sifat-sifat al­Haq (Tuhan) dan al-Khalq (makhluk) se­kaligus. Dan sesungguhnya al-Insan al­Kamil itu adalah Ruh Muhammad yang diciptakan dalam diri nabi-nabi sejak dan Adam sampai Muhammad, wali-wali serta orang-orang saleh. Al-Insan al-Kamil meru­pakan cermin Tuhan (copy Tuhan) yang diciptakan atas nama-Nya, sebagai refleksi gambaran nama-nama dan sifat-sifatNya. Al-Insan al-Kamil diberi hak-hak dan sifat­sifat yang istimewa dengan hukum-hukum Tuhan yang halus. Ia memiliki dua dimen­si yaitu kanan dan kiri. Yang kanan meru­pakan aspek lahir seperti melihat, mendengar, berkehendak; sedangkan dimensi kirinya bercorak batin dan mutlak, seperti azali, baka awal dan akhir. Jalan menuju al-Insan al-Kamil menurut al-Jili adalah dengan pengamalan Islam, iman, saleh, ihsan, sahadah, siddiqiyah dan kurban, de­ngan melalui maqamat (jenjang), yaitu mubtadi, mutawasit dan makrifat yang ke­mudian mencapai maqam khatam (peng­habisan).

Advertisement