Advertisement

Al-Harawi, (lengkapnya Abu Ismail Ab­dullah bin Muhammad al-Ansari al-Hara­wi) seorang sufi besar dari kalangan kaum Hambali. Ia lahir pada 1005 (396 H) di He­rat (sekarang terletak dalam wilayah Afga­nistan bagian utara). Ia juga wafat di Herat pada 1088 (481 H), dalam usia 85 tahun.

Riwayat hidupnya memberikan gam­baran sebagai berikut: sudah mulai belajar di madrasah pada usia empat tahun; sudah mulai banyak membaca dan menulis pada usia sembilan tahun, di bawah bimbingan gurunya, Abu Mansur al-Jarudi; sudah mu­lai mendatangi berbagai majelis pengajaran pada usia 14 tahun. Dalam usia yang rela­tif muda ia sudah mampu membuat dan memperdengarkan syair-syairnya, baik da­lam bahasa Persia maupun dalam bahasa Arab. Pada usia-usia berikutnya ia pindah ke Balkh, kemudian pada 1026 (417 H) ke Nisyapur, dalam rangka memperdalam pengetahuannya. Di Nisyapur ini ia mem­pelajari agama dari sejumlah ulama yang pernah berguru pada ahli hadis terkemu­ka, Abul Abbas Muhammad bin Yequb al-Asam. Pada ‘1027 (418 H) ia kembali ke Herat, dan enam tahun kemudian ber­jumpa dengan sufi besar, al-Khargani. Al­Harawi, berdasarkan pengakuannya, mera­sa sangat berhutang budi pada sufi besar itu dalam memahami atau mengikuti ajar-an tasawuf. Katanya: “Seandainya aku tidak berjumpa dengan al-Khargani nisca­ya aku tidak mengenal hakikat.”

Advertisement

Al-Harawi mulai memberi pengajaran sejak 1034 (425 H) terutama berkenaan hadis Nabi dan tasawuf. Ia pernah pergi ke Nabazan untuk berdiskusi dengan para ulama tasawuf, dan ternyata tampil paling menonjol karena pembicaraan-pembicara­annya yang diasyiki dan dikagumi para pe­serta. la bahkan mengalami fana’ dalam acara zikir bersama yang disertai suara. Dari Nabazan ia kembali ke Herat dengan kemasyhuran yang semakin bertambah. Bersamaan dengan itu pihak yang tidak se­aliran dengannya tentu tidak menyenangi­nya. Pertentangan sengit antar aliran telah menyebabkan dirinya dimasukkan ke da­lam penjara selama hampir satu tahun pada 1046 (438 H), bahkan dua kali pula terpaksa berhijrah ke Balakh, pada 1066 (458 H) dan 1087-1089 (478-480 H).

Al-Harawi dapat disebut fakih Hambali dan sekaligus sufi. Derigan latar belakang keyakinannya itu dapat dipahami bahwa ia berupaya keras menjaga tasawuf agar berjalan di atas jalan syariat al-Quran dan Sunnah-Nabi. Ia dikenal sebagai sufi yang keras .mengecam ucapan-ucapan gancil (syatahat), yang muncul dari sejumlah sufi, seperti dari Abu Yazid al-Bistami dan al-Hallaj. Sebagai sufi dan fakih Hambali, is juga memberikan kecaman keras kepada para mutakallin (teolog), termasuk menge­cam aliran Asy`ariyah. Salah satu dari karyatulisnya berjudul Kira, 2amm’am al-Kalam wa Ahlil (Mengecam Ilmu Kalam dan Pengasuhnya). Karyatulisnya dalam tasawuf berjudul Manazil as-Sa’firin UZI Rabb al-Alamin (Tahap-tahap Perjalanan Menuju Tuhan).

Al-Harawi menjelaskan bahwa para sufi pada umumnya berpendapat bahwa benar­nya tahap-tahap akhir perjalanan dalam tasawuf tergantung pada benarnya tahap­tahap awal yang ditempuh; sedangkan ke­beriaran tahap-tahap awal terletak pada sikap &bias dan keSetiaan mengikuti sun­nah Nabi. Selain itu al-Harawi menegaskan pentingnya tahap (maqam) sakinat (kete­nangan jiwa), yang menurutnya merupa­kan. buah dari sikap rida pada Allah. Saki­nat, bila ada dalam jiwa, kata al-Harawi, niscaya akan menjadi penghalang bagi tim­bulnya ucapan-ucapan ganjil, yang dapat menyesatkan. Terjadi dan munculnya ucapan ganjil itu adalah karena ketiadaan sakinat dalam jiwa Yang mengucapkan itu. Selanjutnya ia berpendapat bahwa sakinat itu tidaklah dikaruniakan kecuali kepada para nabi dan wali. Dengan demikian, ia dan orang yang sepaham dengannya tak akan memandang sufi seperti al-Bistami dan al-Hallaj, sebagai sufi atau wali yang benar.

Seperti telah disinggung, al-Harawi ada­lah sufi yang mengalami fana’. Menurut­nya, fana’ itu tidaklah mengacu kepada pengertian lenyapnya atau dalam anti se­benarnya (menjadi tidak ada), tapi tidak lebih dari pengertian: lenyapnya apa saja selain Allah dalam kesadaran sufi yang sedang asyik menyaksikan kehadiran al­Hak (Allah). Tatkala itu lenyaplah kesa­daran, bukan saja tentang alam, juga ten-tang wujud pengetahuannya, tentang wu­jud dirinya, dan tentang fana’ itu sendiri.

Cukup banyak -butir-butir istilah tasa­wuf yang dibicarakan oleh al-Harawi, yakni dalam bukunya Manazil as-Sa’irin jumlahnya mencapai seratus buah, diawali dengan butir yaqzat (bangun/sadar) dan berakhir dengan butir tauhid (mengesa­kan Tuhan). Dengan itu iamenggambar­kan bahwa langkah awal sekali perjalanan orang-orang tasawuf itu adalah bangun atau sadar dari kelengahan atau kelalaian yang telah menguasai diri selama ini. Ber­awal dari kesadaran itu, ia melangkah ke­pada taubat, melakukan perhitungan atau penilaian terhadap diri, dan . . . melang­kah terns sampai ke puncaknya: tauhid. Butir demi butir yang disajikannya itu. me­miliki tiga derajat, derajat pertama dimiliki oleh kaum awam, kedua oleh kaum khawas (terpilih), dan ketiga oleh khawas al-khawas (yang terpilih dari yang terpilih).

 

Advertisement