Advertisement

Al-Amiri, (lengkapnya Abu al-Hasan Muhammad bin Abi Zar Yusuf al-Amiri an-Naisaburi) adalah seorang filosof mus­lim terkemuka dari abad ke-10 (4 H). Ia cukup dikenal di masa hidupnya. Syahris­tani, penulis tentang golongan-golongan dalam Islam, memasukkannya dalam de­retan para filosof muslim terkemuka, se­perti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina. Abu Hayyan at-Tauhidi, dalam karyanya (al-Imta` wa al-Muanasdt), berbicara pan­jang tentang diri al-Amiri, dan dalam kar­yanya yang lain (al-Muqdbaset) banyak mengutip pembicaraan filosof tersebut. Pembicaraannya juga banyak dikutip oleh para penulis lain, seperti Ibnu Miskawaih, asy-Syahr Zuri, dan al-Kalabazi. Kendati Abu Hayyan at-Tauhidi menyebutnya se­bagai satu di antara para pemuka ilmu di masanya, ia nyaris tidak dikenal di masa sekarang ini. Hal ini disebabkan oleh le­nyapnya sebagian besar dan karyatulisnya dan tercecernya beberapa karyanya yang masih berbentuk manuskrip dari perhatian para sarjana.

Diperkirakan bahwa al-Amiri lahir pada dasawarsa kedua abad ke-10 (awal abad ke-4 H) di Nisyapur (Naisabur), Khurasan. Wafat 992 (381 H), juga di Nisyapur. Di­sebutkan oleh suatu sumber bahwa ia me­ningkat dewasa di kawasan Khurasan dan belajar falsafat pada Abu Zaid Ahmad bin Sahl al-Balkhi. Setelah berhasil menguasai berbagai cabang falsafat, ia kemudian dikenal dengan sebutan “Filosof Nisyapur”. Selain banyak bermukim di Nisyapur, ia banyak juga melakukan perjalanan dalam rangka memperluas pengetahuannya. la bermukim beberapa tahun di Bukhara, juga di Ray dan Bagdad, untuk memanfa­atkan perpustakaan-perpustakaan besar, yang terdapat di kota-kota tersebut. Ham­pir seluruh hidupnya ia abdikan untuk ke­pentingan ilmu: ia belajar, mengajar, ber­diskusi dengan para ilmuwan lainnya, membaca, dan mengarang.

Advertisement

Dari sejumlah sumbef, yang masih ber­bentuk manuskrip, dapat diketahui nama­nama karyatulis yang dihasilkan oleh al­Amiri, yaitu: al-lbcinat’an Vial ad-Diyiinat,

al-I `lam bi Mandqib                          al-Irsydd li

an-Nusuk              wa al-

Tasawwuf al-Milli, al-Itmam li Facld’il al­Aneim, at-Taqrir li Awjuh at-Taqdir, In­qc12 al-Basyar min al-dabr wa al-Qadar, al­Fusul ar-Rabbaniyyat li al-MabcilliS an­Nafsiinlyyat, Fusul al-Ta’addub wa Fudril at-Tahabbub, al-Absyar wa al-Asykir, al-

Ifsdh wa             al-Vndyat wa ad-Difeyat,

al-Abhas               al-Ajdas, Istiftati an-Nasar,

al-Iksc7r wa al-Mubassir, Tahsilas-Sallimat `an al-Husr wa al-Usr, at-Tabsir li Awjuh at-Ta `bir, Syarh al-Usfil al-Mantiqiyyat, Tafsir al-Musannaffft at-Tabi `iyyat, Syarh kitab al-Burhan li Aristatalls, Syarh Kitd15 an-Nafs li Aristatalis, al-Fusul fi al-MaWlim

dan masih ada sejumlah risa­lah .pendek lainnya. Dan data nama-nama karya tulisnya itu, dan dan beberapa ma­•uskrip karya tulisnya yang dijumpai me­mang dapat disimpulkan bahwa ia memi­liki pengetahuan yang luas. Kendati ia ber­gelar “Filosof Nisyapur”, karena mengua­sai berbagai cabang falsafat, tampak dari daftar karya tulisnya itu bahwa perhatian­nya tidaklah kecil pada ilmu-ilmu keislam­an lainnya, seperti ilmu kalam, dan tasa­wuf.

Karya tulisnya, al-1 lam bi Manaqib al- (Memperkenal Keistimewaan Islam), yang telah diedit dan diterbitkan oleh Dr. Ahmad Abdul-Hamid Gurab di Kairo pada 1967, memperlihatkan bahwa tujuan utama penulisan buku tersebut adalah menunjukkan keunggulan Islam daripada Yahudi, Kristen, Majusi, penyembahan berhala, dan Sabiah, baik dalam aspek aki­dah, maupun aspek ibadat, aspek muama­lah, dan aspek hukuman terhadap perbuat­an-perbuatan kriminal; serta menunjukkan pantasnya Islam sebagai agama yang kekal sampai akhir zaman dan sekaligus sebagai pengganti agama-agama sebelumnya.

Sebelum menunjukkan keistimewaan Islam dan agama-agama lain, terlebih dulu ia membicarakan pentingnya peranan yang hams dimainkan oleh akal. Menurut­nya, akal adalah daya untuk mengetahui kebenaran dan mendorong untuk meng­amalkannya. Mengetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah dua hal yang ti­dak boleh dipisahkan. Pengetahuan ditun­tut bukanlah demi pengetahuan, tapi demi mengamalkan perbuatan-perbuatan yang membawa kepada kebahagiaan manusia, baik perorangan maupun bersama. Dalam hal menerima atau menolak suatu agama, orang tidak pantas bersikap taklid (ikut­ikutan saja) kepada generasi pendahulu, tapi haruslah menggunakan pertimbangan akal. Karena itu pulalah dalam memban­dingkan Islam dengan lima agama lainnya, ia (al-Amiri) bersandar pada akal sebagai alat penilai.

Sebagaimana al-Kindi, yang banyak di­ikutinya, al-Amiri membagi pengetahuan ke dalam dua kategori, yaitu pengetahuan­pengetahuan keagamaan (aVulrim al-mil­liyyat) dan pengetahuan-pengetahuan fal­safi (aVuliim al-Ilikmiyyat). Penguasa atau pengasuh yang pertama adalah para nabi Allah, sedang penguasa atau pengasuh ke­lompok kedua adalah para hukama (filo­sof). Menurut al-Amiri, setiap nabi adalah hakim (filosof), tapi tidak setiap hakim nabi. Penegasannya ini mengandung arti bahwa nabi lebih istimewa atau lebih ting­gi dari filosof.

Sebagai filosof muslim, ia tidak lupa menolak anggapan sebagian ulama, yang menyatakan bahwa pengetahuan falsafi itu bertentangan dengan pengetahuan aga­ma. Menurutnya anggapan itu lemah atau naif sekali. Sesungguhnya tidaklah ada pertentangan antara pengetahuan falsafi, yang didukung oleh bukti-bukti yang te­rang, dengan agama yang benar (ad-din al­haqq).

 

Advertisement