Advertisement

Al-Amidi, lengkapnya Saifud-Din Ali bin Abi Ali al-Amidi adalah ulama besar yang sulit ditandingi di masa hidupnya. la lahir di Amid, kota tua di Irak bagian uta­ra, pada 1155 (551 H),dan wafat di Damas­kus pada 1234 (631 H). Setelah meng­hafalkan al-Quran dan mempelajari fikih Hambali di kota kelahirannya, pada usia muda ia pergi memperdalam pengetahuan agamanya di Bagdad. Ia memperdalam fi­kih pada seorang fakih Hambali, Abu al­Fath Nasr bin Fityan, dan menekuni hadis Nabi pada ahli hadis, Ibnu Syatil. Selan­jutnya ia juga belajar pada Ibnu Fadlan, seorang ulama Syafil yang berpengetahu­an lugs (selain menguasai fikih, juga me­nguasai usul fikih, ilmu kalam, dan falsafat). Karena pengaruh dan bim­bingan Ibnu Fadlan, al-Amidi menganut mazhab Syafi`i, menguasai pula usul fikih, ilmu kalam, logika, dan falsafat. Al-Amidi melangkah lebih jauh dengan mendalami lagi falsafat pada seorang ahli falsafat, kendati yang akhir ini seorang Nasrani. Mungkin karena pindah dari mazhab Ham­bali ke mazhab mungkin karena kecenderungannya yang kuat kapada pemikiran falsafi, atau karena kedua-dua­nya, ia dikecam oleh sejumlah fukaha dan juga oleh sejumlah ulama tasawuf. Keada­an yang tidak menyenangkan itu menye­babkannya pindah ke Syam (ke Danias­kus, Aleppo, dan Horns). Di Syam ini ia pernah berjumpa dan berbincang-bincang dengan Suhrawardi al-Maqtul, seorang sufi yang juga menguasai falsafat.

Pada 1195 (592 H) al-Amidi pergi ke Mesir. Ia mengajar di Madrasah Manazil al­Izz, Fustat, dan kemudian di Madrasah Nasiriyah (di Kairo), yang didirikan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi untuk ke­pentingan aliran Asy`ariyah. Selain mem­berikan kuliah-kuliah yang menarik per­hatian banyak, penuntut ilmu, ia juga ba­nyak menghasilkan karya-tulis, yang juga diasyiki oleh murid-muridnya yang ba­nyak. Akan tetapi kemasyhurannya yang semakin menanjak telah mengundang kedengkian atau permusuhan -clad kala­ngan tertentu. Kecenderungannya yang kuat kepada pemikiran falsafi dijadikan alasan oleh kalangan tertentu itu untuk menuduhnya menyimpang dari kebenar­an, zindik, dan lain sebagainya. Ia ter­paksa lagi meninggalkan Mesir, setelah bermukim di sana sekitar 20 tahun, dan kembali ke Syam. Amir kota Horns, al-Mansur bin Taqiyuddin, menyambut balk kehadiran al-Amidi di kota itu dan memintanya untuk memimpin Madrasah Mansuriyah. Ia kembali bisa hidup ten­teram di bawah perlindungan amir ter­sebut. Setelah amir ini wafat lebih kurang 9 tahun kemudian, al-Amidi pindah ke Damaskus memenuhi ajakan amir kota itu untuk memimpin Madrasah Aziziyah. Setelah mengajar di madrasah yang akhir ini lebih kurang 10 tahun, muncul lagi tantangan kuat terhadapnya, sehingga ia mengundurkan diri dari madrasah tersebut dan tidak lama setelah itu ia berpulang.

Advertisement

Di antara ulama-ulama yang pernah menjadi rnuridnya adalah al-Izz bin Abdus­Salam, yang terkenal dengan gelar Sultan al-Ulama di Mesir dan Syam, Ibnu Abi Usaibiah (penulis sejarah terkenal), dan Abu Syamah (juga penulis sejarah). Jum­lah karyatulisnya tidak kurang dan dua puluh buah, antara lain dalam lapangan usul fikih: fi Usul al-Ahkem (memantapkan pemahaman pada dasar-dasar hukum) dan Muntaha as-Sul fr 71m

(tentang problema akhir dalam ilmu usul fikih), dalam lapangan falsafat: alMubin ‘an Ma`cini Alfaz alHukama (penjelasan tentang ungkapan-ungkapan para filosof) dan Kasyf atTamwihat (me­nyingkapkan hal-hal yang samar; berisi penjelasan terhadap tulisan Ibnu Sina dalam karyanya, alIsyarat wa atTanbi­hat), dan dalam lapangan ilmu kalam: Abkar alAfkar. (buah-buah pemikiran) dan Gayat alMaram fi ‘Ilm alKaRrn (yang dikehendaki dalam ilmu kalam).

Sebagai ulama Asy`ariyah yang memi­liki kecenderungan kuat pada pemikiran falsafi, ia ikut memberikan warna falsafi pada teologi Asy`ariyah yang dianutnya, seperti yang dilakukan juga oleh al-Iji, Fakhruddin ar-Razi, dan lain-lain. Karang­an-karangannya dalam .ilmu kalam men­jadi buku-buku rujukan pokok bagi ulama Asy`ariyah yang datang kemudian. Tidak ada pandangannya yang menyimpang dari teologi Asy`ariyah, apalagi dari Islam, keri­dati ia pernah dituduh dengan macam­macam tuduhan oleh pihak lain.

Pandangannya yang khas adalah berke­naan dengan persoalan kadimnya (tak ber­mulanya) atau hadisnya (baharunya; per­nah tidak adanya) alam ini. Kendati ia lebih cenderung kepada pendapat bahwa alam itu hadis, seperti pendapat para teo­log, ia menyatakan bahwa secara akli ke­kadiman alam sebagai bara?ig yang dicip­takan oleh Maha Pencipta Yang Berke­hendak Bebas (Tuhan), bukanlah hal yang mustahil, tapi jaiz (dapat dibayangkan oleh aka1; tapi tidak mesti kadim dan tidak mesti Pula hadis). Pandangannya itu berbeda dengan pandangan yang dia­nut sampai masa hidupnya, yakni panda­ngan yang memustahilkan kadimnya alam (pandangan para teolog) dan pandangan yang memustahilkan hadisnya alam (pan­dangan para filosof).

Tidak seperti sebagian ulama, yang tidak mau berdalam-dalam memperbin­cangkan masalah akidah, ia tampak ber­gairah menekuninya dan memandang ilmu kalam sebagai ilmu yang paling utama (paling mulia), karena obyek perbincang­annya adalah wujud yang paling mulia, yakni Allah, sebagai cumber atau pencipta segenap alam ini dengan segala ketertiban dan keharmonisan yang terkandung di da­lamnya.. Derajat kemuliaan suatu ilmu, menuntutnya, tergantung pada derajat ke­muliaan obyek kajiannya.

Advertisement