Advertisement

al-Alusi, adalah seorang ahli tafsir ter­nama, dan ahli hukum Islam. Nama leng­kapnya Syihabud-Din as-Said Muham­mad al-Alusi al-Bagdadi. Ia dilahirkan di sebuah desa di pinggir kota Bagdad pada 1207 H. Ayahnya adalah seorang ulama besar di negeri itu. Al-Alusi pada mulanya menimba ilmu pengetahuan dan ayahnya itu dan dan ulama-ulama besar lainnya, seperti dari Syekh Ali as-Suwardi, dan Syekh Khalid an-Naqsyabandi. Dalam se­jarah al-Alusi disebut sebagai seorang yang gigih menuntut ilmu, pintar, dan rajin me­ngajarkan ilmu yang dithilikinya kepada orang lain. Ia menuntut ilmu sejak kecil, dan ketika berumur tiga belas tahun, telah tergolong sebagai orang alim. Di samping pendalaman yang dilakukannya dan ula­ma-ulama terkemuka, ia mulai mengajar­kan ilmu yang telah dimilikinya. Sebagai­mana ia gigih dalam menuntut ilmu, demikian pula ia gigih memberikannya kepada orang lain. Hal itu tergambar pada sikap nya, yang suka membantu banyak pelajar yang tidak mampu, tetapi mempunyai ke­mauan untuk belajar kepadanya.

Al-Alusi dikenal ahli dalam tafsir dan hukum fikih. Di samping itu, ia juga dike­nal sebagai seorang tokoh yang bisa beker­ja sama dengan pemerintah. Beberapa kali ia diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan. Pada 1248 H ia diangkat menjadi mufti besar dalam mazhab Hanafi di Bagdad, setelah beberapa tahun ia memimpin bagian wa­kaf pada perguruan al-Marjaniyah di negeri itu.

Advertisement

Dalam kesibukannya itu, al-Alusi masih sempat membagi waktu untuk menurun­kan ilmunya ke dalam bentuk karangan. Banyak karya ilmiah yang sempat ia sele­saikan. Di antaranya ialah: Kitab

gla al-Qatr dalam ilmu tatabahasa Arab, kitab al-Asilah an al­Asilah al-Laariyah, kitab al-Ajwibah al­Miqiyah ‘Off al-Asilah kitab Durrat al-Gawwiis fi Awham al-Khawweis, kitab an-Nafahat al-Qudsiyah

dan yang paling populer ada­lah kitab tafsirnya yang bernama Rill, al­Ma`eini. Kitab tersebut diselesaikannya pa­da 1263 H, setelah ia meninggalkan jabat­an sebagai mufti di Bagdad. Kitab tafsir tersebut disusunnya dalam masa sepuluh tahun lebih. Pada mulanya, seperti diceri­takannya sendiri dalam mukadimah kitab tersebut, ia bermimpi di malam Jumat, Rajab 1252 H. Dalam mimpi tersebut, ia merasa dapat petunjuk dan Allah agar ia mempertemukan langit dan bumi. Lalu ia merasa mengangkatkan sebelah tangannya ke atas, sedangkan tangan yang sebelah lagi diletakkannya di bumi. Dalam keada­an demikian ia pun terbangun dan tidur. Setelah diketahuinya bahwa mimpi itu adalah sebagai isyarat bahwa ia akan mam­pu menyelesaikan suatu pekerjaan besar dan bermanfaat, maka ia pun mulai me­nyusun kitab tafsir tersebut, pada 16 Sya’ban 1252 H.

Sebagai seorang yang alim di bidang fi­kih, al-Alusi dalam tafsirnya itu, banyak menguraikan masalah hukum. Ayat-ayat hukum ditafsirkan dan dijelaskannya mazhab-mazhab fikih yang berkaitan de­ngan ayat dimaksudkan. Dan oleh karena ia bermazhab Hanafi, maka dalam masalah hukum fikih ini yang menjadi tekanannya adalah mazhab Hanafi. Dalam hal-hal yang berkehendak kepada rincian lebih lanjut yang tidak sempat untuk dijelaskannya dalam kitab tafsirnya itu, ia akan menun­jukkan dalam buku apa rincian masalah itu dapat dirujuk. Kitab Tafsir Riih al­MaTtni adalah salah satu di antara kitab­kitab tafsir yang dikenal di kalangan umat Islam di Indonesia.

Al-Alusi wafat Jumat, 25 Zulkaidah, 1270 H di dusun tempat kelahirannya.

 

Advertisement