Advertisement

Ain al-Qudah adalah sufi yang me­ngalami nasib yang sama dengan al-Hallaj. Dalam usia 33 tahun ia dipenjara dan di­hukum mati oleh pihak penguasa, di Hamazan, Iran, pada 1131 (525 H). Nama lengkapnya adalah Abu al-Ma’ali Abdullah bin Abi Bakar Muhammad bin Ali al-Miya­naji al-Hamazani. Ia lahir di Hamazan pada 1098 (492 H) dari keluarga terpela­jar, yang berasal dari Miyanaj di Azerbai­jan. Kakeknya seorang hakim di Hama­zan dan terbunuh ketika para penjarah melakukan keonaran di kota tersebut pada 1000 (494 H).

Kendati data hidup Ain al-Qudah, yang diketahui, amat terbatas, namun tersimpul dari tulisannya bahwa ia adalah seorang yang luar biasa, lebih cepat memperoleh kematangan intelektual terbanding dengan orang-orang yang seusia dengannya. Ia pernah menulis: “Tidak mengherankan kalau orang iri padaku, karena melihatku — dalam usia 20 tahun lebih — friampu menyusun risalah, yang orang lain seusia 50-60 tahun sulit memahaminya, apalagi menyusunnya.”. Dalam usia masih remaja ia dengan cepat menguasai hampir semua cabang pengetahuan, seperti tafsir, hadis, fikih, teologi, sastra Arab, logika, dan fal­safat.. Dalam lapangan fikih ia penganut mazhab dan karena pengetahuan fikihnya ia sebenarnya memenuhi syarat untuk menjadi hakim, seperti kakeknya.

Advertisement

Ain al-Qudah pernah merasa berada da­lam kebingungan, ketika memikirkan ke­benaran tentang Tuhan. Ia berkata: “Aku berada nyaris di pinggir neraka, kalau saja Allah tidak menolongku dengan rahmat dan kemurahan-Nya.” Ia merasa bahwa buku-buku teologi hanya menambah ke­bingungannya dan ia baru merasa terto­long dan lepas dari kebingungan itu, sete­lah menelaah tulisan-tulisan al-Gazali (Abu Hamid) selama empat tahun. Kitab 11.1y5 ad-Din, karangan al-Gazali, sangat berpengaruh pada dirinya, sehingga mata hatinya mulai terbuka. Perubahari orientasinya kepada tasawuf menjadi sem­purna setelah bergaul selama 20 hari de­ngan Ahmad al-Gazali (saudara Abu Ha­mid al-Gazali), ketika yang akhir ini da­tang ke Hamazan pada 1122 (517 H). Ain al-Qudah dan ayahnya ikut dalam hala­kah Ahmad al-Gazali, dan ikut serta dalam praktek meditasi atau zikir yang disertai tarian. Setelah itu Ain al-Qudah dan Ahmad al-Gazali sering saling berkirim surat dan mengadakan perjumpaan, sam­pai yang akhir wafat pada 1126 (520 H). Selain itu Ain al-Qudah juga pernah ber­guru pada sufi yang lain, seperti Abu Ab­dillah Muhammad al-Juwaini, pengarang buku Salwt

Ain al-Qudah cukup banyak menulis. Konon ia sudah menulis sejak ia berusia 14 tahun. Tulisan-tulisannya dalam baha­sa Arab dinilai cukup lancar dan indah. Jumlah risalah yang dikarangnya lebih kurang 19 buah, antara lain tentang tata bahasa, ilmu hitung, falsafat, teologi, taf­sir, dan tasawuf. Baru tujuh buah saja dari risalah-risalahnya itu yang sudah dapat dijumpai para ahli, yaitu: Zubdat al-Haqciiq (tentang falsafah dan teologi), Tamhidat (tentang tasawuf), Makti2biit (surat-surat­nya), Syak al-Garib (merupakan pem­belaan diri), Syarih Kalimdt Qisar BdbeJ Tithir (sebuah daftar- istilah tasawuf), Ri­sala-yi Yazdan-Sinakht (mengenai penge­tahuan tentang Tuhan), dan Risala-yi Lawffi (tentang cinta kepada Tuhan).

Selain menulis, Ain Qudah juga banyak berceramah, sejak ia merasa pantas untuk mengajar. Katanya: “Setiap hari aku ber­bicara dalarn tujuh atau delapan kali per­temuan mengenai berbagai soal pengeta­huan. Tidak kurang dari seribu kata aku berbicara dalam setiap pertemuan itu.” Dengan demikian ia memperoleh pengikut dan kemasyhuran, apalagi setelah para pe­ngiktitnya menyebutkan bahwa ia dapat melakukan berbagai perbuatan keramat. Bersamaan dengan itu sebagian ulama me­nuduhnya memiliki sejumlah pandangan yang tidak dapat mereka disetujui; ia di­dakwa menyimpang dari kebenaran, di­penjara, dan akhirnya dihukum mati oleh penguasa.

Dalam SyakwJ al-Garib, yang ditulis­nya pada waktu ia berada di penjara (di Bagdad), ia menyesalkan pihak ulama yang telah berbuat lalim kepadanya dengan memberikan penafsiran yang salah terha­dap ungkapan-ungkapannya yang menjadi sasaran serangan. Ia mempunyai pandang­an bahwa nubuwwat (kenabian) merupa­kan sebuah tahap atau tingkatan (tawr) di balik tingkatan kewalian, sedang tahap kewalian berada di balik tahap akal (pe­mikiran); dengan kata lain ia berpendapat tingkat kenabian lebih tinggi dari tingkat kewalian, dan tingkat kewalian lebih ting­gi .dari tingkat pemikiran akal. Paham be­gini, katanya, telah dicela oleh para pen­dakwanya, karena mereka mengira (meng­artikan) bahwa adanya tahap di balik ta­hap akal berarti menghalangi orang ba­nyak untuk percaya kepada kenabian, Ia, katanya, juga dikecam karena menyatakan bahwa para murid perlu kepada pengajar (mursyid) untuk menuntun rnereka di jalan yang lurus, sehingga tidak mungkin terse­sat. Paham demikian, katanya, ditafsirkan mereka sebagai sejalan dengan paham IsmailiYah, sehingga ia dipandang sebagai penganut paham bahwa imam itu ma:sidm (bersih dari dosa). Menurutnya, itu ada­lah salah tafsir. Ia heran dikatakan berpa­ham Ismailiyah, karena ia dalam tulisan­tulisannya memaparkan keberadaan Tu­han dengan argumen akal, pada hal Is­mailiyah menolak argumen akal itu. Ia juga dikecam karena mengatakan Tuhan sebagai sumber adanya makhluk, kendati di tempat lain ia menegaskan bahwa alam ini diciptakan oleh Tuhan.

istri Nabi dan putri Abu Bakar, dilahirkan kurang lebih sembilan tahun se­belum hijrah Nabi ke Madinah. Aisyah memainkan peranan penting dalam kehi­dupan Nabi, dalam penuturan pribadi dan tingkah laku Nabi dan juga dalam kehi­dupan umat secara umum sepeninggal Na­bi.

Jarak us•a yang panjang antara Nabi dan Aisyah ternyata tak mengurangi hu­bungan akrab mereka sebagai suami istri. Walaupun Aisyah tak memberikan seorang putra pun kepada Nabi, ia termasuk istri yang paling dekat. Keakraban ini terlihat jelas dalam banyaknya hadis yang diriwa­yatkan Aisyah terutama mengenai masa­lah-masalah kewanitaan, hubungan suami istri dan keluarga. Sebagai seorang istri Nabi, Aisyah pun menjadi sarana penjelas­an wahyu Allah. Ini umpamanya terjadi dalam apa yang disebut “Cerita Bohong” (hadrS al-ifk) sewaktu Aisyah dituduh oleh sekelompok orang-orang di Madinah seba­gai telah berhubungan secara tidak sah de­ngan seorang anggota pasukan Nabi seusai pertempuran melawan Bani Mustaliq. Na­bi sendiri tak mempunyai bukti otentik untuk mendukung baik suara pro atau kontra yang kemudian berkembang. Ha­nya dengan wahyu (al-Quran 24: 11-20) maka dedikasi dan reputasi Aisyah bisa di­pulihkan kembali, termasuk kedudukan­nya sebagai istri Nabi yang dekat.

Kendatipun Aisyah bukanlah satu-satu­nya istri yang banyak mengetahui kehi­dupan pribadi Nabi, namun karena pribadi dan latar belakangnya lebih mampu meng­ungkapkan pengalamannya secara lebih berani dan produktif. Sebagai seorang anak sahabat terkemuka Aisyah jelas men­dapatkan pengetahuan tentang ajaran-ajar­an Nabi sejak usianya yang dini. Di sam­ping itu perkawinannya dengan Nabi pada usia remaja menjadikannya murid Nabi yang utuh dalam banyak hal. Bukan ha­nya ia berkesempatan berhadapan dengan Nabi melainkan ia juga menyaksikan ba­gaimana Nabi menghadapi tamu dan me­nerima para sahabat di rumahnya. Penga­laman “dari dalam” inilah yang memberi­kan kredit buat Aisyah dalam menyampai­kan dan inemformulasikan ajaran Nabi.

Sebagai istri Nabi yang cakap dan me­nonjol Aisyah banyak berperan dalam urusan umat. Naiknya Abu Bakar, ayah Aisyah, sebagai khalifah menopang citra Aisyah sebagai istri Nabi dan sekaligus anak khalifah. Pada masa pemerintahan ayahnya dan Umar yang ditunjuk lang­sung oleh Abu Bakar sebagai penggantinya, Aisyah rupanya tak melihat hal yang per­lu ia protes. Tetapi sewaktu timbul kere­sahan terhadap pola kepemimpinan Us­man pada paruh kedua kekhalifahannya, Aisyah pun tak bisa tinggal diam. Kritik yang di atasnamakan istri-istri Nabi (um­mahift al-mu’minin) tersebar jauh sampai ke kota-kota di Irak dan Mesir. Walaupun sulit dipastikan sampai di mana sebenar­nya peranan para istri Nabi dalam hal ini, pemakaian nama mereka memperkuat po­sisi penting yang diberikan kepada mere­ka, terutama Aisyah. Memang upaya Us­man dan kemudian Ali untuk mengubah kebijaksanaan pendulu-pendulu mereka telah menimbulkan kegelisahan di antara tokoh-tokoh penting di Madinah. Aisyah yang tak melihat kebenaran dan justifikasi mengubah kebijaksanaan ayahnya tampil menyokong perlawanan Zubair dan Tal­hah terhadap Ali yang baru naik tahta. Ia pun ikut pergi ke Basrah mencari pendu­kung. Namun tanpa banyak kesulitan Ali mengakhiri perlawanan ini dan mengirim­kan Aisyah untuk tinggal di Madinah sam­pai akhir hayatnya pada 678 (59 H).

Advertisement