Advertisement

Ahmad Hassan dilahirkan di Singapura pada 1887 dari keluarga campuran, ayah berasal dari India dan ibu Indonesia. Ayahnya, Ahmad., adalah seorang penulis, ahli kesusastraan Tamil, dan juga ahli tentang Islam. Dalam bidangnya, ayahnya dapat dipandang relatif produktif. Selain pernan menjadi redaktur Nur-al-Islam, majalah agama dan sastra Tamil, ayahnya telah menulis sejumlah buku dalam bahasa Ta­mil, dan berhasil menerjemahkan bebera­pa buah buku dari bahasa Arab. Adapun ibunya berasal dari keluarga yang sederha­na di Surabaya, namun terkenal sangat ta­at beragama.

Dalam bidang pendidikan formal, se­sungguhnya, Hassan tidak sempat mena­matkan sekolannya untuk tingkat dasar sekalipun. Pada usia yang terlalu dini, “12 tahun, Hassan telah mulai aktif bekerja. Sungguhpun demikian, untuk tetap men­jaga kelangsungan belajarnya, ia mengam­bil pelajaran privat, terutama dalam pela­jaran agama dan bahasa Arab. Langkah ini diambilnya, agar kelak ia dapat memper­luas pengetahuan agamanya dengan cara self-study. Sejak usianya yang ke-23, 1910 sampai dengan 1921, berbagai jenis peker­jaan telah dicobanya, mulai dari seorang guru, pedagang tekstil, juru tulis di kantor urusan haji, sampai anggota redaksi maja­lah Utusan Melayu.

Advertisement

Dari berbagai jenis pekerjaan yang sem­pat dilakukannya itu, agaknya, berwira­swasta dalam bidang pertekstilan lebih menarik bagi dirinya. Hal ini terbukti, ke­tika pada 1921 Hassan pindah ke Suraba­ya dengan maksud mengambil alih pim­pinan sebuah toko tekstil milik paman­nya, Haji Abdul Latif. Masa itu di Suraba­ya sedang berkembang pertentangan pa­ham antara kelompok yang lebih bersema­ngat modernis dengan kelompok yang cenderung tradisionalis, khususnya dalam persoalan-persoalan fikih. Haji Abdul La­tif sendiri, pamannya, termasuk kelompok tradisionalis. Oleh karenanya, dapat dipa­hami mengapa pamannya tidak menyukai pikiran-pikiran yang berorientasi Wahabi­yah. Bahkan, pamannya cenderung meng­halangi Hassan untuk banyak berhubung­an dengan mereka, baik yang bersemangat pikiran modernis maupun yang cenderung kepada pikiran-pikiran Wahabiyah.

Hassan tidak begitu saja dapat menerima pandangan pamannya. Sesungguhnya pertentangan paham antara kalangan yang kuat memegang tradisi denqan kelompok yang bersemangat modernis telah mulai dikenalnya sejak ia masih di Singapura. Selain ayahnya sendiri pun bersimpati ter­hadap pikiran-pikiran Wahabiyah, ia juga telah berkenalan dengan majalah-majalah yang diterbitkan kalangan modernis, mi­salnya al-Imam yang terbit di Singapura dan al-Munir yang diterbitkan di Padang. Bahkan, ia sendiri pernah membaca maja­lah al-Mandr yang diterbitkan Rasyid Ri­da di Mesir, meskipun ketika itu ia belum begitu memahaminya.

Tidak berapa lama setelah tinggal di Su­rabaya, Hassan pun mengunjungi Ban­dung. Sebagaimana ia tiba di Surabaya un­tuk urusan pertekstilan, kali ini pun da­tang ke Bandung untuk urusan yang sama, bahkan untuk mengembangkannya lebih jauh. Ia bermaksud mempelajari teknik pertenunan di lembaga tekstil pemerintah untuk dipraktekkannya di perusahaan tekstil yang hendak didirikannya di Sura­baya. Selama di Bandung Hassan tinggal di tempat Haji Muhammad Yunus, salah se­orang pendiri Persis. Tanpa disengaja, Has­san telah berada di pusat kegiatan organi­sasi keagamaan. Potensi untuk memperda­lam dan mengembangkan persoalan keaga­maan yang telah membenih dalam dirinya sejak di Singapura, kini menemukan tem­pat persemaian yang memungkinkan. Akhirnya Hassan memutuskan untuk ting­gal di Bandung, di samping untuk mengem­bangkan usahanya di bidang pertekstilan, juga sekaligus untuk mengembangkan pi­kiran-pilciran keagamaannya yang memang cenderung bersemangat modernis.

Usaha yang sudah dirintisnya sejak ia di Singapura mengalami kebangkrutan. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan bidang usahanya, dan selu­ruh waktu yang dimilikinya dicurahkan untuk mengembangkan pemahaman dan pemikiran keagamaan organisasi Persis. Karena seluruh waktunya, dapat dikata­kan, tercurahkan untuk urusan Persis yang berkembang di Bandung ini, akhirnya Has­san terkenal dengan sebutan “Ahmad Has­san Bandung”.

Advertisement