Advertisement

Ahmad bin ldris atau lengkapnya Ah­mad bin Idris bin Muhammad bin Ali ada­lah pendiri tarekat Idrisiyah. Ia seorang sa­yid (turunan Nabi) ya.rig lahir dari keluar­ga yang saleh di Maisur, dekat kota Fez, Marokko, pada 1760 (1173 H), dan wafat di Sabya, yang terletak dalam wilayah `Asir (Saudia Arabia) pada 1837 (1253 H).

Setelah mempelajari al-Quran, Hadis, mu Tafsir, Ilmu Akidah, dan Ilmu Fikih, pada masa mudanya, ia kemudian diteri­ma menjadi murid dan anggota tarekat, yang dipimpin oleh Sayid Abu al-Mawa­hib Abdul-‘Wahhab at-Tazi (termasuk tare­kat Khadiriyah). Gurunya yang lain dalam tarekat adalah Abu al-Qasim al-Wazir. Se­telah berhasil menjalani pendidikan tare­kat itu, ia memperoleh ijazah atau izin un­tuk menjadi pengajar atau pendiri tarekat cabang.

Advertisement

Tidak lama sesudah menjadi pengajar dan penentang praktek pengkultusan wali, yang terdapat di Marokko, Ahmad bin Id­ris meninggalkan kawasan itu dan tidak pernah balik lagi. Pada 1799 (1213 H), ia menunaikan ibadat haji dan sesudah itu menetap di Kairo untuk beberapa lama dalam rangka memperdalam atau memper­luas pengetahuan agamanya. Selanjutnya ia pergi ke desa Zainiyah, di kawasan Qina (Mesir) dan berdomisili di sana. Pada 1818 (1233 H), ia kembali lagi ke Mekah dan menetap di kota suci itu selama lebih ku­rang sembilan tahun.

Ahmad bin Idris digambarkan orang, berhasil menghimpun dan menguasai ilmu lahir (syariat) dan ilmu batin (tasawuf atau tarekat), memiliki kemasyhuran da­lam ilmu al-Quran dan ilmu Hadis, dan memiliki ilmu yang diperolehnya melalui kasyf. Dengan kapasitas rohaniah, kecer­dasan‹, kefasihan, dan kepribadiannya yang menonjol, ia berhasil menarik ba­nyak pengikut di Mekah dan dengan de­mikian berdirilah tarekat, yang dihubung­kan kepada nama ayahnya, Idris; itulah ta­rekat Idrisiyah yang dibangunnya pada da­sawarsa ketiga abad ke-19.

Ahmad bin Idris juga digambarkan orang, sangat teguh berpegang pada kitab suci al-Quran dan pada Sunnah Nabi. Diri­wayatkan bahwa ia pernah ditanya oleh sejumlah ulama mengenai persoalan-per­soalan yang diperselisihkan, dan ia mam­pu memberikan penjelasan-penjelasan yang mengagumkan. Diriwayatkan juga bahwa cukup populer di kalangan masya­rakat di Mekah, Madinah, dan juga Ya­man, bahwa ia, bila ditanya orang tentang ayat al-Quran, melihat telapak tangannya, kemudian segera menafsirkan ayat terse­but dengan ilmu laduni yang dimilikinya; dan bila ditanya orang tentang sesuatu ha­dis, ia melihat punggung tangannya dan segera menjelaskan rahasia-rahasia Ilahi dan pengetahuan ilhami, yang mence­ngangkan ahl an-naql dan ahl Di­gambarkan juga bahwa para ulama yang masih bimbang menerima keterangan-ke­terangannya tentang agama, berdoa me­mohon petunjuk dari Allah, dan kemu­dian tertidur; di antara mereka ada yang bermimpi berjumpa dengan Nabi dan ber­tanya tentang pendapat-pendapat Ahmad bin Idris; dikatakan bahwa Nabi menja­wab: “Ia itu hanya berbicara dengan sun­nahku.”

Sebagai tokoh tarekat yang juga ahli fi­kih, Ahmad bin Idris memiliki semangat pemurnian (41Uh). Ia berupaya memurni­kan kehidupan tarekat dari praktek-prak­tek bid’ah, seperti pengkultusan wali atau pengkultusan kuburannya, karena prak­tek demikian, menurutnya, telah menja­tuhkan nama atau nilai tarekat. Menurut­nya, amalan-amalan dalam tarekat harus­lah mengikuti jalan yang telah digariskan oleh al-Quran dan Sunnah Nabi. Aspek ba­tin dan aspek lahir dari Islam tidak boleh bertentangan; keduanya harus berada da­lam satu garis lurus. Ia tidak mendorong para pengikutnya untuk bersikap zuhud secara berlebihan dan juga tidak mendo­rong kepada perbuatan uzlah (menyendi­ri), karena praktek itu menurutnya hanya bermanfaat bagi pengembangan diri sendi­ri, tapi tidak bermanfaat bagi tujuan yang lebih tinggi, yaitu terbentuknya satu je­maah umat Islam yang bersatu dalam ikat­an Islam.

Tarekat Idrisiyah, yang dibangun oleh Ahmad bin Idris, lebih menekankan pem­binaan ibadat dan moral. Setiap perintah agama yang tertera dalam al-Quran dan

Sunnah haruslah dikerjakan, dan setiap perbuatan yang haram atau tercela harus­lah dihindari. Ia menolak ajaran tasawuf atau tarekat yang bertujuan tercapainya persatuan mistik dengan Allah, dan juga menolak ajaran-ajaran yang bersifat raha­sia (esoterik), yang sering terdapat dalam berbagai tarekat. Silsilah tarekat, yang sa­ngat dipentingkan dalam tarekat pada umumnya, ia nilai tidak penting, karena menurutnya roh Nabi dapat memberikan izin secara langsung kepada siapa yang di­kehendakinya untuk membangun atau mengajarkan suatu tarekat. Tujuan ter­tinggi dalam latihan-latihan tarekat tidak lain dari makrifat dan perjumpaan atau persatuan secara mistik dengan roh Nabi Muhammad. Melalui perjumpaan itu di­peroleh macam-macam bimbingan dari Nabi Muhammad.

Permusuhan dari ulama-ulama yang ti­dak sepaham dengannya, memaksanya pin­dah dari Mekah ke Zabid pada 1827 (1243 H), dan kemudian ke Sabya. Ia ber­ada di sana sampai wafat, dalam perlin­dungan kaum Wahabi, yang bersimpati pa­da ajaran moral dan pemurniannya.

Para muridnya yang cukup banyak, se­perti Abdur-Rahman (mufti Zabid), Mu­hammad Abid as-Sindi (syekh di Madi­nah), Muhamad as-Sanusi (pendiri tarekat Sanusiyah), Muhammad al-Majzub as-Sa­wakini (ulama terkemuka di Sudan), Ibra­him ar-Rasyid, Khalifahnya, berhasil me­nyebarluaskan tarekat itu di Arabia, Me­sir, Sudan, dan Libia. Tarekat ini juga ma­suk ke Jawa Barat sejak 1930-an melalui Syekh Abdul Fattah dari Tasikmalaya.

Advertisement