Advertisement

Ahmad bin Hambal adalah seorang mujtahid pendiri mazhab dan ahli hadis kenamaan yang dijuluki dengan gelar Imam Ahlus Sunnah. Nama lengkapnya Ahmad ibnu Muhammad ibnu Hambal asy-SyRba­ni al-Maruzi, lahir di kota Bagdad pada 164 H dari keluar ga Arab. Nasabnya bertemu dengan Muhammad Rasulullah.pada Nizar ibnu Ma’ad ibnu Adnan. Ayahnya Muham­mad ibnu Hambal yang terkenal sebagai seorang pejuang meninggal dunia pada waktu Ahmad bin Hambal masih kec.il. Sepeninggal ayahnya ia dipelihara oleh ibunya, sedangkan ayahnya tidak me­ninggalkan apa-apa kecuali sebuah rumah berukuran kecil dan sederhana. Untuk me­menuhi kebutuhan hidupnya beserta ibu­nya, sambil belajar ia bekerja mencari nafkah.

Anak yang tergolong miskin ini sejak kecil telah hafal al-Quran. Ia terkenal sung­guh2sungguh dalam mempelajari sesuatu cabang pengetahuan. Dari Abu Yusuf ibnu Ibrahim, seorang hakim dan ahli hukum, sahabat dan murid Abu Hanifah, dan dari imam mujtahid, pendiri mazhab, Muham­mad ibnu Idris asy-Syafri ia sempat bergu­ru secara mendalam di bidang ilmu fikih. Namun suasana lingkungan membuat ia cenderung untuk lebih mendalami ilmu­ilmu hadis. Ia hidup pada pertengahan ma­sa dinasti Abbasiyah, di saat aliran Mu`tazi­lah memperoleh sukses besar menjadi mazhab resmi negara pada masa al-Mak­mun, al-Mu`tasim dan al-Wasiq. Aliran pe­mahaman agama secara rasional Mu`tazi­lah ini telah mendapat tanggapan serius dari berbagai kalangan, dan telah menimbulkan kelompok pro dan kontra. Ahmad bin Hambal adalah pemimpin aliran tradi­sional yang paling keras menentangnya. Untuk itu ia secara sungguh-sungguh men­dalami ilmu-ilmu hadis. Di Bagdad ia ber­guru antara lain kepada Syekh Hasyim ibnu Basyir ibnu Abi Hazim al-Wasiti, se­orang tokoh ahli hadis di negeri itu. Ke­mudian ia mengadakan perlawatan ilrniah ke beberapa negeri, seperti Mekah al-Mu­karramah, Madinah, Syam dan Kufah. Di negeri-negeri yang dikunjunginya itu ia sempat lebih mendalami ilmu-ilmu hadis, sehingga Imam yang terkenal serius, tidak senang bersenda gurau ini, walaupun ia termasuk golongan ulama-ulama mujtahi­din pendiri salah satu mazhab, lebih popu­ler disebut sebagai al-Muhaddis (ahli ha­dis). Ia sangat teguh memegang hadis. Dan tidak jarang terbukti ia memakai hadis-ha­dis daif selama kedaifannya tidak disebab­kan kebohongan perawinya, pada hal-hal yang menyangkut keutamaan amal, atau yang tidak menyangkut hukum. Baginya hadis yang serupa ini pemakaiannya lebih baik daripada semata-mata pemahaman pemikiran. Ia sangat ketat dalam masalah ibadat dan banyak terbuka dalam bidang muam alat.

Advertisement

Imam kaum propagandis gerakan kem­bali kepada sumber-sumber utama al-Qur­an dan as-Sunnah secara ketat yang mun­cul pada pertengahan abad ke-3 H ini ti­dak sempat menuliskan pemikiran-pemi­kirannya dan fatwa-fatwanya di bidang fi­kih di masa hidupnya. Ia lebih tertarik menulis hadis. Kitabnya yang terkenal di bidang hadis ialah al-Musnad. Kitab ini memuat sebanyak 40.000 buah hadis se­bagai hasil seleksi dari r700.000 buah hadis yang dikuasainya. Banyak ulama hadis ter­kenal yang meriwayatkan hadis darinya, seperti Imam Bukhari dan Imarn Muslim. Bahkan di antara gurunya ada pula yang merawikan hadis daripadanya, seperti Imam Syafi`i dan Waki. Bahkan Imam Syafi`i berpegang kepada penilaian Ahmad bin Hambal tentang kesahihan sesuatu ha­dis.

Pikiran-pikiran dan fatwa-fatwanya di bidang fikih yang tidak sempat dituliskan­nya di masa hidupnya, telah berhasil di­ himpun oleh sebagian sahabat dan murid­muridnya. Di. antara yang berhasil nieng­himpunnya adalah salah seorang pengikut­nya, Ahmad ibnu Muhammad al-Kahalal yang menulis kitab al-Jami, al-KabTr da­lam dua puluh jilid yang merupakan kum­pulan dari pemikiran-pemikiran dan fat­wa-fatwa Ahmad bin Hambal. Kitab lain dalam mazhabnya yang sangat populer sampai saat ini ialah kitab al-Mugni oleh Ibnu Qudamah (1146-1223/541-620 H) sebagai syarah atau ulasan dari kitab al­Mukhtasar oleh al-Khiraqi (w. 334 H). Bu­ku yang terdiri dari beberapa jilid ini me­rupakan kitab terbesar dan memakai me­tode perbandingan mazhab dan tarjih (me­milih yang terkuat).

Pengaruh mazhabnya, kecuali setelah abad ke-4, tidak keluar dari batas-batas Irak. Ia mengalir ke Mesir setelah abad ke­7 H, walaupun kelihatan tidak begitu ber­pengaruh, dan pengikutnya juga masih ba­nyak didapati di Siria. Sekarang mazhab Ahmad bin Hambal berpengaruh dan menjadi mazhab resmi di Kerajaan Saudi Arabia.

Imam mujtahid yang, terkenal tidak su­ka hidup mewah ini diriwayatkan sebagai seorang yang sangat gigih dalam memper­tahankan sesuatu pendirian. Aliran Mu`ta­zilah, seperti dikemukakan di atas,- adalah sasaran utama bagi kecaman kerasnya, ter­utama sikap kerasnya menolak khalq al­Qurdn (al-Quran adalah makhluk). Sikap­nya itu mengakibatkan ia mendapat kesu­litan pada periode al-Makmun, al-Mu`ta­sim dan al-Vrasiq. Aliran Mu`tazilah yang menjadi mazhab resmi negara waktu itu walaupun banyak ulama-ulama yang meng­ikutinya namun Ahmad bin Hambal se­bagai salah seorang ulama di waktu itu dengan tegas dan keras menolaknya bah­kan dengan berani mengecam al-Makmun atas dukungannya terhadap aliran Mu`ta­zilah. Akibat sikap kerasnya ini berulang kali ia ditangkap dan dipenjarakan sampai masa al-Mutawakkil memegang jabatan khalifah. Dan ia wafat pada 241 H di Bag­dad, tanah tempat kelahirannya.

 

Advertisement