Advertisement

Adiwijoyo (Joko Tingkir) adalah pendiri Kerajaan Pajang (1568-1586). Sebaserta menggerakkan kesadaran politik ma­syarakat dunia Islam dari cengkeraman kolonialisme, Afgani bersama Muhammad Abduh menerbitkan jurnal berbahasa Arab, al-Urwat al-Wu4(7, di Paris. Jurnal tersebut terbit pertama-kali pada 13 Ma­ret 1884 (Jumadilawal 1301 H), dan ter­akhir 16 Oktober 1884 (26 Zulhijjah 1301 H). Selama delapan bulan al-Urwat al-WIthcirt hanya sempat terbit 18 nomor, Karena semangat pembaharuan pemikiran dan terutama, pembebasan politik, jurnal ini dilarang beredar, khususnya, di negara­negara Islam yang berada di bawah kekua­saan pemerintah kolonial Inggris.

Pada 1889, Afgani diundang ke Persia untuk suatu urusan persengketaan politik antara Persia dengan Rusia. Bersamaan dengan itu, Afgani melihat ketidakberes­an politik Dalam Negeri Persia sendiri. Ka­renanya, ia menganjurkan perombakan sis­tem politiknya yang masih otokratis. Pada 1892, undangan yang sama datang dari penguasa Turki, Sultan Abdul-Hamid, un­tuk kepentingan politik Islam Istambul dalam menghadapi kekuatan Eropa. Me­nurut Afgani, sebelum menangani politik Luar Negeri harus dibenahi dahulu sistem politik Dalam Negerinya. Rupanya, pan­dangan politik Afgani yang sangat demo­kratis tidak bertemu dengan kepentingan politik Sultan yang sarigat otokratis. Sejak itu, sampai akhir hayatnya, 9 Maret 1897, Afgani dicabut izin ke luar negerinya.

Advertisement

Afgani adalah seorang tokoh pembaha­ruan politik. Ia bukan saja menentang ko­lonia1isme politik Barat, melainkan juga sistem politik otokratis yang dianut nega­ra-negara Islam. Menurutnya, untuk mela­wan kekuatan asing masyarakat dunia Is­lam terlebih dahulu harus dibebaskan dari belenggu tradisionalisme politik dan bu­daya, termasuk sistem pemahaman dan sikap keberagamaannya. Kemudian, ma­syarakat dunia Islam harus menyatukan pandangan idiologi politiknya, yang terke­nal dengan sebutan “Pan-Islamisme”. Ru­panya, gagasan Pan-Islamisme Afgani ti­dak berhasil.

Advertisement