Advertisement

Abu Jalar al- Mansur, bin Muham­mad bin Ali, khalifah Abbasiyah kedua yang memerintah pada 754-775 (186­158 H). Lahir pada 714 (95 H) dari seorang ibu yang bersuku bangsa Barbar. Sebagai­mana saudara-saudaranya Mansur lahir di Humaimah, sebuah desa di Palestina. Lo­kasi ini telah dijadikan tempat mengungsi oleh kakek Mansur. Dan sini pula gerakan politik Abbasiyah (dakwah Abbasiyah) pertama kali dicetuskan dan untuk sete­rusnya diorganisir. Mansur sendiri keliha­tannya cukup aktif berpartisipasi mene­gakkan gerakan Abbasiyah terutama seba­gai “orang lapangan”. Melihat tahun ke­lahirannya, Mansur mulai terjun secara aktif dalam kancah perjuangan melawan penguasa Umayyah pada masa akhir dinas­ti Umayyah. Pertama kali nama Mansur muncul justru berkenan dengan partisipa­sinya dalam pemberontakan yang dilan­carkan Ibnu Mu`awiyah pada 744 (127 H) di kawasan Iran. Keikutsertaan Mansur da­lam gerakan semacam ini tentunya sangat menguntungkan bagi terciptanya iklim yang menunjang gerakan Abbasiyah yang sedang diorganisir. Memang partisipasi se­perti ini dapat memberikan informasi dan gambaran lebih baik tentang potensi, ke­kuatan dan popularitas pihak-pihak yang melawan kekuasaan Umayyah. Karenanya tak terlalu mengherankan jika gerakan Abbasiyah tergesa-gesa mengadakan per­lawanan terbuka terhadap penguasa Umay­yah. Mansur baru terlihat aktif kembali setelah pasukan Abbasiyah yang keba­nyakan terdiri dari penduduk Khurasan menyerang Irak. Ia ikut memimpin pasu­kan menyerang tentara Umayyah di Wasit. Bagaimanapun terpilihnya Mansur sebagai  khalifah untuk menggantikan saudaranya merupakan bukti bahwa ia telah dianggap mampu memimpin pemerintahan Bani Abbas yang masih baru.

Mansur berhasil memantapkan kekuasa­an Bani Abbas berkat kebijaksanaan, kerja keras, kekuatan dan dukungan yang dimi­likinya. Kendati Mansur telah ditunjuk as-Saffah sebagai pengganti, ia juga men­dapat dukungan penuh dan pasukan Khu­rasan dan seluruh pemuka Bani Abbas, ke­cuali seorang pamannya yang bernama Abdullah bin Ali. Abdullah kelihatannya melihat kebijaksanaan khalifah yang cen­tripetal akan merugikan kepentingan se­bagai komandan di Mesopotamia yang berhadapan langsung dengan daerah Bi­zantium. Ancaman pemberontakan ini di­pandang cukup serius, sehingga Mansur perlu mengirimkan Abu Muslim untuk menumpasnya. Ditumpasnya pemberon­takan yang dipimpin Abdullah ini menan­dai semakin kokohnya kekuasaan Mansur, minimal kekompakan diantara anggota ke­luarga Bani Abbas. Hal ini tidak berarti bahwa pemerintahan Mansur terbebas dari krisis dan pemberontakan.

Advertisement

Berkat keteguhan dan dukungan yang dimenangkannyalah, Mansur akhirnya ber­hasil mengokohkan pemerintahannya. Iro­nisnya ia harus melenyapkan beberapa fi­gur yang telah berperan besar dalam memenangkan gerakan Abbasiyah dan membina kekuasaannya. Upaya Mansur untuk membangun sebuall pemerintahan yang sentralis telah menghadapkannya de­ngan tokoh-tokoh seperti Abu Muslim, Abdullah bin Ali, dan An-Nafs az-Zakiyah. Nama besar yang dimiliki Abu Muslim tidak diragukan merupakan ganjalan ter­hadap khalifah untuk merealisir ambisinya. Karenanya sewaktu Abu Muslim terang­terangan menentang perintah khalifah un­tuk menyerahkan sebagian hasil rampasan perang melawan Abdullah bin Ali, Mansur bertekad melenyapkan Abu Muslim. Me­lihat pengaruh Abu Muslim atas pasukan Khurasan, khalifah harus mengambil jalan pembunuhan. Akhirnya Abu Muslim di­bunuh sewaktu dia memenuhi undangan khalifah ke istana. Di samping itu keresah­an di antara keturunan Ali terhadap kepe­ mimpinan Bani Abbas mencapai klimaks­nya dengan pemberontakan yang dikobar­kan Nafs Zakiyah dan saudaranya Ibrahim masing-masing di Hijaz dan Basrah pada 762 (145 H). Dari segi kekuatan militer Mansur tidak banyak menghadapi kesulit­an, terbukti dan keberhasilan komandan­nya Isa bin Musa dalam waktu singkat menghancurkan pemberontakan tersebut. Memang gagalnya perlawanan fisik Nafs Zakiyah ini menandai corak barn dalam konsolidasi kekuatan-kekuatan Ali dan para pendukung mereka. Jalan damailah yang akhirnya berkembang sehingga me­lahirkan doktrin-doktrin Syi`ah yang baru dan terperinci.

Dalam proses integrasi dan asimilasi yang terns berkembang di bawah Mansur, ternyata timbul berbagai ekses. Dari satu segi dibunuhnya tokoh-tokoh seperti Abu Salamah al-Khallal, Abu Muslim dan Ibnu al-Muqaffa (w. 789/141 H) telah menim­bulkan keresahan di kalangan mawali. Di segi lain semakin berpengaruhnya budaya dan figur-figur mawali dalam pemerintah­an telah memaksa khalifah untuk sewaktu­waktu mengambil tindakan drastis ter­hadap individu-individu mawali. Hanya dengan politik dan tindakan yang selalu memperhitungkan perimbangan antara berbagai unsur tersebut, Mansur dan para penerusnya berhasil mengokohkan fondasi kekuasaan dan kemajuan kekhalifahan.

Keteguhan dan keberhasilan Mansur un­tuk memerintah dibuktikannya dengan pembangunan kota Bagdad. Semenjak ber­dirinya khilafah Abbasiyah pada 749 (132 H) berbagai upaya telah dirintis untuk memberikan ciri khas dan kemandirian Bani Abbas, di antaranya melepaskan diri dan sentra-sentra lama seperti Kufah. Maka berdiamlah as-Saffah, khalifah per­tama, dan Mansur untuk beberapa tahun di Hasyimiyah dekat Kufah. Kelihatannya Mansur tidak puas dengan pemerintahan berada di seputar Kufah maka dia memu­tuskan untuk membangun ibukota barn atas petunjuk para ahli seperti Nawbakhti dan Khalid bin Barmak. Pilihan jatuh pada Bagdad yang dibangun antara 762-763 (145-146 H). Kendati beberapa khalifah berusaha membangun istana di luar Bagdad pada prinsipnya Bagdad tetap berta­han sebagai ibukota Khilafah sampai ten­tara Mongol menghancurkannya pada 1258 (656 H).

 

Advertisement