Advertisement

Abu Hamid al-Gazali, (selanjutnya di­sebut saja adalah ulama yang amat berpengaruh dan diagungkan di du­nia Islam. Gelarnya antara lain adalah Huj­fat alIskim, yang mengandung arti: bukti kebenaran Islam. Ia dilahirkan di desa Ga­zaleh, dekat Tus, Iran Utara, pada 1058 (450 H). Setelah dididik dalam lingkungan orang tua dan guru yang zahid pada masa kecil, ia belajar pada madrasah Nizamiyah di Tus, Jurjan, dan Nisyapur. Di Nisya­pur inilah ia, pada usia 20-28 tahun, ber­guru dan bergaul dengan Imam al-Juwaini. Selanjutnya ia berada di Mu’askar (1085­90/478 -83 H) dan Bagdad (1090-5/ 483-8 H). Di Bagdad inilah ia menjadi pe­mimpin Madrasah Nizamiyah dan guru be­sar yang amat disegani. Didahului oleh konflik batin yang parah (karena sama kuatnya tarikan untuk tetap berada di Bagdad dengan dorongan untuk mening­galkannya) dan sakit selama enam bulan, bahkan tidak bisa bicara, ia tinggalkan ko­ta itu dan berkhalwat menjalani kehidup­an tasawuf selama lebih kurang 10 tahun di Damaskus, Yerusalem, Mekah, Madi­nah, dan Tus. Setelah itu ia mengajar lagi selama dua tahun di Nisyapur, kemudian kembali ke Tus dan mendirikan madra­sah untuk para calon ahli fikih serta khan­kah untuk para calon sufi. Di Thus inilah ia wafat dalam usia 55 tahun (1111/505 H).

Al-Gazali selain mahir berbicara juga amat produktif menulis. Karya tulisnya relatif banyak, lebih dari 228 buku atau risalah, dalam berbagai lapangan: tasawuf, teologi, falsafat, logika, fikih, dan lain-lain. Sayang sekali barn 54 buah judul saja yang sudah dijumpai, sedang yang lain be­lum. Karya tulisnya yang paling terkenal luas adalah Ihylc”Uirtm adDin, kitab yang mengupas — berdasarkan al-Quran dan Sunnah serta dengan semangat tasa­wuf — masalah ilmu, akidah, ibadat, mua­malat, keajaiban hati, etika, dan latihan jiwa. Karya tulisnya yang khusus menye­rang falsafat bernama Tahcifut alFaldsifat (Tidak Konsistennya para Filosof).

Advertisement

Sebagai ulama yang mengerti falsafat, al-Gazali mengingatkan para ulama agar ti­dak menyerang falsafat secara membabi buta, sebab hal itu akan merugikan agama. Menurutnya, falsafat itu terdiri dan enam cabang, yaitu: matematika, logika, fisika, politik, etika, dan ketuhanan. Tiga cabang pertama, katanya, tidak ada sangkut-paut­nya dengan agama, dan karena itu tidak perlu diserang atau diingkari. Sedang poli­tik dan etika tidak lain dan apa yang ber­asal dari nabi dan sufi, yang kemudian di­manfaatkan oleh para filosof. Hanya pada cabang ketuhanan dijumpai pendapat-pen­dapat yang menurut pemahamannya, per­lu disalahkan.

Ada 20 pendirian para filosof yang di­kupas dan diserang oleh al-Gazali, tiga di antaranya, yaitu: pendirian bahwa alam qadim (tak bermula), Tuhan tidak menge­tahui juziyyat (perincian; kasus

dan tidak ada kebangkitan jasmani di hari Kiamat, dikafirkannya. Serangan al-Gazali ini telah dibalas oleh Ibnu Rusyd dengan memaparkan kelemahan argumen atau kesalahpahaman al-Gazali. Dengan mengikuti penjelasan Ibnu Rusyd, orang akan merasa bahwa pendirian para filosof muslim tidak pantas untuk dikafirkan.

Kendati menyerang para filosof, al-Ga­zali sebenarnya banyak memanfaatkan tu­lisan-tulisan mereka, atau mengembang­kannya agar sesuai dengan kecenderungan­nya. Tentang akal, misalnya, al-Gazali menjelaskan bahwa akal adalah daya yang membedakan jiwa manusia dari jiwa bina­tang. Akal itu berfungsi untuk menangkap pengetahuan, baik teoritis maupun prak­tis. Ia mempunyai empat tingkatan. Ting­kat pertama, seperti yang dimiliki setiap bayi, masih merupakan potensi dan dise­butnya akal garizi (akal instink/bawaan). Tingkat kedua, yang dimiliki oleh anak­anak mumayyiz, adalah akal yang sudah memiliki pengetahuan claruri (aksioma), seperti pengetahuan tentang lebih banyak­nya empat dari satu akal ini disebutnya akal zahiri. Tingkat ketiga adalah akal yang sudah memiliki pengetahuan yang di­peroleh (a1`uliim almustafcidat) melalui pengalaman, baik teoritis (benar-salah) maupun praktis (baik-buruk). Tingkat ke­empat adalah akal yang mampu mengen­dalikan nafsu-nafsu badan berdasarkan pe­ngetahuan yang sudah diperoleh itu.

 

Advertisement