Advertisement

Abu al-Barakat al-Bagdadi, selan­jutnya disebut Abu al-Barakat, adalah se­orang keturunan Yahudi Bagdad yang meninggal pada 548 H. Abu al-Barakat di­kenal sebagai seorang dokter dan filosof Yahudi yang terkenal. Menjelang akhir hidupnya dia masuk Islam setelah sekian lama memeluk agama Yahudi. Sebagaise­orang dokter dia sangat terkenal dengan kepandaiannya, sehingga dianggap sebagai terpandai dari kalangan Yahudi, sejajar de­ngan Ibnu Sa`id dokter dari kalangan Kristen dan Ibnu al-Husein al-Asfahani dokter dari kalangan Islam. Ketiga dokter ini dianggap sebagai dokter terpandai yang mewakili tiga agama besar tersebut pada masa itu.

Tentang masuknya Abu al-Barakat ke dalam Islam, ada beberapa versi yang menggambarkannya secara berbeda. Dalam salah satu versi dikatakan bahwa ketika Abu al-Barakat pulang ke Irak dengan membawa banyak hadiah dari Sultan Sal­juk yang berhasil disembuhkannya, dia disindir bahwa walaupun sebagai dokter yang pandai dan terkenal, namun tetap saja dia dipandang rendah dalam masya­rakat, karena dia seorang Yahudi. Menge­tahui hal ini, Abu al-Barakat menyadari bahwa dia akan dihargai masyarakat bila masuk Islam. Oleh karena itu kemudian dengan tidak ragu-ragu lagi dia masuk Islam. Dalam versi yang lain dikatakan bahwa Islamnya Abu al-Barakat dikarena­kan rasa takutnya ketika dia tabu bahwa istri Sultan Mahmud, yang mengenalnya dengan baik tentang keahliannya dalam bidang kedokteran, meninggal karena sa­kit. Ketakutannya ini didasarkan pada kenyataan bahwa dia seorang dokter, teta­pi tidak dapat menolong permaisuri dari kematian. Kemudian Abu al-Barakat ma­suk Islam untuk menghindari hukuman dari Sultan.

Advertisement

Karangannya yang dikenal adalah buku­nya yang diberi judul Buku ini berisi pemikiran-pemikiran Abu al-Ba­rakat tentang matematika, logika, ilmu alam dan ketuhanan. Buku ini juga berisi pandangan-pandangannya dalam falsafat. Pemikirannya dalam falsafat menyangkut sekitar alam, jiwa dan ketuhanan.

Sebagai .seorang filosof, pemikiran-pe­mikiran Abu al-Barakat terutama berkisar tentang alam, jiwa dan ketuhanan. Menge­nai alam Abu al-Barakat berpendapat bah­wa alam ini tidak qadim (tidak bermula) tetapi hadis (bare). Pendapatnya ini dida­sarkan pada pemikirannya bahwa setiap fa7/ (yang berbuat) itu adalah ‘Mat (se­bab) dari hasil perbuatannya, dan ‘Mat tidak semuanya termasuk sebagai

Selanjutnya hanya Tuhanlah yang disebut sebagai MI yang hakiki, sedangkan benda­benda lain walaupun merupakan dari benda-benda lainnya bukanlah merupakan fall yang sebenarnya. Dengan demikian jika suatu maujud yang bersumber dari Tuhan itu juga merupakan ?Hat dari ben­da-benda lainnya yang keluar atau terpan­car, namun sesungguhnya maujud itu bu­kan merupakan Mat yang hakiki. Sehubu­ngan dengan hal itu Abu al-Barakat mene­kankan bahwa Yang Satu yang tidak ter­susun, tidak mempunyai bagian dan tidak ada hal-hal lain yang menyamai-Nya ada­lah satu atau esa dari segala seginya. Al­Mabda’ alAwwal (Sebab Pertama) hanya satu dan bukannya banyak. Sesuatu yang pertama itu adalah yang wajib wujudnya karena zatnya sendiri. Oleh karena itu selain Yang Satu ini adalah barn, karena bukan pertama.

Dalam masalah jiwa, Abu al-Barakat mempunyai pendapat yang berbeda dari para filosof lain. Abu al-Barakat berpenda­pat bahwa para filosof menganggap bahwa jiwa yang berpikir (annafs annatiqat) yaitu jiwa manusia adalah akal hayulani dan akal potensial. Jiwa ini akan menjadi akal aktual (alaql bi alfil) ketika berfi­kir dan menangkap gambaran-gambaran dari benda. Jiwa yang ‘seperti ini adalah penggerak badan. Sedang Abu al-Barakat berpendapat bahwa jiwa itu adalah, seper­ti akal, magi (substansi) karena proses berpikirnya dan pengetahuannya. Bila akal itu harus ada terlebih dahulu sebelum ma`qt71 (obyek akal), maka mak& juga ha­rus ada lebih dahulu dari hal (keadaan).

Dan jiwa ini akan berlainan sama sekui dari hayula jasmani.

Dalam membicarakan Tuhan, khusus­nya adanya Tuhan, Abu al-Barakat mem­punyai pendapat sendiri yang berbeda dari pendapat para filosof lainnya. Pendapat­pendapatnya ini didasarkan pada penda­pat para mutakallimin (teolog Islam) khu­susnya al-Gazali. Abu al-Barakat tidak se­pendapat dengan para filosof atau muta­kallimin yang mengajukan dalil alharakat sebagai pembuktian adanya Tuhan. Dia dalam hal ini mengemukakan dalil-dalil­nya sendiri. Di antaranya adalah dari segi ma`lul (efek) dan ‘Mat (sebab), yang pada akhirnya akan berakhir pada adanya ‘Mat yang pertama yang tidak mempunyai bagi wujudnya. ‘Mat yang pertama itulah Tuhan.

Advertisement