MENDEFINISIKAN SEBUAH RUMAH TANGGA

11 views

Ciri yang mendefinisikan sebuah rumah tangga adalah adanya ruang kehidupan yang secara khusus digunakan hanya oleh rumah tangga itu. Akan tetapi, pada masyarakat tertentu ada ikatan- ikatan lain yang menyatukan anggota suatu keluarga, seperti kegiatan produksi, makan bersama dalam suatu kesempatan istimewa, pembagian tanggung jawab atas sosialisasi anggota yang masih muda dan kesejahteraan segenap anggota keluarga, bahkan ada rumah tangga yang berfungsi sebagai inti produksi. Rumah tangga menjadi lebih kompleks dan besar manakala semua fungsi ini disandang sekaligus. Jika lebih dari satu fungsi itu tidak dijalankan, sebagaimana terlihat pada kurun akhir abad sembilanbelas, ikatan antara anggota keluarga pun mengendor dan menjadi lebih mungkin untuk tinggal dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil atau bahkan seorang diri. Seiring dengan meningkatnya jumlah rumah tangga sejak 1960-an, kebiasaan makan bersama justru kian sulit dipertahankan. Di Inggris, definisi rumah tangga sebagai suatu unit koresidensi dan house-keeping telah diganti sejak tahun 1983 dengan definisi yang lebih longgar yang mengacu kepada co-residensi dan kombinasinya dengan makan bersama atau akomodasi kehidupan bersama. Pada 1991, 27 persen dari semua rumah tangga di Inggris hanya terdiri dari satu orang, 11 persen dari populasi hidup seorang diri dan rata-rata rumah tangga hanya terdiri dari 2,5 orang.

Rumah tangga yang kecil seperti itu bukan hal yang aneh dalam masyarakat negara maju. Sebagai contoh, rata-rata ukuran rumah tangga yang lebih dari tiga orang hanya ada di tiga negara Eropa Barat di awal 1990-an: Portugal, Spanyol dan Republik Irlandia (Begeot etal. 1993). Dahulu jumlah anggota rumah tangga biasanya memang besar. Di masa pra-industri di Inggris, rata-rata anggota rumah tangga adalah 4,7, dan kurang dari 6 persen saja rumah tangga yang anggotanya hanya satu. Rumah tangga yang agak besar masih terdapat di pedesaan Denmark pada 1787 dan Norwegia pada 1801 (masing-masing dengan rata-rata 5,0 dan 5,5 orang per rumah tangga) dan relatif besar (lebih dari 7,0 orang per rumah tangga) di sebagian kawasan di Austria pada abad tujuhbelas dan delapanbelas dan di Swedia utara pada abad tujuhbelas. Rata-rata anggota yang lebih dari 9,0 orang per rumah tangga ada di masyarakat Rusia pada awal abad sembilan belas. Perbedaan dalam struktur kekerabatan dalam rumah tangga acapkali menggarisbawahi perbedaan ukuran tersebut. Di kebanyakan rumah tangga Eropa Barat-Utara, keluarga inti hanya terdiri dari orang tua dan anak-anak yang belum menikah saja, juga pada era sebelum industrialisasi, sementara rumah tangga yang kompleks masih terdiri dari co-residen dari dua atau lebih pasangan lebih banyak terjadi di selatan dan timur Eropa. Di Eropa barat komposisi rumah tangga juga beraneka-ragam dalam hal jumlah anak- anak dan pelayan serta dalam hal kekerapan pasangan yang belum menikah mengepalai sebuah rumah tangga. Di Inggris, ada dua faktor yang secara khusus berperan dalam menciutnya jumlah anggota rumah tangga sejak masa pra-industri: menurunnya tingkat kesuburan perkawinan dan penghapusan kategori semu anggota rumah tangga terhadap residen domestik dan pelayan-pelayan yang biasanya memenuhi rumah-rumah para bangsawan pemilik lahan luas pertanian. Penurunan jasa pertanian terjadi secara besar-besaran di hampir semua wilayah Inggris di akhir abad delapanbelas dan awal abad sembilanbelas, sementara jasa domestik (yang sebagian besar dilakukan wanita) masih bertahan hingga awal abad duapuluh. Jumlah anak-anak per rumah tangga (termasuk rumah tangga yang tidak memiliki anak-anak) rata-rata menurun dari 2,1 pada 1911, yang sedikit di atas masa pra industri, menjadi 1,8 pada 1921, 1,3 pada 1947 dan 0,9 pada 1981. Sejak akhir Perang Dunia Kedua terjadi lagi penurunan dalam jumlah anggota rumah tangga meskipun kategorinya telah diperluas dengan memasukkan kerabat di luar pasangan inti dan kelompok orang tua-anak. Perubahan demografi menjelaskan banyak modifikasi yang terjadi dalam komposisi rumah tangga. Sebagai misal, turunnya angka kesuburan di akhir abad sembilanbelas dan awal abad duapuluh bermula dari penurunan yang cepat dalam ukuran rumah tangga dan belakangan membuat lebih kecilnya kemungkinan bahwa orang tua yang mendekati usia tua masih memiliki anak-anak yang belum menikah dalam rumah tangganya. Perubahan demografis lain yang menimbulkan dampak besar terhadap rumah tangga dan pola keluarga dari orang- orang tua dalam periode seusai perang adalah semakin besarnya angka harapan hidup wanita dibandingkan pria. Ini menyebabkan lebih lamanya wanita hidup sebagai janda dan dengan demikian memperbesar resiko mereka untuk hidup sendiri, dan meningkatkan jumlah pria tua yang masih memiliki pasangan. Di Inggris pada abad delapanbelas, struktur rumah tangga berubah sesuai dengan perubahan demografis. Perkawinan pertama yang diselenggarakan dalam usia lebih muda dan lebih besarnya proporsi pernikahan di akhir abad tujuh belas, bersama dengan menurunnya mortalitas orang dewasa, meningkatkan proporsi rumah tangga yang dikepalai pasangan yang menikah dan rata-rata ukuran atau jumlah anggota rumah tangga.

Pertumbuhan populasi, yang menyebabkan tenaga buruh lebih banyak tersedia dan dengan demikian lebih murah, mungkin juga telah mendorong para petani di abad delapanbelas untuk mengganti pelayan pria tetap dengan buruh lepas yang memiliki rumah tangga sendiri dan lebih bisa bekerja secara tidak terikat. Perbaikan standar hidup selama abad duapuluh, khususnya sejak 1950an, telah memungkinkan lebih banyak orang hidup sendiri, yang pada masa sebelumnya harus tinggal bersama kerabat atau menumpang pada orang lain (bukan kerabat). Keragaman standar kehidupan juga penting pengaruhnya namun bersifat tak langsung terhadap pola rumah tangga, dengan menyebabkan turun atau naiknya umur perkawinan pertama atau kohabitasi, sehingga meningkatkan pula kecepatan pembentukan rumah tangga. Di Inggris, urbanisasi maupun industrialisasi tampaknya tidak menyebabkan modifikasi besar dalam komposisi rumah tangga. Pada pertengahan abad sembilan belas tidak terdapat perbedaan mencolok antara rumah tangga di daerah perkotaan dan rumah tangga di pedesaan, kecuali bahwa rumah tangga di kota lebih banyak dibebani penumpang. Kenaikan yang sedang-sedang saja antara era pra-industri dan pertengahan abad sembilanbelas dalam hal jumlah kerabat dalam rumah tangga dan anggota keluarga langsung, juga sempat dikaitkan dengan industrialisasi. Hubungannya tidak pasti, namun cukup kentara untuk wilayah perkotaan dan pedesaan yang mengalami perubahan demografis serta ekonomis. Dampak pengaruh-pengaruh budaya terhadap pola rumah tangga juga tidak mudah diukur. Tidak ada aturan tertulis maupun tak tertulis yang menganjurkan pembentukan rumah tangga dengan jenis tertentu, yang menjelaskan kapan sebaiknya anak meninggalkan rumah orang tuanya , atau mengharuskan orang-orang yang sudah tua harus dirawat di rumah anak-anaknya. Namun keseragaman relatif rumah tangga dan pola keluarga di Inggris dahulu, terlepas dari kondisi-kondisi ekonomi dan demografis waktu itu, mengisyaratkan bahwa pola residensi sering dipengaruhi oleh norma-norma, kendati norma ini tidak pernah ditulis, dan tidak ditunjang oleh sanksi tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *