Advertisement

Masyarakat Bahasa dan Badan Politik, Pertama-tama perlu dijelaskan — jika mungkin — pengertian masyarakat bahasa. Dunia kini dibagi dalam berbagai badan politik yang masing-masing pada umumnya secara resmi menggunakan se­buah bahasa tertentu. Konsekuensinya, orang cenderung mengang­gap bahwa semua individu yang menjadi bagian dari satu bangsa yang sama membentuk satu masyarakat bahasa yang homogen dan tertutup. Banyak orang Perancis yang sulit mempercayai bahwa war­ga negara Amerika Serikat berbahasa Inggris, dan beberapa yakin bahwa di sebelah batas utara sana, orang berbicara bahasa “Belgia”. Bahasa resmi tampil dalam bentuk tulis’ yang acap kali baku sampai kepada hal yang sangat terinci, dan merupakan bahasa yang pertama kali dikenal oleh orang asing. Di dalam negerinya sendiri, penutur biasanya sangat peka terhadap prestise bentuk tulis. Dari kebakuan dan homogenitas bentuk itu, penutur otomatis menganggapnya seba­gai ciri bahasa resmi. Para ahli linguistik pun lama memusatkan per­hatian pada bahasa-bahasa sastra yang besar yang mereka telaah sebagai filolog, dan baru lambat laun melihat pentingnya meneliti berbagai idiom tanpa aksara yang hadir bersama bahasa nasional. Di­butuhkan waktu pula sampai orang sadar akan adanya perbedaan yang sering kali sangat banyak di antara adat bahasa percakapan se­hari-hari dengan bahasa yang telah disebutkan tadi, yang nampaknya diterima secara umum sebagai bahasa yang patut ditiru.

Penggunaan yang lazim dari kata bahasa yang sifatnya terbatas, didasari oleh penyamarataan yang simplistis di antara badan politik nasional dan masyarakat bahasa. Sebuah idiom baru pantas disebut bahasa apabila digunakan sebagai alat suatu negara yang tersusun. Bahkan orang yang terdidik pun masih ragu untuk memperlakukan bahasa Katala sebagai bahasa, meskipun bahasa itu memiliki kesusas­traan yang patut dibanggakan. Banyak pula yang beranggapan bah­wa berbicara bahasa Baska atau bahasa”Breiz sama dengan bersikap otonomis. Pembatasan tadi tercermin di dalam penggunaan kata “bilingual”. Dalam penggunaan yang lazim, yang disebut bilingual adalah seorang yang dianggap menggunakan dua bahasa nasional se­cara sama lancar. Seorang petani dari daerah Baska atau Finika bu­kan seorang “bilingual”, meskipun is berbicara bahasa Perancis atau idiom setempat, tergantung dari lawan bicara yang dihadapinya.

Advertisement

Advertisement