MASALAH LAFAL STANDAR DALAM BERBICARA

adsense-fallback

MASALAH LAFAL STANDAR DALAM BERBICARA – Pembakuan dalam bagian kebahasaan, seperti ejaan, peristilahan, serta tata bhs sudah ada atau tengah dikerjakan. Tetapi, timbul pertanyaan telah adakah lafal standard dalam pengertian pengucapan bunyi ujaran (segmental ataupun suprasegmental) yang jadikan jenis ketentuan pengguna bhs? Dengan cara resmi lafal standard bhs Indonesia memanglah belum ada. Namun dalam komunikasi resmi, hadirnya lafal standard itu terkadang benar-benar dibutuhkan. Di kelompok pengamat bhs, sekurang-kurangnya yang tercermin dalam Seminar Bhs Indonesia (1968), Seminar Politik Bhs Nasional (1975), serta sebagian karangan, otomatis terlihat kecenderungan mengaku hadirnya lafal yang bisa jadikan lafal standard bhs Indonesia. Lafal yang sekian itu dirumuskan untuk lafal yg tidak menunjukkan tanda-tanda lafal bhs daerah. Ukuran tak bercirikan lafal bhs daerah, nampaknya jadikan ukuran lafal standard. Ukuran ini nampaknya simpel, gampang diaplikasikan, namun memancing sebagian pertanyaan, mengingat jumlah bhs daerah yang cukup banyak. Bila pendengar tak mengetahui bhs daerah atau asal pembicara, barangkali dikira pembicara itu telah memakai lafal standard. Sebaliknya, bila pendengar mengetahui bhs daerah pembicara, barangkali dikira pembicara belum memakai lafal standard. Pasti pendengar tak lagi mengetahui seluruhnya lafal daerah. Baiknya lafal standard ini dirumuskan dengan tanda-tanda yang dipunyai berbarengan oleh umumnya dialek bhs Indonesia. Lafal yang dikira layak dicontoh, bisa diberikan serta dinyatakan de¬ngan resmi untuk lafal standard bhs Indonesia. Sebagian pendapat sempat dikemukakan perihal lafal standard ini. Soenarjati Djajanegara menyampaikan empat pilihan, yakni :

adsense-fallback

– memilih satu diantara lafal bhs daerah menurut pertimbangan historis, politik, serta sosial ;

– mengambil lafal Melayu untuk asal bhs Indonesia, untuk basic ;

– memilih lafal petinggi tinggi pemerintah serta golongan cendekiawan untuk teladan ;

– memilih lafal resmi yang paling sedikit dampak lafal daerahnya.

Penstandaran lafal dalam bhs Indonesia memanglah sedikit susah, terlebih mengingat banyak jumlah bhs daerah. Pilihan langkah manapun yang di ambil, kemungkinan munculnya ketidakpuasan pada beberapa pembicara terus ada. Tetapi pantas dicatat bahwasanya usaha menuju lafal baku bhs Indonesia sudah diawali oleh Pusat Pembinaan serta Pengembangan Bhs. Satu diantara maksud perstandaran lafal bhs Indonesia adalah penggunaannya dengan cara rata di kelompok pengguna bhs Indonesia dalam situasi-situasi yang menginginkan pemakaian lafal standard itu, umpamanya dalam komunikasi resmi, komunikasi tehnis, serta penghormatan. Banyak faedah yang bisa didapat dengan kuasai lafal standard ini, diantaranya :

a. Komunikasi bakal lebih efisien, lantaran masalah yang barangkali timbul ka¬rena lafal yang berlainan bisa dihindari. Perhatian beberapa peserta komunikasi bakal lebih terpusat pada amanat komunikasi.

b. Pendengar tak berlaku positif pada pembicara yang memakai lafal nonstandar, terlebih dalam komunikasi yg tidak bertatap muka. Barangkali timbul asosiasi negatif pada pembicara.

c. Dapat memperkokoh persatuan lantaran karenanya ada lafal standard bisa mengecilkan perbedaan.

d. Dapat menumbuhkan kesadaran berbahasa atau kebanggaan berbahasa lantaran kekuatan membuahkan yang baik serta benar.

e. Dapat memupuk kedisiplinan berbahasa lantaran rutinitas untuk setia memakai bhs standard.

Kita mengerti banyak faedah yang bisa didapat dengan kuasai lafal standard, meskipun dengan cara resmi laial standard bhs Indonesia itu belum ada. Tetapi, penguasaan piranti lafal standard itu bukannya satu yang tidak mungkin, terlebih untuk generasi muda serta generasi yang akan tiba. Terlebih karenanya ada perkembangan tehnologi, umpamanya radio serta tv yang telah menjangkau daerah-daerah terpencil sekalipun.

Keywords Search:

Komunikasi dua arah – Sikap pendengar – Keefektifan ber­bicara – Sikap terbuka – Kemampuan berbicara -Kemampuan ber­bahasa – Memilih topik pem­bicaraan – Pengumpulan bahan

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback