Advertisement

Beberapa teoretikus mulai tidak tertarik pada sumber motivasi, tetapi lebih berminat untuk mempelajari perwujudan motivasi itu dalam bentuk perilaku fisik. Gejala ini terjadi akibat pengaruh dari ahli fisika Galileo dan Newton terhadap Thomas Hobbes. Menurut pandangan ini, setiap gerak tubuh manusia merupakan refleksi dari operasi gabungan berbagai daya yang ada di lapangan. Jadi, analog dengan jatuhnya sebuah bola yang merupakan hasil daya tarik bumi. Dengan demikian, motivasi menurut Hobbes adalah gerak miniatur (miniature motion) di dalam tubuh. Model Newton ini digunakan juga untuk menerangkan hubungan antar manusia.

Kurt Lewin mengembangkan paham ini dengan mengemukakan teorinya yang terkenal yaitu teor (field theory). Unit analisisnya adalah manusia dalam lingkungan yang konkret, yaitu ruang kehidupan (life space) yang berisi diri manusia itu sendiri, manusia-manusia lain, dan lingkungan fisik’lainnya. Lewin percaya bahwa hanya daya-daya masa kini (current force) yang menentukan perilaku, bukan masa lalu, apalagi masa kecil.

Advertisement

Menurut Lewin, segala sesuatu yang terdapat dalam ruang kehidupan seseorang diwakili dalam alam kesadaran atau “lapangan psikologik” (psychological field) orang tersebut dan dari saat ke saat, setiap bagian dari lapangan psikologik itu dapat mempunyai daya tarik atau daya tolak terkadang kuat, terkadang lemah, terkadang biasa saja. Jika suatu hal dalam lingkungan fisik seseorang sedang mempunyai daya tarik yang kuat (misalnya kue dalam keadaan si anak sedang lapar), orang yang bersangkutan terdorong untuk melakukan sesuatu (anak mengambil kue). Sebaliknya, jika sesuatu mempunyai daya tolak yang kuat (misalnya, obat yang pahit atau calon mertua yang galak), maka orang akan berbuat sesuatu (menghindari obat, atau tidak jadi mendekati si gadis). Perbuatan mendekat atau menghindar akibat dorongan-dorongan dalam lapangan psikologik itu, oleh Lewin dinamakan “lokomosi” (locomotion).

Yang penting dalam teori Lewin ini adalah uraian mengenai konflik. Jika pada suatu saat ada dua hal dalam lapangan psikologik seseorang yang mempunyai daya tarik yang sama kuat. (misalnya/membelikan baju untuk istri atau sepatu untuk anak, sementara uang hanya cukup. untuk membeli salah satu), ata.u -; daya tolak yang sama kuat (misalnya, malas ke sekolah karena takut ditanya guru tentang pekerjaan rumah yang belum dibuat, tetapi takut tinggal di rumah karena takut dimarahi ibu) atau ada satu hal yang sekaligus mempunyai daya tarik dan daya tolak yang sama kuatnya (misalnya, pulang kampung menarik karena dapat bertemu keluarga, tetapi tidak menarik karena ongkosnya mahal), orang yang bersangkutan akan berada dalam situasi konflik. Konflik jenis pertama dinamakan konflik “mendekatmendekat” (approach-approach conflict), konflik jenis kedua adalah konflik “menjauh-menjauh” (avoidance-avoidance conflict), dan konflik jenis ketiga dinamakan konflik “mendekat-menjauh” (approach-avoidance conflict).

Jika konflik-konflik itu dibiarkanberlarut-larut, akan timbul berbagai masalah pada orang yang bersangkutan. Salah satu tugas psikolog dalam praktik adalah mengurangi konflik tersebut melalui upaya manajemen konflik.

Advertisement