Advertisement

Makna ubuh manusia, Teori feminis, kritik sastra, sejarah, perbandingan agama, filsafat, sosiologi, psikologi, dan antropologi semua bergerak menuju tubuh manusia.¬†Sejak awal 1970-an tubuh manusia telah menjadi sosok yang terbuka dalam ilmu-ilmu humaniora dan studi-studi interdisipliner mengenai kebudayaan. ¬†Tampaknya, makin luasnya perhatian akan tubuh disebabkan karena momen perjalanan sejarah dimana kita sedang mengalami perubahan-perubahan mendasar dalam mengorganisir dan mengalami tubuh kita’ sedemikian rupa sehingga kita melihat ‘tamatnya salah satu jenis tubuh dan dimulainya jenis tubuh yang lain’. Kalangan akademis dewasa ini tampaknya mendukung klaim ini. Tubuh pada galibnya diasumsikan oleh para cendikiawan dan masyarakat awam sebagai sesuatu kesatuan materi yang tetap, yang menjadi subyek hukum-hukum biologi empiris, dan ditandai oleh kebutuhan-kebutuhan yang tidak berubah-ubah. Tubuh ‘baru’ tidak lagi bisa diidentifikasi sekedar sebagai fakta alamiah yang kasar. Gelombang kritik telah menyatakan bahwa ‘tubuh memiliki sejarah’ sesuai dengan momen-momen sejarah tertentu, bahwa tubuh sosial maupun personal kita tidaklah alamiah karena mereka hanya ada dalam proses kreasi-diri tenaga kerja manusia, dan sebagai landasan eksistensial bagi budaya tubuh yang dicirikan oleh interminasi dan fluktuasi esensial. Biologi bukan lagi obyektivitas yang monolitik, tubuh telah ditransformasi dari obyek menjadi agen. Ada juga yang berpendirian bahwa tubuh manusia tidak bisa lagi dipandang sebagai ‘satuan yang memiliki batas’, akibat terjadinya destabilisasi dalam proses kodifikasi sosial, fragmentasi, dan rintangan-rintangan semiotik dari citra bagian-bagian tubuh. Di zaman kapitalisme lanjut dan budaya konsumtif ini, tubuh terutama merupakan suatu pentas penampilan diri, pertunjukan dan manajemen kesan. Kategori-kategori siklus hidup menjadi kabur dan perawatan tubuh telah berubah dari penyelamatan spritual, menjadi penjagaan kesehatan, dan akhirnya menjadi komoditas pasar itu sendiri. Disiplin asketisme tubuh-dalam dipandang tidak lagi sesuai dengan hedonisme tubuh-luar dan mobilitas sosial, namun telah menjadi semacam alat.

Transformasi budaya kontemporer pada tubuh juga dapat diamati pada problematika batas-batas korporealitas itu sendiri. Di antaranya adalah batas antara fisik dan non-fisik, antara manusia dan hewan, antara manusia/hewan dan mesin atau otomat, dan antara manusia dan sesuatu yang lebih tinggi atau dewa-dewa. Namun transformasi lain yang dewasa ini tak terelakkan atas tubuh kontemporer dibentuk oleh proliferasi kekerasan secara besar-besaran: kekerasan etnis, kekerasan , kekerasan merusak-diri, kekerasan di rumah tangga, dan kekerasan gang. Dari peleburan diri dalam siksaan dan hilangnya kealamiahan tubuh dalam situasi kekerasan sejarah yang kronis, dari perlawanan tubuh yang tak terartikulasi terhadap penindasan hegemonik di dalam kemiskinan, dan sekali lagi dalam kegilaan ‘pembersihan etnis’ dan perkosaan sebagai senjata politik, maka tubuh menjadi simbol kemanusiaan dan harga diri yang terancam. Bersimpangan dengan transformasi-transformasi ini, ada sekian banyak pendekatan pokok terhadap tubuh bisa diidentifikasi dalam literatur mutakhir. Premis dalam kebanyakan tulisan itu adalah ‘tubuh analitis’ yang mengarah pada fokus yang terpisah-pisah terhadap persepsi, gerak, bagian-bagian, proses dan produknya. Literatur lain berkonsentrasi pada ‘tubuh topikal’, yakni pemahaman tubuh dalam hubungannya dengan wilayah-wilayah kegiatan kultural tertentu: contohnya tubuh dan kesehatan, tubuh dan dominasi politik, tubuh dan gender, tubuh dan jati-diri. tubuh dan emosi, tubuh dan teknologi, dan seterusnya. Terakhir, ada pula ‘tubuh majemuk’, di mana jumlah tubuh bergantung pada banyaknya aspek yang diperhatikan seseorang atas tubuhnya. Douglas (1973) memperhatikan ‘dua tubuh’, dengan mengacu kepada aspek sosial dan fisik tubuh. Scheper-Hunges dan Lock (1978) memberi kita ‘tiga tubuh’, yakni tubuh individual, tubuh sosial, dan tubuh politik. O’Neill (1985) menambah menjadi ‘lima tubuh’: tubuh dunia, tubuh sosial, tubuh politik, tubuh konsumen, dan tubuh medis atau tubuh yang dimediskan.

Advertisement

Hingga derajat tertentu, pendekatan-pendekatan ini mempelajari masalah tubuh dan transformasinya sembari tetap menganggap pentubuhan [embodiment] sebagai demikian adanya. Penekanan pada pentubuhan ini mempersoalkan dualisme konsep antara tubuh dan pikiran, pra-obyektif dan yang telah diobyekkan, subyek dan obyek, kebudayaan dan biologi, mental dan material, kebudayaan dan praktek, gender. Salah satu kecenderungan mutakhir yang secara teoritis mengunggulkan tubuh adalah mereka yang menganggap bahwa apa yang lazimnya dikenal sebagai dualisme Cartesian adalah suatu peremehan atas moral. Namun Descrates memperkenalkan doktrin ini sebagai pemisahan metodologis dan sebagai jalan pemikiran ilmiah yang bebas dari penaklukan teologi dan pengendalian institusional yang ketat dari dan mengalami tubuh kita’ sedemikian rupa sehingga kita melihat ‘tamatnya salah satu jenis tubuh dan dimulainya jenis tubuh yang lain’ (Martin 1992: 121). Kalangan akademis dewasa ini tampaknya mendukung klaim ini. Tubuh pada galibnya diasumsikan oleh para cendikiawan dan masyarakat awam sebagai sesuatu kesatuan materi yang tetap, yang menjadi subyek hukum-hukum biologi empiris, dan ditandai oleh kebutuhan-kebutuhan yang tidak berubah-ubah. Tubuh ‘baru’ tidak lagi bisa diidentifikasi sekedar sebagai fakta alamiah yang kasar. Gelombang kritik telah menyatakan bahwa ‘tubuh memiliki sejarah’ sesuai dengan momen-momen sejarah tertentu, bahwa tubuh sosial maupun personal kita tidaklah alamiah karena mereka hanya ada dalam proses kreasi-diri tenaga kerja manusia, dan sebagai landasan eksistensial bagi budaya tubuh yang dicirikan oleh interminasi dan fluktuasi esensial. Biologi bukan lagi obyektivitas yang monolitik, tubuh telah ditransformasi dari obyek menjadi agen. Ada juga yang berpendirian bahwa tubuh manusia tidak bisa lagi dipandang sebagai ‘satuan yang memiliki batas’, akibat terjadinya destabilisasi dalam proses kodifikasi sosial, fragmentasi, dan rintangan-rintangan semiotik dari citra bagian-bagian tubuh. Di zaman kapitalisme lanjut dan budaya konsumtif ini, tubuh terutama merupakan suatu pentas penampilan diri, pertunjukan dan manajemen kesan. Kategori-kategori siklus hidup menjadi kabur dan perawatan tubuh telah berubah dari penyelamatan spritual, menjadi penjagaan kesehatan, dan akhirnya menjadi komoditas pasar itu sendiri. Disiplin asketisme tubuh-dalam dipandang tidak lagi sesuai dengan hedonisme tubuh-luar dan mobilitas sosial, namun telah menjadi semacam alat. Transformasi budaya kontemporer pada tubuh juga dapat diamati pada problematika batas-batas korporealitas itu sendiri. Di antaranya adalah batas antara fisik dan non-fisik, antara manusia dan hewan, antara manusia/hewan dan mesin atau otomat, dan antara manusia dan sesuatu yang lebih tinggi atau dewa-dewa. Namun transformasi lain yang dewasa ini tak terelakkan atas tubuh kontemporer dibentuk oleh proliferasi kekerasan secara besar-besaran: kekerasan etnis, kekerasan, kekerasan merusak-diri, kekerasan di rumah tangga, dan kekerasan gang. Dari peleburan diri dalam siksaan dan hilangnya kealamiahan tubuh dalam situasi kekerasan sejarah yang kronis, dari perlawanan tubuh yang tak terartikulasi terhadap penindasan hegemonik di dalam kemiskinan, dan sekali lagi dalam kegilaan ‘pembersihan etnis’ dan sebagai senjata politik, maka tubuh menjadi simbol kemanusiaan dan harga diri yang terancam.

Bersimpangan dengan transformasi-transformasi ini, ada sekian banyak pendekatan pokok terhadap tubuh bisa diidentifikasi dalam literatur mutakhir. Premis dalam kebanyakan tulisan itu adalah ‘tubuh analitis’ yang mengarah pada fokus yang terpisah-pisah terhadap persepsi, gerak, bagian-bagian, proses dan produknya. Literatur lain berkonsentrasi pada ‘tubuh topikal’, yakni pemahaman tubuh dalam hubungannya dengan wilayah-wilayah kegiatan kultural tertentu: contohnya tubuh dan kesehatan, tubuh dan dominasi politik, tubuh dan gender, tubuh dan jati-diri. tubuh dan emosi, tubuh dan teknologi, dan seterusnya. Terakhir, ada pula ‘tubuh majemuk’, di mana jumlah tubuh bergantung pada banyaknya aspek yang diperhatikan seseorang atas tubuhnya. Douglas (1973) memperhatikan ‘dua tubuh’, dengan mengacu kepada aspek sosial dan fisik tubuh. Scheper-Hunges dan Lock (1978) memberi kita ‘tiga tubuh’, yakni tubuh individual, tubuh sosial, dan tubuh politik. O’Neill (1985) menambah menjadi ‘lima tubuh’: tubuh dunia, tubuh sosial, tubuh politik, tubuh konsumen, dan tubuh medis atau tubuh yang dimediskan. Hingga derajat tertentu, pendekatan-pendekatan ini mempelajari masalah tubuh dan transformasinya sembari tetap menganggap pentubuhan [embodiment] sebagai demikian adanya. Penekanan pada pentubuhan ini mem-persoalkan dualisme konsep antara tubuh dan pikiran, pra-obyektif dan yang telah diobyekkan, subyek dan obyek, kebudayaan dan biologi, mental dan material, kebudayaan dan praktek, gender. Salah satu kecenderungan mutakhir yang secara teoritis mengunggulkan tubuh adalah mereka yang menganggap bahwa apa yang lazimnya dikenal sebagai dualisme Cartesian adalah suatu peremehan atas moral. Namun Descrates memperkenalkan doktrin ini sebagai pemisahan metodologis dan sebagai jalan pemikiran ilmiah yang bebas dari penaklukan teologi dan pengendalian institusional yang ketat dari Gereja. Tidak diragukan lagi bahwa para filsuf tidak sepenuhnya bersalah atas ontologisasi pemisahan ini, dan tertanamnya hal itu dalam pemikiran kita (cf. Leder 1990). Kemungkinan bahwa tubuh dapat dipahami sebagai semacam tempat subyektivitas adalah salah satu sumber tantangan terhadap teori-teori kebudayaan di mana pikiran/subyek/kebudayaan dipertentangkan dengan tubuh/obyek/biologi. Sebagian besar teori masih mewarisi pola Cartesian yang mendahulukan pikiran/subyek/kebudayaan sebagai bentuk representasinya, dan memposisikan aturan-aturan dan prinsip-prinsip menurut antropologi sosial, tanda-tanda dan simbol menurut semiotik, teks dan diskursus menurut studi literatur, ilmu pengetahuan dan model-model menurut ilmu kognitif. Dalam konteks itu, tubuh adalah ciptaan dari representasi, sebagaimana dalam karya Foucault (1979:1986), yang perhatiannya tercurah pada penyusunan kondisi-kondisi diskursif dari kemungkinan- kemungkinan tubuh sebagai obyek dominasi. Sebaliknya, tubuh bisa disarikan sebagai fungsi berada-di-dunia (being-in-the-world). seperti dalam karya Merleau-Potny (19621 yang menganggap pentubuhan sebagai kondisi eksistensial dari kemugkinan budaya dan diri. Jika tubuh berada dalam momen sejarah yang kritis, maka momen teoritis-nya adalah ketegangan antara representasi dan berada-didunia.

Advertisement