Advertisement

Liga Muslimin Indonesia adalah suatu badan federasi dari beberapa partai Islam di Indonesia. Partai-partai itu antara lain adalah Nandlatul Ulama (NU), Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) dan Persa­tuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Liga Muslimin didirikan pada had Sabtu, 30 Agustus 1952 (9 Zulhijjah 1371 H).

Liga Muslimin didirikan atas prakarsa NU yang kemudian didukung oleh PSII dan PERTI. Pembentukan Liga ini dilatar­belakangi rasa kecewa unsur NU dalam partai Masyumi atas beberapa kebijaksana­an politik partai yang diputuskan oleh ke­lompok politisi dalam partai dan perubah­an status Majelis Syura Partai, yang seba­gian besar anggotanya berasal dari para ulama NU, menjadi Badan Penasihat Par-tai. Kebijaksanaan politik dan perubahan status ini dianggap sebagai upaya untuk memperkecil peranan dan kedudukan para ulama dalam partai. Kemudian puncak ke­kecewaan itu terjadi dengan dipilihnya Fa­qih Usman, yang bukan berasal dari unsur NU, sebagai Menteri Agama dalam Kabi­net Wilopo. Sebelum terbentuknya kabi­net, pimpinan NU mengadakan pembica­raan dengan pimpinan Masyumi agar pos Menteri Agama diberikan pada NU. Na­mun dalam pemilihan Faqih Usman yang terpilih. Segera NU mengadakan rapat yang hasilnya adalah pemisahan NU secara organisatoris dari Masyumi. Keputusan ini kemudian dikuatkan pada Muktamar NU yang diadakan di Palembang dari 28 April s/d 1 Mei 1952, yang sekaligus juga mene­tapkan NU sebagai organisasi politik yang terpisah dari Masyumi.

Advertisement

Selanjutnya K.H. Abdul Wahid Hasyim, selaku pimpinan NU, mengirimkan surat kepada Masyumi yang isinya menegaskan pemisahan NU dari Masyumi dan meng­harapkan agar Masyumi dirobah bentuk­nya menjadi federasi. Karena dengan ben­tuk federasi ini, semua organisasi yang berdasar Islam dapat menjadi anggotanya tanpa menghilangkan identitas organisasi tersebut. Selain itu dengan federasi ini,

Masyumi nantinya akan menjadi suatu wadah untuk mempersatukan segala po­tensi umat Islam dalam perjuangannya. Namun usul ini ditolak oleh Masyumi.

Untuk mewujudkan ide federasi ini, ke­mudian NU mengundang 17 organisasi Islam untuk membahas pembentukan fe­derasi pada 23 Juli 1952. Namun dari se­kian banyak organisasi yang hadir, hanya PSII dan PERTI saja yang mendukung ide federasi ini. Perlu dicatat, bahwa selain latar belakang kekecewaan NU terhadap kebijaksanaan Masyumi, terdapat motivasi lain yang semakin menguatkan NU untuk membentuk federasi Liga Muslimin. Moti­vasi itu adalah semakin dekatnya pemilu pertama, yang ternyata baru dapat dilak­sanakan’ pada 1955 dan terbentuknya koa­lisi politik antara PNI dengan Masyumi di bawah Perdana Menteri Wilopo.

Pada 30 Agustus 1952 diresmikanlah berdirinya Liga Muslimin Indonesia yang diselenggarakan di gedung Parlemen RI di jalan Pejambon (sekarang gedung Deplu) Jakarta. Pada peresmian ini masing-masing partai diwakili anggotanya. NU diwakili oleh K.H. Abdul Wahid Hasyim, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, K.H. M. Dahlan, seorang dari Pemuda Anshar dan seorang dari Fatayat. PSII diwakili oleh Abikusno. Cokrosuyoso, Syahbudin Latif, Sudibio, dan Suharjo. PERTI diwakili oleh H. Siro­juddin Abbas, H. Rusli A. Wahid, H. Da­niyah Ayyubi, Syekh H. Ma%hum, dan H. Syamsiyah Abbas.

Tujuan dari Liga Muslimin sebagaimana yang dirumuskan oleh Panitia Perumus Liga adalah untuk mencapai masyarakat Islamiyah yang sesuai dengan hukum Allah dan Sunah Rasulullah. Selain itu, sasaran jangka panjang Liga dirumuskan untuk menciptakan sebuah negara yang subur dan makmur di bawah lindungan Allah Yang Maha Kasih.

Usaha-usaha konkret yang berhasil di­laksanakan oleh Liga selama masa aktif­nya ada dtia hal, yaitu kegiatan politik dalam negeri dan perhatian terhadap ma­salah-masalah luar negeri. Kegiatan poli­tik dalam negeri yang sudah dicapai Liga Muslimin adalah kegiatan dan langkah­langkah bersama dalam pembentukan kabinet sesudah Kabinet Wilopo. Dalam ka­binet baru ini beberapa tokoh dari .Liga Muslimin berhasil menduduki pos-pos menteri. Selain dari kegiatan ini, Liga juga berhasil menggalang koalisi dengan bebe­rapa partai lain, yaitu dengan   dan Partai nasionalis keel dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo. Sedangkan mengenai ma­salah-masalah luar negeri, Liga Muslimin antara lain sudah mengeluarkan pernyata­an sikap terhadap masalah Tunisia dan Maroko yang ingin melepaskan diri dari kolonialisme Barat. Selain itu Liga juga pernah mengirimkan sebuah misi persa­habatan ke berbagai negara Islam. Misi ini mengunjungi beberapa negara Islam di – Timur Tengah, antara lain Pakistan, Me-sir, Saudi Arabia, Libanon, Siria, Yorda­nia, Irak dan Iran.

Delapan bulan setelah berdirinya  Liga Muslimin ini, tokoh penggerak utamanya, yaitu K.H. Abdul Wahid Hasyim mening­gal dunia pada 19 April 1953 di Bandung. Dengan meninggalnya K.H. Abdul .Wahid Hasyim, Liga Muslimin mulai berkurang peranan politiknya. Hal ini disebabkan tiadanya tokoh yang memiliki pandangan­pandangan yang dapat diterima secara luas baik dari kalangan cendikiawan berpendi­dikan barat maupun berpendidikan pe­santren. Selama ini hanya K.H. Abdul Wa­hid Hasyim lah tokoh yang dapat melak­sanakan tugas seperti itu. Karena selama ini is tidak menyiapkan kader yang dapat menggantikannya bila berhalangan atau tiada, maka sepeninggalnya peranan Liga Muslimin menjadi goncang. Akibatnya Liga Muslimin tidak lagi memainkan pe­ranan politik yang menonjol sebagaimana sebelumnya.

 

Advertisement