Advertisement

Liga Muslim India (AllIndia Muslim League) adalah organisasi politik modern yang pertama-tama didirikan tokoh-tokoh muslim di Anak Benua India pada 31 De­sember 1906. Kelahiran Liga Muslim India (Liga) merupakan klimaks dari proses pan­jang dan upaya orang-orang Islam di ka­ wasan tersebut untuk menghadapi situasi baru dengan runtuhnya kekuasaan sultan Mugal dan munculnya Inggris. Semenjak kegagalan Pemberontakan Sipahi 1857, para pemimpin muslim secara umum telah memutuskan untuk mengambil jalan lu­nak dan damai dalam menghadapi Inggris. Dalam hal ini jumlah orang-orang Islam jauh lebih kecil dibandingkan dengan go­longan Hindu (24%), mereka juga harus membuat perhitungan tersendiri dengan golongan Hindu kalau mereka berpikir tentang masa depan selepas berakhirnya kekuasaan Inggris. Lebih khusus lagi, to­koh-kokoh Hindu telah berhasil memben­tuk Partai Kongres memang menjadi faktor penting dalam perkembangan corak poli­tik yang dianut orang Islam. Pada satu pi­hak, terdapat kelompok muslim yang menganggap Partai Kongres sebagai wadah terbaik yang ada untuk mencapai kemer­dekaan dan masa depan yang damai bagi umat Islam di Anak Benua. Pada pihak lain, sekelompok lagi melihat kerjasama dalam Partai Kongres sebagai tidak meng­untungkan umat Islam yang akan menjadi minoritas di kalangan Hindu yang domi­nan. Munculnya Liga merupakan realisasi dan ide dan pandangan kelompok kedua tersebut. Memang sewaktu dibentuk Liga jelas menonjolkan 3 obyektif pokok:

  1. a) memperjuangkan kepentingan umat Islam secara eksplisit seperti memperoleh hak pemilihan terpisah;

b)menegaskan loyalitas terhadap penguasa Inggris;

Advertisement
  1. c) mencegah timbulnya rasa permusuhan di kalangan muslim terhadap non-mus­lim dan sebaliknya.

Para tokoh yang terlibat dalam penu­buhan Liga kebanyakan terdiri dan pe­mimpin-pemimpin lokal. Penubuhan Liga erat berhubungan dengan Konferensi Pen­didikan Islam yang diadakan di Dakka pada Desember 1906. Ketua penyelengga­ra Konferensi tersebut adalah Gubemur Dakka, yang kemudian menunjUk Naw­wab Vigar al-Mulk untuk memimpin si­dang bagi pembentukan Liga.

Berdirinya Liga mendapat sambutan luas. Hal ini terbukti dengan dibukanya sejumlah cabang di berbagai propinsi dan distrik terutama di kota-kota periting. Bahkan di London para aktivis muslim, termasuk Syed Ameer Ali, telah juga men­dirikan cabang Liga. Selanjutnya Liga hampir setiap tahun mengadakan musya­warah. Pada Musyawarah 1908 di Aligarh, Aga Khan telah diangkat sebagai Presiden Tetap Liga. Dialah yang menginginkan su­paya penguasa Inggris hanya mengakui Liga sebagai satu-satunya wadah yang me­wakili umat Islam. Untuk menjelaskan upaya dan tujuan Liga, para pemimpin, di antaranya, berkeliling mengunjungi orang­orang Islam di berbagai tempat.

Hubungan antara Liga dan Partai Kong­res serta penguasa Inggris mengalami pa-sang -surut. Sampai dengan meletusnya Pe-rang Dunia I, loyalitas Liga terhadap Ing­gris begitu kokoh. Tetapi sikap negara-ne­gara Eropa, khususnya Inggris terhadap Turki Usmani pada masa itu telah mem­buat para pemimpin Liga merasa kecewa. Mereka memutuskan untuk lebih mende­kati sikap nasionalis Partai Kongres, tentu dengan alasan yang berbeda. Liga mena­ruh simpati besar terhadap nasib Turki. Hubungan baru ini, umpamanya, terlihat dari kehadiran tokoh-tokoh Kongres dan Liga dalam sidang-sidang Musyawarah yang diadakan pada 1915, 1916, dan 1917. Memang pada 1916 para pemimpin Liga dan Kongres berhasil meratifikasi keijasama (Lucknow Part) yang di antara­nya b.erisi tuntutan bagi kenaikan jumlah wakil yang dipilih ke Dewan Perwakilan Propinsi serta pemberian jatah tertentu bagi orang-orang Islam di Dewan tersebut. Juga, timbulnya Gerakan Khilafat pada akhir Perang Dunia I . telah mempererat hubungan muslim Hindu, termasuk Liga dan Kongres di bawah Gandhi. Namun ke­nyataan bahwa pada 1924 Ataturk justru menghapuskan kedudukan khalifah di Is­tambul telah menjadikan Gerakan Khila­fat di Anak Benua India tidak relevan. Hal ini menjadi faktor penting dalam meng­hangatnya konflik komunal antara muslim dan Hindu. Dan akhirnya Liga menjadi simbol dan wadah perjuangan bagi sego­longan besar orang Islam di Anak Benua.

Semenjak 1924 Liga memulai babak perjuangan baru di bawah pimpinan, M.A.

Jinnah. la adalah seorang ahli hukum yang bekas anggota Partai Kongres. Te­kanan yang diberikan adalah pemberian perwakilan terpisah bagi golongan muslim. Kilns tentang pembagian dan sistem per­wakilan pada 1928-1929 (Nehru Report) telah menguatkan posisi Liga di kalangan muslim. Umpamanya, formula Konstitusi Jinnah yang dikenal sebagai “14 pokok pi­kiran” diterima oleh pihak muslim. Bah­kan pada 1930 dalam Musyawarah tahun­an Liga, M. Iqbal untuk pertama kali me­nyuarakan pembentukan sebuah negara Is­lam India. Kemudian rencana pemilihan umum pada 1937, sebagai cerminan dan Konstitusi 1935, memberikan kesempatan kepada Liga untuk menata diri. Walau da­lam pemilihan umum ini Liga tidak begitu berhasil, is telah membuktikan din seba­gai wadah politik yang tangguh.

Perkembangan politik pasca-1937 jus­tru membuat Liga menjadi semakin vital bagi umat Islam. Semakin berkuasanya Partai Kongres yang didominasi Hindu memang mendorong orang-orang Islam untuk mendukung Liga. Terlebih lagi, se­makin seriusnya konflik fisik antara Hin­du dan muslim menjadikan keberadaan Li­ga menarik, sebagaimana terbukti dari di­umumkannya secara resmi untuk pertama kali tentang ide “Negara Pakistan” yang terpisah pada Musyawarah Liga, Maret 1940 di Lahore. Perkembangan konflik setelah Perang Dunia II menambah kuat­nya posisi Liga di kalangan orang Islam, terutama konsep tentang penubuhan Pa­kistan, yang meliputi Punjab dan sekitar­nya serta Benggala. Pernyataan Liga untuk menjadikan 16 Agustus 1946 sebagai “Ha­ri Aksi Langsung” sangat berpengaruh da­lam pemberian dukungan luas terhadap berdirinya Pakistan setahun kemudian. Ju­ga, pemilihan umum 1946 menunjukkan bahwa Liga adalah wadah politik yang me­wakili mayoritas umat Islam. Proklamasi kemerdekaan Pakistan pada 15 Agustus 1947 adalah sebagian besar merupakan ba­sil kerja Liga di bawah Jinnah. Memang se­telah itu Liga menjadi partai politik yang berkuasa di Pakistan sehingga kelompok militer mengambil alih pimpinan pada 1950-an. Di India nama Liga Muslim terus dipertahankan sebagai nama partai di ber­bagai propinsi, kendati tak selalu mempu­nyai kebijaksanaan yang uniform.

 

 

 

Advertisement
Filed under : Review,