Advertisement

Lebih Baik Sintagma Otonom Daripada “Kata”, Secara umum, kecenderungan tidak memisahkan monem­monem dalam ujaran yang dirasakan sangat menyatu oleh maknanya terlalu wajar sehingga tidak ditemukan jejaknya di dalam setiap baha­sa. Oleh karenanya, orang tergoda untuk beroperasi dengan sebuah satuan bermakna yang lebih luas daripada monem dan yang disebut “kata”. Memang tidak ada ruginya menggunakan istilah “kata”, jika kita ingat bahwa istilah itu di dalam setiap bahasa pasti mencakup tipe hubungan sintagmatis tertentu, dan jika dibedakan dengan jelas di antara fakta-fakta yang menimbulkan tipe satuan itu, antara ciri bunyi demarkatif atau kulminatif, di satu pihak, ciri bentuk keter­pisahan dan amalgam di lain pihak, dan akhirnya petunjuk-petunjuk yang dapat diberikan oleh semantik. Sebenarnya terdapat ketakter­batasan tingkat yang mungkin ada di antara ketakterpisahan sempur­na dan amalgam di satu pihak, dan kebebasan menyeluruh di lain pihak: selama vu di dalam bahasa Perancis percakapan merupa­kan kala lampau dari je vois ‘saya melihat’, ai vu ‘telah melihat’ tidak membentuk dua penanda yang berbeda, tetapi lebih tepat merupa­kan amalgam dari dua monem berpetanda “voir” ‘melihat’ dan “passé” ‘lampau’. Meskipun demikian, secara formal ai dan vu terpi­sahkan Val souvent vu ‘saya telah sering melihat’) namun tetap tidak dapat disisipkan di antaranya adverbia hier ‘kemarin’ maupun pe­lengkap seperti avec mes lunettes ‘dengan kaca mataku’: Suatu kumpulan seperti je le donne ‘saya memberikannya’ dapat diuraikan dengan mudah menjadi tanda yang berurutan, namun mengandung varian monem pertama dan ketiga dari persona /i/ dan /1/, yang petandanya hanya muncul dalam konteks seperti /mua/ ‘saya’, ‘dia’. Kemungkinan besar unsur-unsur pembentuk itu tak terpisah­kan karena didapati je te le donne ‘saya memberikannya padamu’, je le lui donne ‘saya memberikannya pada dia’, namun pilihan unsur sisipan itu sangat terbatas dan para ahli linguistik telah tergoda untuk menganggap je te le donne ‘saya memberikannya padamu’ sebagai satu kata seperti yang dituliskan dalam satu kata dalam bahasa Baska da-kar-t ‘saya membawanya’.

Yang paling tidak boleh dilupakan dalam masalah ini adalah bahwa ciri sintagma otonom yang dimiliki oleh satu bentuk bahasa Latin seperti homini yang berpadanan dengan bahasa modern for man, pour l’homme, para el hombre, lebih penting daripada ciri katanya. Hal itu hanya merupakan puncak dari kekakuan bertahap rang menghasilkan suatu keadaan yang percuma dan lebih baik tidak dianalisis secara formal, walaupun tidak menghalangi analisis petan­da yang berbeda, artinya tanpa menghapus kebutuhan penutur untuk memilih antara sejumlah fungsi yang mungkin ada bagi monem ho nme ‘manusia’. Untuk memahami dasar struktur bahasa, sintagma otonomlah yang harus diperhatikan dan bukan tipe tertentu dari sin­tagma otonom yang berciri ketakterpisahan unsur-unsurnya dan dike­lompokkan dalam golongan “kata” dengan monem-monem yang tidak masuk ke dalam sintagma semacam itu.

Advertisement

Advertisement