LAJU NISBI ABSORPSI AIR DAN TRANSPIRASI

30 views

Laju Nisbi Absorpsi Air dan Transpirasi, Pengukuran serentak laju transpirasi dari pucuk tumbuhan dan laju absorpsi air oleh akar menunjukkan bahwa suatu peningkatan laju transpirasi disertai oleh peningkatan serupa dalam laju absorpsi. Tetapi pada hari-hari yang cerah dan panas, ketika laju transpirasi tinggi pada tengah hari (yaitu bila daya evaporasi udara mencapai titik maksimum), laju absorpsi secara khas ketinggalan di belakang laju transpirasi, yang tampaknya disebabkan oleh adanya tahanan dari sel-sel akar terhadap lewatnya air (  11.12). Sebagai akibatnya terjadi peningkatan tegangan kolom-kolom air yang berangsur-angsur dan pengurangan kandungan air dalam daun yang berangsur-angsur pula. Defisit air ini dapat menimbulkan pelayuan sementara daun-daun, terutama dalam daun-daun ‘Iembek’ yang bergantung pada turgor untuk menunjangnya. Bila penyediaan air tanah memadai, absorpsi air pada sore hari dan malam hari melebihi kehilangan karena transpirasi dan sel-sel daun secara berangsur-angsur memperoleh kembali turgornya. Pelayuan sementara, yang disebabkan oleh kehilangan air yang lebih banyak daripada pengambilan, hendaknya dibedakan dengan pelayuan permanen, yang disebabkan oleh kekurangan air tanah yang permanen. Tumbuhan dapat segar kembali pada malam hari bila menderita pelayuan sementara, tetapi tidak demikian bila mengalami pelayuan permanen, kecuali jika persediaan air tanah ditambah.

Pada suatu waktu diperkirakan bahwa stomata berkelakuan sedemikian rupa untuk memperkecil risiko pelayuan, yaitu menutup bila air kurang dalam daun dan membuka bila air banyak. Ini tidak selalu demikian. Bila sehelai daun menjadi layu dengan cepat sel-sel epidermis kehilangan air lebih cepat daripada sel pelindung, dengan akibat bahwa sel-sel pelindung menonjol masuk ke dalam sel-sel epidermis dan stomata bahkan membuka semakin lebar. Tetapi keadaan seperti ini hanya berlangsung sebentar saja, karena segera sel pelindung kehilangan air juga dan kemudian stomata menutup. Oleh karena itu, sekali sehelai daun layu, kehilangan air selanjutnya dicegah sehingga kelayuan itu sendiri dapat mencegah kekeringan parah dan luka permanen. Karena penutupan stomata menghentikan pemasukan oksigen ke dalam sel itu sama efeknya dengan menghentikan keluarnya uap air, maka kondisi yang menaikkan kelayuan serentak juga membatasi laju fotosintesis. Bagi orang awam mungkin tampak bahwa dalam keadaan kehilangan air yang terlalu cepat untuk diimbangi penambahannya kembali oleh akar, tumbuhan mendahulukan pengaturan air daripada fotosintesis. Secara ilmiah lebih cepat dikatakan bahwa penghentian pertumbuhan yang mengiringi kekurangan air adalah suatu konsekuensi struktur dan fungsi tubuh tumbuhan yang tidak dapat dihindarkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *