Advertisement

Konsep tentang hakikat atau kodrat manusia, yang merupakan pokok dari kehidupan sosial manusia, dapat dilacak dari orang-orang Yunani kuno yang mengelaborasi gagasan ‘alam’ yang melandasi ilmu pengetahuan barat. Setelah Thales, Anaxagoras dan para kosmologis lain mulai mempertanyakan prinsip-prinsip universal yang menjelaskan dunia; para Sofis seperti Antiphon dan Gorgias menyimpulkan bahwa hukum alam berbeda dan berlawanan dengan aturan-aturan hukum buatan manusia atau konvensi budaya. Socrates dan murid-muridnya menentang pemisahan antara manusia dan alam atau kehidupan sosial, dengan mengklaim bahwa apa yang ‘benar’ dan ‘adil’ adalah yang ‘berdasarkan pada alam’ (Plato, Republic) dan manusia adalah ‘binatang politik’ (Aristotales, Politics). Sejak itu, sejumlah teoretisi politik dan sosial (misalnya Hobbes, Locke, dan Rousseau) melihat bahwa kodrat manusia pada dasarnya egois dan menganggap masyarakat sebagai turunan dari perilaku individu, sedangkan yang lain (misalnya Hegel, Marx, dan Durkheim) berpendapat bahwa manusia secara alamiah bersifat sosial dan sifat-sifat individu berakar pada masyarakat dan sejarah (Strauss 1953). Asumsi yang pertama umumnya diambil oleh disiplin-disiplin seperti psikologi tingkah laku dan ekonomi klasik, sedangkan yang kedua diambil oleh sosiologi, antropologi budaya dan sejarah. Riset ilmiah yang mutakhir telah menampilkan ketidakmungkinan untuk mereduksi kontroversi kuno ini menjadi dikotomi sederhana antara alam dan buatan manusia. Beberapa aspek perilaku manusia tampaknya lebih dibentuk oleh pengalaman individu, situasi sosial atau lingkungan budaya yang ada. Faktor lain yang perlu diperhitungkan adalah predisposisi genetik, peristiwa kelahiran atau periode kritis dalam masa perkembangan anak-anak. Banyak variasi individu dalam kejiwaan dan perilakunya dikontrol oleh hormon, neurotrasnmitter, atau struktur awal pada otak, namun respon sistem biologis pada akhirnya tergantung pada perkembangan individu atau pengalamannya dalam proses hidup selanjutnya. Akibat interaksi antara faktor genetik, perkembangan dan sosial, hakikat manusia menjadi sangat kompleks dan adaptif. Individu-individu dari spesies manusia secara kodrati bersifat kooperatif sekaligus kompetitif, egois sekaligus dermawan. Sebagai hasilnya, ‘dari generasi ke generasi manusia terkesan memiliki kodrat atau hakikat keberadaan yang sama di mana siklus pengaruh minor faktor turunan terus bermain dan memberikan pengaruh melalui pola-pola yang terus berubah di antara jenis-jenis kelamin, lingkungan keluarga serta seluruh populasi’. Perspektif evolusioner mengklarifikasi debat lama mengenai kodrat manusia dengan membedakan aspek-aspek perilaku manusia yang relatif tidak berubah dan universal dengan yang bervariasi, yang, paling tidak sebagian, dikontrol oleh faktor-faktor biologis. Kodrat manusia tidak hanya bertumpu pada perkembangan kemampuan liguistik dan kultural yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, namun juga terletak pada perbedaan kebutuhan-kebutuhan manusia yang sejak lama dipahami sebagai sesuatu yang alamiah.

Kemiripan dengan spesies lain. Di antara ciri-ciri yang dimiliki oleh semua manusia, ada beberapa yang bisa dilacak hingga ke nenek-moyang vertebrata kita yang paling tua dan umumnya ciri itu ditemukan pada binatang berreproduksi : keseluruhan struktur tubuh vertebrata dan dorongan-dorongan biologis dasarnya, termasuk dorongan makan, rasa aman dan untuk spesies sosial status yang jelas. Sebagai mamalia, manusia berdarah hangat, memiliki ikatan sosial dan mengutarakan emosi dengan cara-cara tertentu yang juga berfungsi sebagai signal sosial. Sebagai primata, kita adalah spesies yang sangat cerdas dan memiliki pola-pola sosial dan strategi perilaku individual dalam menanggapi pasokan makanan, lingkungan fisik, dan pengalaman individual maupun kelompok. Sejarah evolusi ini dicerminkan pada struktur ‘tri-tunggal’ sistem syaraf pusat manusia, di mana otak mengontrol dorongan-dorongan dasar sebagai vertebrata, sistem anggota badan memodulasi emosi sebagai mamalia, dan neo-korteks yang diperluas sebagai primata memungkinkan manusia belajar dan memiliki keluwesan tingkah-laku. Setiap tingkatan evolusi ini memiliki konsekuensi terhadap tingkah-laku semua anggota spesies manusia. Sama dengan hampir semua vertebrata, manusia menunjukkan apa yang oleh ahli etologi disebut pola tindakan yang tetap, termasuk perwujudan-perwujudan sosial dan perilaku konsumsi untuk memuaskan kebutuhan makan dan reproduksi. Seperti hampir semua mamalia, wanita melahirkan setelah mengandung, menyusui dan merawat bayinya (kecuali terjadi gangguan hubungan ibu-anak) dan biasanya mengeluarkan tenaga lebih banyak ketimbang pria dalam proses reproduksi. Seperti hampir semua primata, manusia memandang masing-masing anggota kelompoknya sebagai individu tersendiri dan menggunakan tampilan-tampilan non-verbal, seperti ekspresi wajah, untuk memodulasi interaksi sosial. Ada berbagai ciri yang juga dimiliki oleh semua manusia. Salah satu yang paling nyata adalah kemampuan bicara (kemampuan linguistik yang kompleks, memakai gramatika untuk menghasilkan makna-makna yang benar-benar ‘terbuka’ dalam mengolah komunikasi dan informasi), dan teknologi-teknologi produktif yang kompleks (termasuk memelihara spesies-spesies lain, membuat alat-alat manufaktur atau persenjataan, membuat sawah beririgasi, dan mesin-mesin industri) dan juga sistem budaya yang memanfaatkan kemampuan simbolik dan linguistik untuk mengelaborasi pencapaian-pencapaian agama, politik, dan seni, yang sama sekali tak dikenal oleh binatang. Kendati simpanse menunjukkan banyak aspek keragaman budaya, tingkatan manusia jauh sekali lebih tinggi sehingga kodrat manusia tidak dapat direduksi ke akar evolusinya.

Advertisement

Keragaman manusia. Keanekaragaman tingkah laku sosial dan budaya dari spesies manusia yang begitu kaya itu sendiri merupakan salah satu karakteristik utama kodrat manusia. Beberapa unsur keragaman tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis. Perbedaan-perbedaan individual dapat dilacak pada temperamen-temperamen yang diwariskan amat bervariasi dalam sekian banyak dimensi seperti rasa malu dan sifat sosial, kecenderungan nekat dan kecenderungan hati-hati, atau kecenderung┬Čan mencari sesuatu yang baru dan mengulang hal-hal yang sama. Variasi variasi individual dalam memilih pasangan dan dalam tingkah laku ┬ábisa jadi disebabkan oleh faktor genetik, terutama perbedaan hormonal kedua orang tua, dan sebagian lagi dipengaruhi oleh pengalaman sosial individu. Kendati bukti-bukti dari test IQ sering berlawanan, perbedaan dalam hal kemampuan seperti koordinasi motorik yang halus atau kasar, kepekaan musikal atau artistik, dan kemampuan matematik, kendati membutuhkan latihan untuk menyempurnakannya, sedikit-banyak merupakan warisan. Ada juga yang menemukan bukti mengenai ketahanan genetik terhadap kanker, penyakit kejiwaan, kemampuan belajar, alkoholisme dan dorongan kejahatan, kendati masing-masing hal ini bisa muncul karena kombinasi berbagai faktor turunan, perkembangan keseharian dan lingkungan. Penggalian unsur turunan dalam perbedaan gender merupakan tema kontroversial, sebagian karena para pendukung maupun pengecamnya acapkali mengabaikan kemungkinan tumpang-tindihnya pola-pola pewarisan. Sebagai misal, kendati dimensi-dimensi kepribadian yang diuraikan di atas lazimnya terdistribusi secara merata, kaum pria umumnya lebih berani menempuh resiko ketimbang wanita. Sebagai akibatnya, suatu kepribadian tertentu bisa dibedakan di kalangan pria dan wanita (berdasarkan perbedaan gender). Kadangkala, pola-pola statistik bisa dilacak dari perbedaan hormonal selama masa perkembangan anak-anak. Sejumlah unsur perilaku mencerminkan respon-respon psikologis terhadap situasi-situasi tertentu yang memiliki makna evolusioner. Pada manusia, sebagaimana kebanyakan primata, sebagai misal, kaum pria yang dominan memiliki tingkat serotonin neurotransmitter lebih tinggi yang tingkatannya tergantung pada pandangan terhadap perilaku kepatuhan pihak yang dikuasainya; setelah status sosial berubah, terjadi modifikasi tingkatan neuro-transmitter tersebut. Tampaknya mekanisme-mekanisme alamiah dari respon tingkah laku yang plastis akan banyak terungkap melalui riset di akhir 1990-an.

Variasi budaya dan lingkungan.Di tingkat masyarakat secara keseluruhan, tampaknya ada hubungan-hubungan alamiah antara praktek-praktek budaya atau lingkungan sosial bila dibandingkan dengan apa yang dipelajari pada spesies lain oleh ahli etologi tingkah-laku. Di antara para pemburu-binatang atau pemburu-peramu seperti suku Kalahari San, pola-pola status yang egaliter dengan kepemimpinan informal dalam kelompok bisa dipandang sebagai respon adaptif terhadap lingkungan. Pola-pola hipergamos dari konsepsi stratifikasi sosial dan ketidaksamaan gender merupakan reaksi atau respon-respon yang khas bagi lingkungan yang aliran sumber dayanya kacau sehingga berkembang dalam pola saling memangsa, baik itu interspesifik atau pun intraspesifik. Walaupun banyak ilmuwan sosial mengandaikan variasi-variasi itu tidak banyak kaitannya dengan kodrat manusia, banyak ciri-ciri fakultatif yang pengungkapannya tergantung pada lingkungan khusus. Akibatnya, kodrat manusia dalam banyak segi merupakan sebuah variabel ketimbang konstanta. Karena lingkungan memainkan peran penting dalam membentuk pengungkapan potensi-potensi alamiah, misalnya, maka tidak mungkin lagi untuk mempertahankan pendapat bahwa lembaga sosial tertentu seperti perkawinan monogami senantiasa dan di mana-mana lebih ‘alamiah’ ketimbang alternatifnya, seperti poligami, atau (dalam situasi tertentu) selibat. Karena itu, acuan kepada ‘kodrat manusia’ dalam bentuk tunggal perlu dipahami sebagai penjelasan terhadap kecederungan sentral yang acapkali menjadi subyek untuk membentuk atau variasi, tergantung pada waktu dan tempat. Kendati memang ada yang universal, seperti rasa keadilan yang terungkap ketika serangan moralistik diarahkan kepada pelanggaran norma-norma kelompok, pola umum ini jarang digunakan untuk menjelaskan konflik-konflik sosial dalam masyarakat yang kompleks dan sedang mengalami perubahan secara cepat. Meskipun di masa depan riset ilmiah akan melengkapi detail-detail gambaran ini, bukti-bukti mutakhir membenarkan pandangan bahwa kodrat manusia sifatnya campur-aduk, dalam arti sangat kompleks dan bisa berubah-ubah. Ensensinya tidak tetap, sehingga tidak bisa dideduksi begitu saja dari hukum alam yang abadi dan terjaga.

Advertisement