Advertisement

Kondisi yang Mempengaruhi Laju Transpirasi, Oleh karena transpirasi melibatkan difusi uap air dari ruang-ruang antarsel ke udara melalui stomata, maka laju transpirasi akan bergantung pada: (1) tahanan jalur yang dilalui terhadap rnolekul-molekul uap air yang berdifusi, dan (2) perbedaan konsentrasi antara uap air di dalam dan di luar daun, yaitu ketajaman gradasi difusi. Setiap faktor lingkungan yang mempengaruhi baik tahanan terhadap difusi ataupun gradasi difusi akan dengan sendirinya mempengaruhi laju transpirasi.

Dalam setiap daun, tahanan yang diberikan ruang antarsel kepada difusi bebas gas adalah konstan karena tahanan ini ditentukan oleh anatomi daun, meskipun umumnya diperkirakan rendah. Asal stomata terbuka, tahanan total sepanjang jalur uap air juga menjadi rendah. Tetapi jika stomata tertutup, tahanan akan sangat tinggi sehingga transpirasi praktis berhenti meskipun udara di luar kering. Karena pengaruhnya dalam mengendalikan pembukaan dan penutupan sebagian besar stomata, rupanya cahaya mempengaruhi laju transpirasi lebih daripada faktor-faktor lingkungan lain. Sebagai akibat tanggap stomata terhadap cahaya, transpirasi cenderung berjalan lebih cepat pada siang hari daripada pada malam hari, ketika sebagian besar atau seluruhnya berlangsung melalui kutikula.

Advertisement

Bila stomata terbuka dan karena itu tahanan minimal, laju transpirasi dipengaruhi oleh sembarang faktor yang mempeng-aruhi ketajaman gradasi difusi antara ruang antarsel dan atmosfer. Karena dalam kondisi normal udara dalam ruang-ruang antarsel selalu lembap, ketajaman gradasi difusi bergantung pada kekeringan atmosfer. Kandungan air dalam udara kering dinyatakan dengan kelembapan nisbi, yaitu jumlah uap air dalam suatu volume udara tertentu yang dinyatakan sebagai persentase jumlah uap air yang terkandung dalam volume tersebut dalam keadaan jenuh pada suhu yang sama. Oleh karena jumlah air yang terkandung dalam keadaan jenuh bervariasi menurut suhunya (udara panas dapat menyimpan air lebih banyak daripada udara dingin), maka nilai kelembapan nisbi yang sama dapat menunjukkan kandungan air yang sangat berbeda. Oleh karena itu, kelembapan nisbi bukanlah ukuran terbaik untuk menyatakan kandungan air dalam udara bila yang dibicarakan adalah difusi uap air, seperti dalam transpirasi. Untuk maksud ini tekanan uap sebenarnya (mmHg) dalam udara merupakan satuan terbaik untuk menyatakan kelembapan, sebab satuan ini adalah ukuran potensi kimia, atau kemampuan berdifusi, molekul-molekul uap air. Bila stomata terbuka, laju transpirasi bergantung kepada perbedaan antara tekanan uap udara jenuh di dalam daun dan tekanan uap udara di luar daun. Bila faktor-faktor lain sama, semakin rendah tekanan uap dalam udara luar semakin cepat transpirasi terjadi.

Suhu mempengaruhi laju transpirasi karena suhu mempu-nyai efek yang berbeda terhadap tekanan uap di luar dan di dalam daun. Daun-daun cenderung menyamakan suhunya dengan suhu udara sekitarnya, dan karena udara dalam ruang-ruang antarsel biasanya dipertahankan dalam keadaan jenuh pada suhu daun yang berlaku, kenaikan suhu udara akan menyebabkan kenaikan tekanan uap dalam daun. Efek kenaikan suhu yang sama terhadap uap udara luar dapat diabaikan (kecuali di dekat kolam, danau, dan sebagainya), dan karena itu gradasi tekanan uap air di dalam dan di luar daun yang dihubungkan oleh stomata menjadi lebih tajam, sehingga laju transpirasi pun meningkat. Sebagai misal kita mempunyai sehelai daun yang stomatanya terbuka dan disimpan dalam udara pada suhu 20°C dengan tekanan uap sebesar 10.52 mmHg. Pada suhu ini tekanan uap dalam daun adalah sekitar 17.54 mmHg (yaitu tekanan uap jenuh pada suhu 20°C), dan oleh karena itu perbedaan tekanan uap di dalam dan di luar adalah 7.02 mmHg (  11.4). Sekiranya suhu baik di luar maupun di dalam daun meningkat dari 20°C menjadi 30°C, maka pada 30°C tekanan uap di dalam akan meningkat sampai atmosfer kira-kira 31.82 mmHg (yaitu tekanan uap jenuh pada 30°C), dekat daun tetapi sementara itu tekanan uap udara tetap tidak berubah, yaitu 10.52 mmHg. Perbedaan antara tekanan uap di dalam dan di luar daun adalah 21.30 mmHg. Dari angka-angka ini dapat dilihat bahwa uap air akan berdifusi ke luar daun pada suhu 30°C dengan laju hampir tiga kali laju pada suhu 20°C. Dalam contoh ini kita merumuskan bahwa suhu daun dan udara sekitarnya adalah sama. Pada kenyataannya daun-daun yang terkena cahaya matahari langsung mempunyai suhu beberapa derajat lebih tinggi daripada udara .sekitarnya, dan karena itu cahaya mempengaruhi transpirasi bukan hanya melalui pengendalian pembukaan dan penutupan stomata tetapi juga melalui efek sekunder terhadap suhu daun.

Efek angin terhadap laju transpirasi juga sebagian bergantung pada ketajaman gradasi difusi. Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan daun yang aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan terdapat gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan udara jenuh bertindak , sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar permukaan daun. Oleh karena itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi oleh uap air untuk berdifusi dari ruang-ruang antarsel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada lubang-lubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan udara jenuh yang berdampingan dengan permukaan daun. Dalam udara tenang tahanan yang kedua ini beberapa kali lebih besar daripada tahanan stomata dan sebagian besar mengendalikan laju transpirasi. Dalam kondisi seperti ini perubahan dalam pembukaan lubang stomata sedikit sekali pengaruhnya terhadap laju transpirasi, kecuali bila stomata hampir tertutup dan tahanannya hampir sebesar tahanan lapisan udara jenuh. Salah satu akibat adanya angin adalah mencegah terkumpulnya uap air di sekitar permukaan daun. J adi dengan mengurangi atau menghilangkan tahanan kedua ini gradasi uap air melalui stomata menjadi lebih tajam dan dengan demikian meningkatkan transpirasi. Oleh karena itu, dalam udara yang bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang (  11.5). Namun, pengaruh angin sebenarnya lebih kompleks daripada uraian tadi karena kecenderungannya untuk meningkatkan laju transpirasi sampai tahap tertentu dikacaukan oleh kecenderungannya untuk mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi laju transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi.

Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju transpirasi akan segera tampak.

 

Advertisement