Advertisement

Kesulitan dalam Analisis: Amalgam, Sama dengan telaah fonologis di muka yang mengurai penanda menjadi satuan minima yang berurutan, yaitu fonem, telaah utama di sini bertugas mengurai ujaran atau fragmen-fragmen ujaran men­jadi satuan bermakna minima yang berurutan, yang kami sebut monem. Namun, perlu disadari dari awal bahwa telaah itu ada kala­nya tidak sampai ke tujuannya. Alasannya adalah karena monem me­rupakan satuan bermuka ganda: satu muka petanda dan satu muka penanda yang merupakan pengungkapan petanda. Agar petanda ter­ungkap, ujaran-ujaran harus berbeda secara fonologis dari apa yang tidak berbeda. Namun, mungkin saja terjadi bahwa dua petanda yang hadir bersama di dalam ujaran, penandanya bertumpang tindih sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin diurai menjadi segmen-seg­men yang berurutan. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, petanda “ber-” dan petanda “ajar” dalam tanda ber- dan ajar. Kedua penanda itu biasanya adalah /bar/ dan /ajar/, seperti dalam beranak dan da­lam diajar. Namun, jika kedua tanda itu hadir bersama di dalam wi­layah tuturan yang sama, menjadi penanda yang khas, yaitu /bola-jar/ yang dituliskan belajar. Di dalam bahasa Inggris hal yang sama terjadi misalnya pada petanda “memotong” dan petanda “lampau”. Penanda “memotong” adalah /knit/; sedangkan penanda “lampau” adalah /d/. Namun, jika keduanya dipertemukan di dalam ujaran, pengungkapannya menjadi /kvt/, seperti dalam he cut “(tadi) is me­motong” (bk. kala kini he cuts /hi kvts/). Di dalam kata Latin malorum “apel-apel”, -orum merupakan penanda yang memiliki dua petanda “genitif’ dan “jamak” dan tidak dapat diketahui lagi mana yang mengungkapkan genitif dan mana yang mengungkapkan jamak. Di dalam kasus-kasus itu dapat dikatakan bahwa beberapa pe­nanda yang berbeda beramalgam.

Di dalam amalgam itu dapat pula dilihat segi khusus di dalam gejala yang lebih umum sifatnya, yaitu bahwa sebuah petanda ter­ungkap dalam berbagai bentuk sesuai dengan konteks morfologisnya. Dalam bahasa Indonesia, petanda “gantung” terungkap, sesuai dengan konteksnya, dalam /tergantul)/, /diganttu3/, /mnganturj,/. Kehadiran variasi tersebut, yang disebut demikian karena berdistri­busi komplementer, menunjukkan bahwa jelas sebuah monem tidak mungkin diidentifikasi berdasarkan penandanya. Penggunaan konsep amalgam memberi kebebasan di dalam pemerian. Misalnya dalam kasus kata gerigi ‘gigi banyak’ yang berasal dari gigi, orang dapat menganalisisnya sebagai penanda /gigi/ yang merupakan peng­ungkapan petanda “gigi” dan /air/ yang mengungkapkan petanda “banyak”, atau menafsirkan /garigi/ sebagai amalgam yang meng­ungkapkan dua petanda yang berbeda.

Advertisement

Advertisement