Advertisement

Kesalingpahaman Sebagai Kriteria, Ahli linguistik tidak akan puas dengan penggunaan istilah-istilah yang didasari oleh suatu pandangan terhadap fakta yang dangkal. Jika ingin setia kepada definisi bahasa yang telah dikemukakan di atas, kita hams berkata bahwa ada bahasa apabila komunikasi terjadi di dalam rangka artikulasi, ganda yang lisan, dan bahwa kita ber­urusan dengan satu bahasa yang sama selama komunikasi terjamin secara efektif. Definisi itu sesuai dengan penggunaan istilah yang lazim: bahasa Perancis memang alat yang digunakan oleh sejumlah manusia untuk berkomunikasi di antara mereka. Namun, kita tidak dapat lagi menolak etiket “bahasa” bagi idiom setempat yang diguna­kan petani Baska atau petani Breiz, yang jelas merupakan alat ber­komunikasi verbal di antara populasi pedesaan di daerah tertentu. “Bahasa” itu merupakan alat yang berbeda dengan bahasa Perancis, karena alat ini tidak mungkin digunakan untuk mengadakan komu­nikasi dengan seorang frankofon biasa. Sayangnya, kriteria kesalingpahaman ini tidak selalu tegas. Mi­salnya, suatu daerah dengan penduduk yang tinggal di setiap lembah atau di setiap dukuh akan memahami tetangganya yang terdekat tan-pa kesulitan. Kita katakan bahwa mereka berbicara dalam bahasa yang sama, meskipun dari wilayah yang satu ke wilayah yang lain ter­’dapat perbedaan kosa kata, tata bahasa atau sistem bunyi. Namun, jika kita berhubungnan dengan penutur yang berasal dari dua ujung wilayah yang berlawanan, mungkin sekali jumlah perbedaan itu sede­mikian besar sehingga mereka tidak lagi saling memahami. Secara umum, ada berbagai tingkatan yang mungkin terdapat di antara pe­mahaman segera dan ketakpahaman mutlak. Di lain pihak, komuni­kasi dapat terjadi dengan mudah mengenai pokok masalah tertentu, namun hampir tidak mungkin mengenai pokok masalah yang lain: se­orang Perancis pada umumnya mengerti dengan mudah apa yang dikatakan orang Quebec; namun, begitu ia menggunakan bahasa Inggris, ia mungkin mendapat kesulitan untuk berkomunikasi dengan montir dan pelayan restauran. Sering kali ketidaksalingpahaman yang pada mulanya ada akan hilang, begitu kewaswasan awal hilang dan beberapa korelasi sistematika dikenali: seorang Denmark dan se­orang Norwegia akan saling memahami bahwa yang dikatakan [sk] oleh yang satu, diucapkan [g], oleh yang lain, dalam ski, misalnya.

Namun, tentu saja ada kasus batas. Mungkin saja terjadi bahwa ahli linguistik memasukkan unsur-unsur dari luar dan berbicara ten-tang bahasa dan bukannya dialek, apabila dua variasi menjadi idiom resmi di dalam dua badan politik yang berbeda. Namun, dapat pula terjadi bahwa ahli linguistik itu berminat mengelompokkan berbagai variasi bahasa sesuai dengan jenis dan penggunaannya atau dengan penyebarannya di dalam ruang masyarakat, tanpa perlu adanya ting­kat pemahaman di antara orang yang berbicara variasi bahasa itu: berbagai dialek dari satu bahasa dianggap sebagai pembentuk suatu keutuhan tanpa perlu adanya anggapan tentang kesalingpahaman se­cara umum.

Advertisement

Advertisement