Advertisement

Kerumitan Nyata dalam Situasi Ekabahasa, Jumlah variasi bahasa yang mungkin dikenal oleh seorang anak bergantung dari masyarakat tempatnya tumbuh dan dari status sosi­alnya. Tiga puluh tahun yang lalu, seorang anak dari kalangan bor­juis Paris dengan cepat dapat membedakan antara bentuk bahasa yang digunakannya di dalam kehidupan sehari-hari dan bahasa pasar yang ditandai oleh tata kalimat dan prosodinya (tekanan yang secara otomatis diletakkan di suku kedua dari akhir), bentuk sastra yang ber­ciri kosa kata dan tata kalimat serta morfologi khusus (bentuk kata kerja dalam kala passe simple), dan bentuk puitis di dalam bahasa sastra dengan aturan persajakan dan ciri fonologi yang khas (e bisu dihitung dalam persukuan kata). Ke dalam variasi itu dapat ditam­bahkan gaya argor, yang tidak senonoh, yang digunakan di tempat bermain di sekolah, namun pada umumnya dihindari di dalam ke­luarga. Pengalaman bahasa yang lain, seperti bahasa Latin gereja atau sekolah, berbagai bahasa yang hidup tidak akan termasuk dalam hitungan, karena bagi anak itu, kenyataan bahasa tadi tidak menjadi bagian dari bahasanya. Pemisahan yang dilakukan di antara bahasa “ibu” dan bahasa asing mungkin saja dapat dibenarkan sekali oleh kasus yang baru saja kita amati: segala bentuk Perancis yang telah kami sebutkan tadi memiliki kesamaan pokok dalam sistem fonologi, tata bahasa dan kosa kata, dan sebagai suatu keutuhan beroposisi secara riil dengan apa yang dapat disebut “bahasa Latin” atau “bahasa Inggris”. Namun, tidak berarti bahwa selalu dapat membuat batas yang jelas di antaranya.

 

Advertisement

Advertisement