Advertisement

Kenyataan Fisik dan Fungsi Bahasa, Ciri fonis yang sama mungkin mempunyai fungsi tertentu dalam satu bahasa dan fungsi yang sama sekali berbeda dalam bahasa lain. Hamzah, yang dalam bahasa Arab Mesir misalnya merupakan sebuah fonem, dalam bahasa Indonesia tidak berfungsi membedakan arti, namun hanya berfungsi kontrastif karena selalu terletak di akhir kata, misalnya awak /awa’/. Dalam bahasa Hottentot dan bahasa Bosman terdapat bunyi ceklik yang dianggap fonem, padahal apabila bunyi tersebut diucapkan berulang kali dalam bahasa Perancis berarti suatu kejengkelan dan ditulis taratata atau tststs. Hal ini berarti bahwa ba­hasa Afrika Selatan memberi fungsi distingtif pada bunyi yang dalam bahasa Perancis berfungsi ekspresif. Dalam bahasa Arab, r getar dan r grasseye, yang terakhir ini dituliskan gh dalam transkripsi kata Maghreb misalnya, merupakan dua fonem yang berbeda, sedangkan dalam bahasa Perancis keduanya digunakan tanpa membedakan arti, tetapi hanya menunjukkan kepribadian pembicaranya. Kenyataan yang paling memperlihatkan bahwa tidak ada saling ketergantungan antara kenyataan fisik dan fungsi bahasa adalah penggunaan apa yang disebut gelombang berlagu di dalam berbagai bahasa. Berikut ini akan kita lihat tingkat ketinggian lagu dan arah lengkung lagu yang dapat berfungsi distingtif, yaitu apabila unsur-unsur tersebut beroposisi satu dengan lainnya seperti halnya nada, dapat berfungsi kontrastif apabila unsur tersebut menonjolkan nilai tekanan, dan ber­fungsi ekspresif apabila dianggap sebagai fakta intonasi.

Advertisement
Advertisement