Advertisement

Kegunaan Linguistik, Deskripsi apa pun mengharuskan penyeleksian. Objek apa pun, sesederhana apa pun nampaknya pada pandangan pertama, dapat menampilkan kesengkarutan yang tidak terbatas, padahal suatu des­kripsi harus terbatas. Hal itu berarti bahwa hanya ciri-ciri tertentu sa­ja yang dapat dimunculkan dari objek yang akan dideskripsikan. Besar kemungkinan ciri-ciri yang digali oleh dua orang tidak akan sama. Di hadapan pohon yang sama, seorang pengamat akan men­catat kekokohan batang dan kerindangan daunnya; sedangkan peng­amat yang lain akan mengingat kilap kulit batang dan daunnya; pengamat ketiga akan mencoba menghitung dengan angka; yang keempat akan menunjukkan bentuk khas dari setiap unsurnya. Des­kripsi apa pun berterima dengan syarat deskripsi itu bersifat padu, artinya disusun dari sudut pandang tertentu. Sekali sudut pandang itu diterima, ciri tertentu yang dianggap berguna, harus diambil, sedangkan yang lain yang tidak berguna harus dikesampingkan. Jelas bahwa dari sudut pandang penggergaji batang kayu, warna atau ben­tuk daun tidak berguna, begitu pula tenaga panas yang mungkin di­hasilkan dari kayu, dari sudut pandang pelukis. Setiap ilmu mempra­anggapkan pilihan suatu sudut pandang yang khas: satu-satunya yang berguna di dalam ilmu hisab adalah angka, di dalam ilmu ukur ada­lah bentuk, sedangkan di dalam kalorimetri adalah suhu. Tak berbe­da halnya di dalam hal deskripsi linguistik. Kita ambil contoh sebuah fragmen dari tuturan. Fragmen itu dapat ditelaah sebagai gejala fisik, suatu deret getaran yang dapat direkam ahli akustik berkat mesin-mesinnya dan nantinya dideskripsikan dalam bentuk frekuensi dan amplitudo. Seorang ahli faal dapat mengkaji fragmen tadi dari sudut produksinya. Ia akan mencatat alat tubuh apa saja yang meme­gang peran dan dengan cara apa. Ahli akustik maupun ahli faal mungkin sekali dapat menyumbangkan hasil penelitiannya untuk me­mudahkan tugas pendeskripsi, namun tak sesaat pun mereka dapat memotong pekerjaan ahli linguistik.

Advertisement
Advertisement