Advertisement

Keanekaan yang Tak Nampak, Idealnya, di dalam berbahasa para penutur selalu melakukan dengan tepat pembedaan yang sama dari segi fonologi, morfologi, dan leksikal, dengan kata lain mereka yang menggunakan struktur bahasa yang sama. Dalam kenyataannya, di dalam hubungan antara pribadi dari masyarakat yang sama, identitas absolut dari sistem yang diguna­kan nampaknya lebih berupa pengecualian daripada kaidah: dari 66 orang Paris yang berusia 20 sampai 60 tahun yang berasal dari lingkungan borjuis dan dikumpulkan secara acak pada tahun 1941, tidak dapat ditemukan dua orang yang menjawab secara mutlak sama untuk kelima puluh pertanyaan mengenai sistem vokal setiap infor­man. Yang mengagumkan adalah bahwa perbedaan bahasa yang di­berikan oleh jawaban yang menyebar itu tidak menghalangi pema­harnan, tidak dicatat, pun tidak ditangkap. Setiap informan mengira berbicara seperti yang lain, karena semua berbicara “bahasa” yang sama. Karena kebutuhan masyarakat memaksanya untuk diwujud­kan, identitas bahasa itu dipaksakan kepada para penutur, sehingga membuat mereka tidak peka terhadap divergensi dan menghalangi mereka untuk memperhatikan kekhasan pribadi seperti tamber, ciri bahasa yang khas yang secara tidak sengaja akan menarik perhatian pendengar.

Toleransi yang tak-sukarela itu tentu saja diajarkan bersama ke­biasaan bahasa, artinya dalam masa kanak-kanak: anak belajar ba­hasa”nya” melalui peniruan dari lingkungannya. Selama tidak ada homogenitas bahasa yang menyeluruh di dalam lingkungan itu, anak itu akan dipaksa untuk memilih, mensinkretisasi, dan membiaskan. Akhirnya, ia memperoleh suatu sistem yang jelas beroposisi dengan yang digunakannya secara aktif. Namun, tidak satu pun ciri bahasa yang telah dipajangkan padanya selama ia belajar nampak tidak wa­jar baginya, apakah ciri itu menjadi bagian sistem dari pribadinya atau tidak. Lagi pula, ciri seperti itu akan dirasakannya sebagai tidak enak, kasar, tidak senonoh atau, sebaliknya halus, tinggi, berprestise, tergantung dari perasaannya terhadap orang-orang di lingkungannya yang mempraktekkannya. Sebenarnya, sejumlah besar perilaku baha­sa akan nampak baginya begitu wajar, begitu lazim, meskipun tidak digunakannya sendiri, sehingga ia tidak menangkap perbedaannya. Dengan kata lain, setiap penutur memiliki norma bahasa yang aktif, memaksa, yang mengatur penggunaan bahasanya, dan norma pasif, yang jauh lebih kendur dan toleran. Orang Perancis yang membeda­kan /a/ depan dan /á/ belakang, dididik untuk memahami suatu bentuk bahasa Perancis di mana patte “kaki binatang” dan pate ‘adonan’, tache ‘tugas’ dan tache ‘noda’ dilafalkan secara sama, dan dia bahkan tidak “mendengar” bahwa rekan sebangsanya melafalkan age ‘usia’ atau sable ‘pasir’ dengan a depan padahal ia seharusnya menggunakan a belakang. Penutur yang tidak membedakan kedua a itu, tidak menaruh perhatian sedikit pun pada pembedaan yang dilakukan oleh orang sejamannya, selama variasi di dalam realisasi  kedua fonem mereka tidak melampaui batas kebiasaannya. Dalam bi­dang kosa kata, toleransi lebih besar lagi. Sering kali, namun tidak selalu, toleransi itu lebih sadar sifatnya: hal yang sama disebut gam-bas oleh beberapa orang dan oyong oleh yang lain, yang satu menga­takan mengaduk sayur, yang lain mengacau sayur, demikian juga ada yang mengatakan loncang dan ada yang mengatakan daun bawang. Sedangkan mengenai peristiwa “tata bahasa”, norma Perancis telah diseragamkan berabad-abad lamanya oleh pembakuan yang sadar. Pada tingkatan ini, hal itu lebih dianggap pengecualian daripada kai­dah. Meskipun demikian, dalam bahasa Perancis masih ada keraguan tata bahasa mengenai beberapa hal: it s’assied atau it s’assoit ‘ia duduk’, je puis atau je Vieux ‘saya dapat’, dan masih ada yang lain.

Advertisement

Advertisement