HUBUNGAN PSIKOLOGI SOSIAL DENGAN ILMU-ILMU LAIN

adsense-fallback

Menurut Bonner (1953) perkembangan psikologi sosial tidak terlepas dari pengaruh ilmu-ilmu lain. Sebagai ilmu tentang perilaku, psikologi sosial terkait dengan ilmu faal dan biologi, karena bagaimanapun juga perilaku ditentukan oleh substruktur biologik manusia, Selanjutnya, perilaku sosial berarti juga penyesuaian diri pada lingkungan sosial. Kegagalan atau kelainan dalam penyesuaian diri menjadi persoalan psikologik tersendiri. Dalam hal ini psikologi sosial terkait dengan psikiatri, sedangkan untuk menjelaskan proses-proses psikologik yang terdapat dalam upaya penyesuaian diri individu dengan-lingkungannya, pada awal perkembangannya psikoJogi sosial masih sangat dipengaruhi oleh psikoanalisis (yaitu: aliran psikologi yang menganalisis alam bawah sadar dan ketidaksaaaran untuk menerangkan tingkah laku) seperti yang tampak dalam artikelartikel Journal of Abnormal. Lebih lanjut, Bonner (1953) menyatakan bahwa ilmu lain yang berpengaruh pada psikologi sosial adalah sosiologi dan antropologi. Sosiologi terkait dengan perilaku hubungan antarindividu atau antara individu dan kelompok atau antar kelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosial. Sebaliknya, antropologi berpengaruh karena perilaku sosial itu selamanya terjadi di dalam suprastruktur budaya tertentu.

adsense-fallback

Walaupun demikian, psikologi sosial dan psikologi pada umumnya jelas berbeda dari ilmu-ilmu lain yang mempengaruhinya itu. Menurut Bonner (1953) perbedaan antara psikologi dari biologi adalah sebagai berikut. Psikologi adalah ilmu yang subjektif, sedangkan biologi adalah ilmu yang objektif. Psikologi disebut sebagai lmu yang subjektif karena mempelajari pengindraan (sensation) dan persepsi manusia sehingga manusia dianggap sebagai subjek atau pelaku,bukan objek. Sebaliknya. biologi mempelajari manusia sebagai jasad atau objek. Jadi, perbedaan selanjutnya antara psikologi dan biologi adalah bahwa psikologi mempelajari nilai-nilai yang berkembang dari persepsi subjek, sementara biologi mempelajari fakta yang diperoleh dari penelitian terhadap jasad manusia. Yang terakhir adalah bahwa psikologi mempelajari perilaku secara “molar” (perilaku penyesuaian diri secara menyeluruh), sementara biologi (termasuk ilmu Faal) mempelajari perilaku manusia secara “molekular”, yaitu mempelajari molekul-molekul (bagian-bagian) dari perilaku berupa gerakan, refleks, proses-proses ketubuhan, dan sebagainya.

Selanjutnya,. dengan psikologi seridiri sebagai ilmu induknya, psikologi sosial juga mempunyai perbedaan. Menurut Bohrier (1953) psikologi sosial mempelajari perilaku individu yang bermakna dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang sosialnya (dalam kasus Ririn: perilaku Ririn memamerkan nilai ulangan matematikanya dan ucapan ibu sebagai tanggapannya). Sebaliknya, psikologi umum mempelajari perilaku apa saja, terlepas dari makna sosialnya, seperti proses persepsi, proses belajar, dan reaksi terhadap rangsang yang dapat terjadi di rrf’ana saja, kapan saja dan pada siapa saja. Jadi, penelitian psikologi umum lebih banyak dilaksanakan di ruang eksperimen (laboratorium) dengan menggunakan metode eksperimen.

Psikologi sosial berbeda dengan sosiologi dalam hal fokus studinya. Jika psikologi sosial memusatkan penelitiannya pada perilaku individu, sosiologi tidak memperhatikan individu. Yang menjadi perhatian sosiologi adalah sistem dan struktur sosial yang dapat berubah atau konstan tanpa tergantung pada individuindividu (sistem dan struktur yang terdapat pada sebuah desa, misalnya, akan berlangsung terus walaupun ada penduduk yang pergi dan/atau ada pendatang baru). Dengan demikian, unit analisis psikologi sosial adalah individu, sedangkan unit analisis siologi adalah kelompok (sama dengan ilmu Ekonomi dan Antropologi, walaupun pendekatannya berbeda).

Sementara itu, di dalam ilmu psikologi sosial sendiri, perlu dibedakan antara ilmu dan terapannya. Krech & Crutchfield (1962), mengatakan bahwa ilmu dapat menjadi pengetahuan terapan, tetapi ilmu itu sendiri tidak harus terkait dengan terapan. Ilmu dapat berkembang terus terlepas dari terapannya. Jika harus selalu terkait dengan terapannya, ilmu jutsru akan terhambat perkembangannya.

Sebagai ilustrasi, Krech & Crutchfield (1962) mencontohkan panah beracun yang digunakan oleh suku primitif untuk membunuh hewan buruannya atau musuhnya. Racun yang dioleskan pada ujung-ujung panah tersebut adalah ramuan daundaiihari yang pada’ hakikatriya’ mdrtipakah teripan dari ilmu farmakologi (khasiat obat). Akan tetapi, keterampilan meramu racun itu tidak akan berkembang karena tidak dikaitkan atau didasarkan kepada farmakologi itu sendiri, melainkan dihubungan dengan kepercayaan tentang kesaktian, dewa, dan roh halus. Upaya untuk mencari ramuan yang lebih baik dari yang sudah diajarkan secara turun-temurun itu justru akan dianggap menentang hukum alam, tabu atau berdosa. Sementara itu, ilmu farmakologi sendiri berkembang terus tanpa mempedulikan apakah hasilnya akan dimanfaatkan untuk membuat racun pembunuh atau membuat obat. Kemudian, ada orang yang memanfaatkan ilmu itu untuk tujuan terapan, itu adalah di luar bidang ilmu itu sendiri.

Di bidang psikologi sosial juga terjadi analogi yang sama. Seorang anggota polisi yang sudah terlatih, dapat menginterogasi tahanannya sampai mengaku tanpa kekerasan dengan menggunakan teknik wawancara khusus (membujuk, mendiamkan, menghadapkan dengan saksi dan barang bukti, dan sebagainya) yang semuanya itu bisa dijelaskan dari sudut ilmu psikologi sosial, tetapi anggota polisi itu sendiri mungkin tidak pernah mengetahui atau mempelajari psikologi sosial, sementara pakar psikologi sosial belum tentu dapat melakukan wawancara (interogasi) sebaik petugas polisi tersebut.

var dd_offset_from_content = 40;var dd_top_offset_from_content = 0;var dd_override_start_anchor_id = "";var dd_override_top_offset = "";

adsense-fallback