Advertisement

Ganggang Hijau Berbentuk Filamen dan Parenkim Ulothrix, Ulothrix adalah sebuah marga ganggang hijau berbentuk filamen yang tumbuh di atas karang atau batu pada suatu aliran dan di danau air tawar, walaupun ada juga beberapa jenis ganggang ini yang hidup di laut. Tumbuhan Ulothrix terdiri atas filamen tak bercabang, tersusun atas sel-sel berbentuk silinder pendek yang lebarnya lebih besar daripada panjangnya (2.8a). Semua sel filamen itu sama bentuknya dan mampu membelah diri serta berkembang biak, kecuali sebuah sel pada pangkal filamen itu, yang terikat pada substratnya. Sel ini dikenal dengan istilah penempel (holdfast) dan lebih panjang serta lebih sempit daripada sel-sel lain dan permukaan bawahnya menyesuaikan diri dengan ketidakrata-an permukaan substrat, jadi merupakan jangkar bagi keselu-ruhan filamen. Setiap sel vegetatif memiliki bentuk kloroplas yang khas, yang membentuk cincin tak sempurna tepat di dalam dinding sel yang berselulosa (2.8c). Di dalam kloroplas terdapat vakuola tengah tempat melayangnya sebuah inti yang terikat oleh pita protoplasma.

Filamen memperpanjang ukurannya dengan jalan pembe-lahan sel. Caranya berbeda dengan yang terjadi pada ganggang yang sudah dipelajari di atas, tetapi sangat mirip dengan apa yang terjadi pada tumbuhan tinggi. Jika sebuah sel Ulothrix membelah diri, protoplasmanya membelah diri menjadi dua protoplasma anak seperti biasa, sedangkan pada Chlamydomonas (umpamanya) dinding barunya terbentuk di sekitar setiap. protoplasma anak dan dinding sel induknya akhirnya hancur; pada Ulothrix protoplasma anak itu terpisah satu sama lain dengan jalan pembentukan sebuah dindingsilang yang tumbuh ke dalam dari dinding lama sel induknya. Oleh karena itu kedua sel anak itu terbungkus sebagian oleh dinding pembatas baru dan sebagian lagi oleh dinding lama sel tetua (2.8b). Pada Ulothrix dinding pemisahnya selalu terbentuk pada dataran yang sama, dan hal ini mengakibatkan pembentukan tubuh tumbuhan yang berbentuk filamen.

Advertisement

Perkembangbiakan aseksual, yaitu pelipatgandaan filamen sebagai hal yang berlawanan dengan peningkatan panjangnya, terjadi melalui dua cara:

  1. Fragmentasi. Hal ini sangat umum terjadi selama pertum-buhan aktif.
  2. Pembentukan zoospora. Hal ini dapat terjadi pada semua sel filamen, kecuali sel dasar.

Jika pembentukan zigospora dimulai, sel-sel vegetatifnya menjadi berwarna hijau gelap dan isinya mulai mengkerut lalu lepas dari dinding sel. Kemudian setiap protoplasma membe-lah diri satu kali atau berkali-kali, sehingga akhirnya setiap sel berisi dua sampai enam belas (kadang-kadang tiga puluh dua) protoplasma kecil-kecil, jumlahnya konstan untuk setiap filamen tertentu (2.8c). Protoplasma-protolasma ini berkembang menjadi zoospora, masing-masing berisi sebuah kloroplas, pirenoid, bintik mata, inti, dua vakuola kontraktil dan empat flagel. Selain memiliki empat flagel, zoospora ini sangat mirip sel-sel Chlamydomonas. Zoospora melepaskan diri melalui sebuah pori yang terjadi pada dinding lateral sel tempat terbentuknya zoospora itu, dan setelah berenang beberapa saat, akhirnya menetap pada suatu permukaan yang cocok, melalui ujung yang berflagel. Tiap zoospora lalu menyerap kembali flagelnya atau kehilangan flagel itu, memperpanjang dan membelah diri berulang-ulang untuk menghasilkan filamen baru. Urutan perkembangan ini, yang dimulai dari sel tunggal yang dapat bergerak dan diakhiri dengan filamen tak bercabang, barangkali menyatakan cara organisme berfilamen itu berevolusi.

Ulothrix berkembang biak secara aseksual melalui garnet vang berflagel dua (2.8c). Garnet ini dihasilkan melalui cara yang sama seperti zoospora, tetapi pembelahan protoplasmanya berlanjut sampai terbentuk protoplasma anak sebanyak 32 sampai 64 tiap sel. Garnet-garnet pada dasarnya sama dengan zoospora, tetapi berflagel dua, sehingga lebih mirip dengan Chlamydomonas daripada zoospora. Garnet-garnet ini rupanya tidak mampu berkecambah menjadi filamen baru, dan hal ini memang tidak mengherankan mengingat ukurannya yang kecil itu. Seperti halnya zoospora, garnet melepaskan diri melalui sebuah pori pada dinding sel tetuanya dan keluar ke perairan sekitarnya, untuk kemudian lebur berpasangan. Semua jenis Ulothrix secara fisiologi adalah heterotalus dan isogami. Zigotnya yang diploid melanjutkan berenang-renang untuk waktu pendek, tetapi kemudian menetap dan berubah menjadi zigospora dengan membentuk dinding tebal sekeliling dirinya. Menjelang datangnya musim yang cocok, meiosis berlangsung dan muncullah empat zigospora yang haploid berflagel empat. Masing-masing zoospora ini, seperti halnya zoospora yang dihasilkan secara aseksual, tumbuh menjadi sebuah filamen vegetatif baru. Jadi Ulothrix itu, walaupun berupa filamen tak bergerak, berkembang biak dengan zoospora dan garnet yang dapat bergerak yang mirip sel-sel Chlamydomonas. Hal ini menunjukkan bahwa organisme yang mirip Chlamydomonaslah yang merupakan nenek-moyangnya.

 

 

Advertisement