FUNGSI DISAIN EKSPERIMENTAL

37 views

Eksperimen-eksperimen yang mencakup pengenalan intervensi terencana (biasanya disebut treatment) dalam suatu situasi dengan tujuan untuk mencapai hasil atau perubahan tertentu, merupakan pengertian umum dari istilah disain eksperimental. Disain eksperimental yang baik akan membantu proses pelacakan atau pemahaman melalui tiga cara. Pertama, disain eksperimental tersebut menerjemahkan semua aspek dari suatu hipotesis (pernyataan mengenai hubungan antara tindakan dengan hasil) menjadi langkah-langkah operasional yang mencakup rumusan subyek, perilaku, situasi, peralatan, prosedur dan sebagainya. Lebih lanjut hal ini akan memungkinkan terciptanya hipotesis yang dapat diuji secara empiris. Kedua j disain eksperimental akan menyisihkan berbagai alternatif penjelasan yang relatif paling lemah. Sebagai contoh, melalui eksperimen akan terlihat unsur-unsur kajian yang perlu disimak lebih lanjut, dan hal-hal lain yang tidak relevan. Pada pengujian berikutnya, semua hal yang tidak relevan itu bisa disisihkan demi merumuskan penjelasan terbaik. Ketiga, disain eksperimental memudahkan pemahaman atas hubungan antara perubahan dengan variabel-variabel lainnya sehingga memungkinkan tercapainya pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan itu sendiri. Sebagai contoh, dengan disain yang baik kita dapat mengetahui apakah suatu tindakan lebih berhasil guna terhadap subjek tertentu (pria atau wanita, pemuda atau kaum lanjut usia. dan sebagainya).

Logika disain eksperimental. Langkah pertama dalam disain eksperimental adalah menerjemahkan perkiraan atau harapan dalam suatu hipotesis menjadi rumusan yang lebih operasional. Sebagai contoh, hipotesis yang berbunyi “penyusunan kerangka karangan pendahuluan akan memperbaiki hasil tulisan” harus dijabarkan menjadi langkah-langkah pembuatan kerangka karangan itu sendiri, dan aspek-aspek penulisan apa yang harus dipenuhi. Ketepatan penerjemahan itu sangatlah penting. Jika hal-hal yang harus dilakukan dalam penyusunan kerangka tidak dilakukan, maka pembuatan kerangka itu tidak akan memperbaiki hasil final tulisan secara memadai. Setelah operasionalisasi itu, langkah berikutnya adalah penciptaan situasi yang memungkinkan dilakukannya tindakan atau perubahan yang diperlukan. Ini perlu untuk menyikapi fakta bahwa situasi lingkungan seialu berpengaruh. Dengan cara ini bisa dilakukan serangkaian percobaan untuk kemudian dibandingkan hasil-hasilnya. Melalui pilihan disain yang memadai, maka akan diperoleh serangkaian alternatif yang darinya dapat dipilih salah satu atau beberapa di antaranya yang terbaik. Untuk menjelaskan sesuatu, penggalian serangkaian alternatif sangatlah bermanfaat karena hal itu akan mencakup berbagai kemungkinan yang mungkin saja luput dari tinjauan pertama. Seandainya data yang ada sesuai dengan dugaan peneliti, maka masih perlu dilakukan pengujian akhir dalam kerangka disain agar hipotesis yang tengah diuji itu terbebas dari diskonfirmasi. Namun adakalanya suatu hipotesis tidak bisa diuji dalam semua situasi, sehingga perlu diciptakan pula sejumlah prediksi serupa atau yang mirip demi mempertajam akurasi. Sekian banyak konfirmasi yang memperkuat suatu hipotesis bisa gugur oleh satu diskonfirmasi.

Kontrol eksperimental. Tidaklah mudah untuk menciptakan fungsi kontrol eksperimental guna melindungi suatu penjelasan utama dari godaan alternatif penjelasan lainnya. Lagipula, penerapan fungsi proteksi itu juga mengandung resiko. Biasanya eksperimen laboratorium yang fungsi kontrolnya lengkap, peluang generalisasinya justru terbatas. Namun, jika fungsi kontrol itu tidak diadakan, maka resikonya juga tidak bisa diabaikan. Zimbardo dkk. (1981) mengajukan contoh menarik mengenai dilema ini berikut solusinya. Mereka menyusun hipotesis yang menyatakan bahwa perilaku paranoid yang banyak ditemukan di kalangan lanjut usia diakibatkan oleh berkurangnya kemampuan pendengaran yang sering kali tidak disadari. Disain penelitian longitudinal berjangka panjang akan dapat mencatat setiap data yang relevan, hanya saja penelitian seperti itu terlalu mahal dan lama. Jadi, penelitian itu harus dikontrol, baik periode maupun metodenya, meskipun hal itu membawa resiko pada akurasi kesimpulan yang akan diambil. Para peneliti itu kemudian mengembangkan suatu disain eksperimental kreatif yang disebut post-hypnotic yang mencatat perkembangan penyusutan pendengaran pada periode-periode tertentu. Sebagai pendukungnya mereka menggunakan subyek penelitian para mahasiswa sukarela yang ditempatkan pada suatu ruang tertutup dan mereka diminta mendengarkan suara-suara mikrofon. Tanpa pemberitahuan suara di mikrofon itu semakin lama semakin diperkecil volu-menya. Ternyata penyusutan pendengaran itu menimbulkan perilaku paranoid di kalangan subyek penelitian. Untuk mencegah berkembangnya alternatif penjelasan yang akan menyesatkan, dibentuklah dua kelompok kontrol dengan subyek serupa yang sekaligus juga dimaksudkan sebagai pembanding. Ternyata perilaku yang ditimbulkan pada penelitian dua kelompok itu serupa pula, sehingga para peneliti dapat dengan tegas menyatakan bahwa perilaku paranoid memang bisa diakibatkan oleh susutnya kemampuan pendengaran. Ini merupakan contoh yang cerdik atas pemanfaatan disain eksperimental guna meneliti sesuatu yang tidak bisa dilakukan secara langsung. Namun metode laboratorium itu pun tidak bebas dari kelemahan. Bisa saja subjek terpengaruh oleh situasi laboratorium sehingga mereka menampilkan perilaku yang tidak alamiah. Sebagai contoh, subjek penelitian yang mengetahui diri mereka tengah diteliti akan memberi respon berupa perilaku tertentu secara sengaja, dan jika hal ini terjadi maka hakikat penelitiannya pun telah sirna. Di samping itu, pemilihan sampel yang sedapat mungkin mewakili populasi atau subjek penelitian yang sesungguhnya juga tidak gampang dilakukan. Misalnya saja kita bisa mempertanyakan relevansi penggunaan para mahasiswa sukarela tadi sebagai pengganti para lanjut usia. Pada dasarnya hampir setiap pilihan disain selalu diliputi oleh kelebihan dan kekurangannya, bahkan sesungguhnya seni penyusunan disain itu terletak pada pencarian metode terbaik dengan sesedikit mungkin kelemahan, atau metode yang sesederhana mungkin namun sekaligus serealistis mungkin demi memudahkan dilakukannya generalisasi secara memadai.

Kriteria disain yang baik. Disain yang baik akan mengurangi ketidakpas¬tian dalam proses pelaksanaan penelitian. Dengan disain yang baik pula, maka keterkaitan antara berbagai variabel akan dapat lebih mudah diungkapkan. Pembuktian adanya keterkaitan antara beberapa variabel mensyaratkan validitas internal (yang diukur dengan LP, yakni “kekuatan pertautan’” atau linking power), yakni indikator yang mengukur sejauh mana hubungan antara tindakan dengan hasil. Sebuah penelitian akan memiliki validitas internal (LP) yang kuat apabila penjelasan yang dikemukakannya mengenai hubungan antar-variabel bisa dipercaya, bila penerjemahan variabel-variabel ke dalam rumusan operasional cukup tepat, bila ada hubungan signifikan yang dapat ditunjukkan atas dasar-dasar yang tersedu, bila alternatif penjelasan saingan bisa tersisihkan, dan bila hasil- hasil penelitian itu konsisten dengan yang dikemukakan oleh studi-studi sebelumnya. Pengungkapan pernyataan umum atau generalisasi juga mensyaratkan validitas eksternal yang diukur dengan GP atau “kekuatan generalisasi”‘ (generalizing power) yang merupakan indikator sejauh mana hasil-hasil penelitian dapat digeneralisasikan (Krathwohl, 1993). Validitas eksternal (GP) menjamin bisa diterapkannya hasil-hasil penelitian tersebut sehingga tidak lagi terbatas pada kondisi-kondisi penelitian. Sebuah studi akan memiliki validitas eksternal yang kuat bila hal itu sesuai dengan hipotesisnya, konsisten dengan pilihan-pilihan yang dibuat dalam operasi-onalisasi studi, ditunjang oleh data-data yang memadai, tidak terbatas pada kondisi-kondisi penelitian, dan sesuai dengan dugaan awal ketika disain dan operasionalisasinya dilakukan. Jika syarat-syarat di atas dipenuhi, maka barulah kita memiliki disain yang baik yang akan menyerap sumber daya, waktu dan energi secara optimal. Dalam disain studi yang baik, validitas internal dan eksternalnya berimbang dan bahkan saling memperkuat. Studi ini bisa diharapkan meredam berbagai alternatif penjelasan saingan yang berpotensi mengacaukan tinjauan. Yang terakhir, disain yang baik haruslah memenuhi standar yang etis, tidak boros sumber daya, dan tidak melanggar norma-norma sosial serta cukup kompleks/komprehensif namun bisa dikelola secara leluasa. Alternatif penjelasan yang sering muncul. Ada beberapa alternatif penjelasan yang sering muncul di berbagai penelitian yang jika tidak di atasi, akan bisa menyesatkan kesimpulan. Karena itulah hal tersebut oleh Campbell (1979) dan Stanley (1963) serta Cook dan Campbell (1979) disebut “ancaman validitas”. Ada pun hal-hal atau tahapan yang bisa menjadi sumber ancaman itu adalah:

1. Tahap pengujian: tahap pengujian awal bisa mempengaruhi pengujian akhir, apalagi jika metodenya persis sama. Untuk itu perlu diadakan kelompok atau unit kontrol sebagai pelindungnya.

2. Tahap seleksi: Pemilihan kelompok atau subyek penelitian tidaklah mudah karena adanya resiko bias. Untuk mengatasinya perlu dilakukannya pemilihan kelompok-kelompok baik itu sebagai unit eksperimental maupun unit kontrol secara acak.

3. Pengujian atas interaksi tindakan: Adakalanya subyek peka terhadap langkah-langkah pengujian dan sering pula mereka memberi reaksi yang berubah-ubah. Untuk mengatasinya, perhatian harus dipusatkan pada disain pengujian akhir. Jenis-jenis disain Disain kelompok tunggal. Disain ini sering pula disebut disain seri waktu (time-series) yang mencoba mengungkapkan hubungan-hubungan pola tindakan serta responnya dari waktu ke waktu. Disain ini cocok untuk:

1. Situasi-situasi statis yang mensyaratkan pengukuran awal, tindakan, dan pengukuran akhir:

2. Situasi-situasi dengan pola teratur; serta

3. Hal-hal yang mudah disimpulkan namun cenderung memiliki pola yang berubah-ubah. sehingga harus dicari peta perubahan pola itu dan berbagai variabel yang mempengaruhi hasil akhir.

Istilah lain bagi disain ini adalah disain AB, ABA atau ABABA (A adalah kondisi yang tidak digarap, sedangkan B adalah kondisi yang khusus atau sengaja diciptakan). Disain ABABA dan disain- disain lainnya yang lebih kompleks baru perlu diterapkan jika ada kondisi B yang tidak permanen (informasi mengenai disain-disain ini dapat anda temukan pada Kratochwill dan Levin, 1992).

Disain kelompok majemuk. Disain ini mencakup banyak kelompok eksperimental dan kelompok kontrol (Zimbardo menggunakan dua kelompok atau unit kontrol). Setiap kelompok harus dibuat semirip mungkin kecuali jika kondisi penelitian mengharuskan penyesuaian. Namun perbedaan antar-kelompok itu harus dibatasi pada satu aspek saja. Hal ini penting agar kita dapat memilih unit atau kelompok mana pun secara acak sebagai subjek penelitian. Disain ma jemuk yang paling sederhana namun sangat efektif biasanya hanya memerlukan pengujian akhir saja. Selanjutnya kita tetapkan R sebagai penugasan suatu kelompok secara acak sebagai subjek penelitian, O sebagai simbol pengujian atau observasi, dan X adalah tindakan (treatment). Secara keseluruhan diagramnya adalah: Untuk memastikan bahwa kelompok-kelompok itu benar-benar mirip, maka konfigurasi pada pengujian awal bisa ditambahkan: Namun ini menimbulkan interaksi tindakan pada pengujian sehingga pengujian bisa terganggu. Guna mengatasinya, kita bisa memasang pola Solomon (empat kelompok): Pemilihan kelompok sebagai subjek penelitian bisa juga dilakukan tidak secara acak jika tujuan penelitian memang menghendaki demikian (inilah yang disebut sebagai disain eksperimental semu). Kelebihan dan kekurangannya telah dibahas dalam Campbell dan Stanley (1963) dan juga dalam Cook dan Campbell (1979). Metode blocking dapat menyeimbangkan ciri antar kelompok dalam hal ini bisa dilakukan dengan berbagi sampel ke dalam sejumlah blok atau strata dengan karakteristik tertentu (misalnya setiap strata terdiri dari orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang sama, periode kelahiran yang sama) yang adakalanya dipengaruhi oleh faktor non-ekuivalensi. Jika blok-blok itu sudah disusun secara seragam, maka kita bisa mengadakan pemilihan secara acak. Selain blocking. metode lain yang sering digunakan adalah metode pasangan pairs design). Disain factorial. Disain ini memungkinkan dilakukannya analisis atas dampak dari dua atau lebih tindakan atau variabel-variabelnya secara serentak. Sebagai contoh, untuk mempelajari dampak bentuk huruf terhadap daya ingat pembaca kita bisa menyusun suatu matrik atau disain faktorial 2×3 sebagai berikut: Bold Italic Garis-bawah. Huruf Hitam Huruf Merah. Dari disain ini kita bisa melihat bentuk huruf, warna atau tampilan seperti apa yang paling mudah diingat (dampak kombinasinya disebut efek interaksi). Disain-disain lain. Disamping itu masih terdapat cukup banyak jenis disain yang biasa digunakan dalam berbagai penelitian eksperimental. Adapula disain yang dipinjam dari studi pertanian seperti bidang segi empat latin dan Graeco-Latin dan disain garis putus-putus. Jenis-jenis disain ini telah dibahas secara tuntas dalam Bow dkk (1978), Cochran (1992), Fisher (1966), Kirk (1982) dan Winer (1971).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *