Advertisement

FAKTOR yang mengatur pertumbuhan tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama ialah faktor-faktor yang bersifat genetik, yaitu gen-gen yang terdapat dalam semua sel, yang menentukan batas-batas daerah pertumbuhan tiap sel, organ, dan akhirnya seluruh bagian tumbuhan. Faktor-faktor ini hanya dapat diubah oleh penangkaran (breeding), dan segera setelah sel telur dibuahi kemampuan genetik tumbuhan yang dihasilkan telah ditetapkan.

Kedua adalah faktor-faktor internal yang mengintegrasikan berbagai sel, jaringan, dan organ, menjadi sebuah kesatuan struktural dan fungsional tunggal, yaitu organisme. Faktor-faktor ini telah dibahas dalam bab sebelumnya tentang zat-zat tumbuh nabati.

Advertisement

Kelompok ketiga meliputi faktor-faktor luar yang berasal dari lingkungan. Selain efek langsung terhadap status hara (misalnya fotosintesis) dan air (misalnya transpirasi) tumbuh-tumbuhan dapat tanggap terhadap faktor-faktor luar dengan gerakan atau dengan perubahan morfogenetik. Dalam bab ini akan dikemukakan ulasan tentang gerakan tumbuhan dan fotoperiodisme, yaitu tanggapan morfogenetik tumbuhan terhadap panjang relatif siang dan malam.

Salah satu hal yang jelas membedakan tumbuhan dengan hewan ialah bahwa umumnya tumbuhan terikat pada satu tempat, sedangkan hewan dapat berpindah ke sana ke mari. Walaupun demikian, kemampuan bergerak tidak terbatas pada hewan saja, tumbuhan berbunga pun dapat tanggap terhadap rangsangan tertentu dari lingkungannya dengan cara menggerakkan sebagian tubuhnya. Sering kali gerakan seperti itu penting pada pertumbuhan normal tumbuhan, sebab gerakangerakan ini memungkinkan tumbuhan menentukan posisi yang cocok untuk mengumpulkan bahan mentah dan energi dari lingkungan. Gerakan tumbuhan biasanya tidak hebat, sebab kebanyakan gerakan itu lambat sekali untuk dapat dilihat dengan pengamatan sepintas. Namun, realitas gerakan ini dapat jelas diperlihatkan melalui fotografi selang-waktu (time-lapse photography), yang menyajikan   bagian yang bergerak diambil dengan interval waktu relatif panjang lalu diproyeksikan menurut kecepatan sedemikian rupa sehingga gerakan itu sangat dipercepat.

Gerakan tumbuhan dapat dilaksanakan dengan dua cara, pertama dengan satu sisi organ tumbuhan lebih cepat daripada sisi lain, atau kedua dengan perubahan turgor sel-sel tertentu yang menyebabkan perubahan posisi organ yang bereaksi. Pada cara pertama reaksi hanya dapat terjadi pada bagian tumbuhan yang masih sedang tumbuh atau mampu meneruskan pertumbuhan. Sebuah contoh macam gerakan kedua diperlihatkan oleh ‘gerakan tidur’ daun-daun polongpolongan seperti Samanea saman (pohon ki hujan).

Tanpa memandang bagaimana gerakan itu terjadi, secara konvensional gerakan tumbuhan digolongkan menjadi dua kategori besar berdasarkan hubungan antara arah gerakan dan arah dari mana rangsangan datang. Jika arah gerakan ditentukan oleh arah asal rangsangan itu, reaksi tersebut dinamakan topisme, sedangkan jika arah gerakan tidak ada hubungannya dengan arah rangsangan, melainkan bergantung pada struktur organ yang bereaksi, reaksi itu disebut gerakan nasti. Walaupun masuk akal untuk mempelajari tropisme dan gerakan nasti bersama-sama sebagai gerakan tumbuhan, pengertian mengenai niktinasti atau gerakan tidur daun menyangkut pigmen tumbuhan, yaitu fitokrom, yang dibahas sehubungan dengan terjadinya fotoperiodisme. Karena itu, niktinasti akan diuraikan setelah fotoperiodisme, bukan setelah tropisme.

 

Advertisement