Advertisement

Dua Kriteria yang Berkonflik: Fungsi dan Segmentasi, Ahli linguistik berminat pada fakta-fakta fonis selama fakta ter­sebut memiliki fungsi. Oleh karenanya, yang diharapkan dari analisis fonologis adalah bahwa analisis tersebut mengelompokkan fakta-fak­ta yang berfungsi sama, meskipun secara fisik berbeda, dan bahwa analisis itu memisahkan fakta-fakta yang memiliki fungsi yang ber­beda, meskipun secara materiil fakta tersebut serupa. Sebenarnya, prinsip itu bertentangan dengan prinsip pengelompokan fakta-fakta fonis berdasarkan dimensi segmen rangkaian pertuturan di mana fakta tersebut memiliki fungsi. Lagu meninggi yang dapat membeda­kan hujan? dari hujan memang berfungsi opositif seperti halnya tingkatan pembukaan mulut yang dapat membedakan cere dari ciri, namun lagu meninggi terdapat dalam ujaran yang lengkap, dan bukan pada satu segmen fonematis. Kita tahu bahwa peninggian yang semacam itu tak tercakup oleh artikulasi ganda, tidak distingtif, se­perti halnya perbedaan antara dua fonem, namun bermakna, seperti halnya oposisi antara dua monem. Di lain pihak, intonasi tampil se­demikian rupa sehingga sulit dikenali apakah fungsinya benar-benar opositif (oposisi dari dua makna berbeda) atau ekspresif (petunjuk suasana had penutur). Itu sebabnya mengapa orang memilih segmen­tasi dalam fungsi sebagai prinsip dasar klasifikasi. Tentu saja, atas dasar fungsi merekalah, fakta-fakta mengenai setiap tipe segmentasi dinilai dan diklasifikasikan. Sebenarnya itu berarti bahwa fakta pro­sodis dipisahkan dari satuan-satuan artikulasi kedua atau fonem ka­rena memang tidak tercakup di dalamnya.

Advertisement
Advertisement