Advertisement

Dua Bunyi Berurutan Sebagai Fonem Tunggal, Sekarang kita ambil sebagai contoh kata Indonesia cari, secara fonetis ditranskripsikan [tsari]. Kasus [ts] di sini sangat berbeda dengan kasus kata Spanyol mucho: dalam bahasa Indonesia [s] ada tanpa [t] yang mendahuluinya; di samping can [tsari] terdapat sari [sari] dan [taxi]. Jadi, kita cenderung menguraikan kata itu seperti /tsari/. Namun dalam sistem bahasa Indonesia, awal kata cari berĀ­oposisi dengan awal kata jari [dzari] sebagai bunyi tak bersuara yang beroposisi dengan bunyi bersuara, dan keduanya harus diperlakukan secara sama. Padahal [dz] dari jarz’ tak teruraikan, juga seperti halnya [ts] dalam kata Spanyol mucho dan dengan alasan yang sama pula: [z] tidak pernah muncul dalam bahasa Indonesia (kecuali dalam kata pungutan) di awal kata tanpa [d] yang mendahuluinya. Jadi, jari diĀ­bentuk dari empat fonem /j’ari/, dan di sisi lain, cari juga diuraikan sebagai empat fonem /e.ari/. Sering kali karena alasan analogi itulah pengungkapan fonis yang tidak homogen, afrikat atau diftong, di berbagai bahasa diinterpretasikan sebagai fonem tunggal.

Advertisement
Advertisement