Advertisement

“Dialek” Dipertentangkan dengan “Bahasa”, Yang perlu dicatat, adalah menerapkan, di Italia, di Jerman, dan di negeri-negeri lain di Eropa, istilah dialek yang di dalam peng­gunaannya melibatkan penilaian akan nilai-nilai. Memang, penilaian itu tidak setegas penilaian penggunaan “patois”. Namun, apa pun pe­rasaan seorang Jerman atau seorang Italia mengenai dialeknya, ia ti­dak akan menjajarkannya dengan bahasa nasional. Cakap Bavaria memang bagian dari bahasa Jerman, cakap Piemont memang bagian dari bahasa Italia, namun ada bentuk Jerman, bentuk Italia yang bukan “dialek”, melainkan bahasa. Ada orang Italia maupun orang Jerman yang tidak berbicara satu dialek pun, tetapi hanya berbahasa nasional. Meskipun demikian, tidak jarang terjadi bahasa resmi dan umum tidak berbaur dengan bahasa vernakular mana pun, dan tidak digunakan sebagai bahasa pertama oleh anggota masyarakat. Peng­gunaannya terbatas dalam bidang di mana bahasa vernakular tidak boleh digunakan. Mungkin saja bahasa itu merupakan bahasa tradi­sional dalam bidang sastra dan bahasa suci, yang sulit disesuaikan de­ngan kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam; misalnya bahasa Arab klasik di negeri-negeri Islam. Hal ini menciptakan bahasa kedua yang lebih dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi di mana bahasa bersama yang terbatas penggunaannya dan beberapa bahasa vernakular sangat berdekatan bentuknya, para penutur pada umumnya lebih sadar akan persatuan daripada perbe­daan, dan cenderung menganggap bahasa bersama dan bahasa ver­nakuler sebagai dua gaya dari bahasa yang sama daripada sebagai dua idiom yang berbeda.

Advertisement
Advertisement