Advertisement

Tarekat Sammaniyah, didirikan oleh Muhammad Samman, seorang guru tare­kat yang kenamaan di Madinah. Muham­mad Samman sendiri lahir di Madinah pa­da 1189 H dan wafat juga di Madinah pa­da 1720. Ia dikuburkan di Baqi’ di dekat kuburan Para istri-istri Nabi.

Tarekat Sammaniyah sangat luas ber­kembang di Aceh. Salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh tarekat ini di Aceh adalah tan seudati. Tari seudati tadinya berasal dari zikir yang diajarkan dalam ta­rekat Sammaniyah sendiri, dan dikenal di Aceh dengan nama ratib Saman. Malah dalam perkembangannya kemudian seuda­ti tersebut tidak lagi berisi bacaan-bacaan zikir kepada Allah, tetapi telah dimuati oleh syair-syair yang mengarah ke percin­taan laki-laki dan perempuan, seperti yang termanifestasi dalam tari seudati inong.

Advertisement

Tarekat Sammaniyah berisi zikir kepada Allah yang dilaksanakan setiap malam Jumat di mesjid yang dilakukan bersama­sama sampai jauh malam. Zikir tersebut dilakukan dengan ucapan keras sembari diiringi dengan bunyi-bunyian di bawah bimbingan seorang guru tarekat. Salah sa­tu keistimewaan tarekat Sammaniyah da­lam berzikir adalah dalam fana berzikir ucapan syahadat Lc7 ildha illa Allah hanya diucapkan dengan Huwa dan akhirnya pada puncaknya diucapkan Hu, Hu, Hu yang artinya adalah Dia, Dia, Dia (Allah).

Di kalangan tarekat Sammaniyah dike­nal Manaqib Syekh Muhammad Samman. Sebagaimana lazimnya manaqib-manaqib syekh dalam tarekat lain, manaqib ini menceritakan perjalanan pengalaman sufi Syekh Muhammad Samman sendiri serta berbagai cerita tentang peristiwa kekera­matan yang pernah dilaluinya. Namun perlu dicatat di sini bahwa manaqib Syekh Muhammad Samman muncul dalam ba­nyak versi, yang satu sama lainnya saling berbeda-beda.

 

Advertisement