Advertisement

Tarekat Naqsyabandiyah, (at-Tariqat an-Naqsyabandiyyat) adalah sebuah tare­kat yang muncul di sekitar Bukhara (Asia Tengah) pada abad kel 4 (8 H). Tarekat ini selain memperoleh pengikut di Asia Tengah, juga pada abad-abad berikutnya menyebar ke Asia Kecil, India, Cina, dan Indonesia.

Pendiri tarekat ini adalah Syekh an­Naqsyabandi (lengkapnya: Syekh Muham­mad Bahauddin al-Bukhari an-Naqsyaban­di), lahir di desa Hinduwan (belakangan disebut desa Arifan), dekat kota Bukhara, pada 1317 (717 H). Gelar an-Naqsyabam. di, yang berarti pelukis atau pengukir, me­ngisyaratkan pengakuan orang banyak atas diri Syekh itu, sebagai tokoh yang berhasil mengukir sifat-sifat kesempurna­an dalam hatinya.

Advertisement

Pendidikan agama dalam bentuk pendi­dikan tarekat diterima oleh an-Naqsya­bandi dari sejumlah Syekh tarekat yang berada di sekitar Bukhara. Disebutkan bahwa tatkala ia berusia 18 tahun, 1335 (735 H), ia dikirim ke desa Sammas untuk belajar pada Syekh Muhammad Baba as­Sammasi. Setelah Syekh as-Sammasi ini wafat pada 1340 (740 H), an-Naqsyaban­di pergi ke Samarkand, kemudian ke Bu­khara dan di situ ia menikah. Setelah menetap sebentar di desa kelahirannya, ia kembali melanjutkan studinya pada Syekh Amir Sayyid al-Kulali (khalifah Syekh as­Sammasi) di desa Nasaf. Berikutnya ia me­netap sebentar di desa Zewartun dan An­bikta, dan setelah itu belajar lagi selama tujuh tahun pada Syekh Arif ad-Dikkarani (khalifah Syekh al-Kulali). Tahun berapa persisnya ia memperoleh ijazah atau mem­peroleh khirqah (jubah), sebagai pertanda menjadi Syekh yang sudah pantas pula mengajarkan tarekat, tidak diketahui de­ngan pasti, diperkirakan pada 740-an H, pada waktu is berusia sekitar 30 tahun. Disebutkan bahwa setelah selesai belajar pada Syekh ad-Dikkarani, ia pergi ke Sa­markand dan bekerja atau mengabdi pada Sultan Khalil (mungkin sebagai penasihat agama di istana Sultan), selama 12 tahun. Sesudah itu is .kembali ke desa Zewartun untuk mempraktekkan amal tertentu (ba­nyak memberikan derma atau sedekah dan memelihara binatang) selama tujuh tahun dan memperbaiki jalan-jalan (road mending) selama tujuh tahun berikutnya. Agaknya selama 14 tahun di Zewartun itu ia sudah mempunyai murid atau pengikut. Belasan tahun terakhir dari masa hidup­nya, tampaknya ia habiskan di desa kela­hirannya sendiri. Di desanya itulah ia membangun ribatnya dan di situ pula ia wafat pada 1389 (791 H), dalam usia 74 atau 72 tahun.

Kalangan Tarekat Naqsyabandiyah menggambarkan tarekat mereka sebagai tarekat yang kokoh berpegang dengan sunnah Nabi, menjauhi bid’ah-bid’ah yang tidak benar, sederhana, mudah untuk di­pahami dan diamalkan, serta paling cepat untuk mencapai derajat tauhid (menyak­sikan dengan mata batin keesaan Allah). Tarekat ini jugs mereka gambarkan mem­punyai enam dasar terpenting, yaitu: to-bat, uzlah, zuhud, takwa, qanaah (merasa cukup dengan apa yang ada), dan taslim (berserah diri pada Tuhan); mempunyai enam rukun, yaitu: ilmu, hilm (berlapang hati), sabar, rida, ikhlas, dan akhlak yang baik; mempunyai enam hukum, yaitu: malcrifah, yakin, pemurah, benar, bersyu­kur, dan tafakkur; serta mempunyai enam kewajiban lainnya, yaitu: zikir, meninggal­kan haws nafsu, meninggalkan dunia, me­nunaikan tugas agama dengan sungguh­sungguh, berbuat baik kepada seluruh makhluk Tuhan, dan mengerjakan amal kebajikan. Selain itu tarekat ini dikatakan memiliki sebelas prinsip, yaitu: husydar­dam (teknik pengendalian pernapasan), nazarbar qidam (melihat ke kaki saja pada waktu berjalan), safardarwathan (hijrah dari sifat tercela), khalawat dar ajuman (khalwat dalam keramaian), yadkard (zi­kir terus menerus), bazkasyat (mengula­ngi lagi zikir nafi-i:sbat, la illeih Wallah, se­telah meresapkan ungkapan “Ya Tuhanku, Kaulah tujuanku dan rida-Mu lah harapan­ku”), nakandasy t (menjaga hati dari segala bisikan), yaddasyt (konsentrasi pada ke­hadiran Tuhan), wuquf zamani (menilik keadaan batin sepanjang waktu), wuquf ‘adadi (menyudahi zilch nafi-isbat dengan bilangan ganjil), dan wuquf qalbi (mela­kukan tawajjuh dengan mata-hati untuk mencapai makrifatullah). Kendati Syekh an-Naqsyabandi berguru pada Syekh as­Sammasi atau al-Kulali, yang mengajarkan zikir bersuata (jahar), ia lebih cenderung kepada zikir tak bersuara, seperti yang diajarkan oleh Syekh al-Gujdawani (w. 1179/575 H). Karena itu tarekat Naqsya­bandiyah lebih menekankan zikir dalam hati, yang dapat dilakukan kapan saja atau sepanjang waktu.

Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan antara lain bahwa roh manusia adalah ji­sim yang halus, yang tidak terkurung da­lam jisim kasar tubuh dan tidak pula ter­lepas di luar; tidak diketahui hakekat perhubungan roh dengan badan itu. Siapa yang mengenal rohnya berarti mengenal Allah. Kalau roh tidak mengingat Allah, maka iblis dapat berbisik pada roh, supaya mengerjakan larangan-Nya. Roh yang lupa kepada-Nya dikatakan sakit, pekak, bisu, atau buta; obatnya tidak lain dari zikir. Bila ia mengingat Allah, ia tidak akan sa­kit, bisu, pekak, atau buta.

Roh itu banyak aktivitas dan namanya. Di antara nama-namanya adalah: lati­fat al-qalb, latifat ar-rah, latifat as-sirr, la­tifat al-khafi, latifat al-akhfa, latifat an­nafs an-natiqat, dan latifat kull al-jasad. Ketujuh latifah itu harus diberi santapan rohani berupa membaca kata “Allah” se­banyak 11.000 kali dengan teknik yang sudah ditentukan tarekat. Bila zikir ber­jalan dengan baik, lenyaplah sifat-sifat bu­ruk dari hati dan terwujudlah kenikmat­an atau kebahagiaan tertinggi yang sejati.

Advertisement