Advertisement

Sunnnatullah mengandung arti: cara, jalan, hukum, aturan, atau ketetapan (yang dikehendaki) Allah. Ungkapan sun­natullah dapat dijumpai dalam sejumlah ayat al-Quran (33:38, 62; 35:43; 48:23). Juga dapat dijumpai dalam al-Quran ung­kapan lain, dengan maksud yang sama, se­perti sunnatun5 (sunnah yang Kami ke­hendaki) pada ayat 17:77, sunnat al-aw­walin (sunnah yang berlaku bagi orang­orang terdahulu) pada ayat-ayat 8:38, 15:13, 18:55, dan 35:43, sunnah yang berlaku bagi para rasul terdahulu (17:77), dan sunan (jamak sunnat) tanpa dihu­bungkan kepada siapa pun (3:137) atau dihubungkan kepada “orang-orang sebe­lum kamu” (4:26).

Ungkapan sunnatullah atau ungkapan lain seperti tersebut di atas, jelas menga­cu kepada hukum-hukum, pola-pola, atau undang-undang yang dikehendaki Allah berlaku bagi perkembangan masyarakat manusia pada khususnya, atau segenap alam semesta ini pada umumnya. Sunna­tullah yang berlaku dalam perkembangan masyarakat manusia itulah yang sesung­guhnya dicari dan ditemukan oleh falsafat sosial atau falsafat sejarah, atau lebih umum: sunnatullah yang berlaku dalam alam semesta itulah yang sesungguhnya di­cari atau ingin diketahui oleh para pencari atau.peneliti kebenaran, seperti ilmuwan, filosof, dan lain-lain.

Advertisement

Penyajian kisah-kisah para nabi atau ra­sul terdahulu (sebelum Nabi Muhammad) dan kaum-kaum mereka, baik yang me­nentang dan terus-menerus dalam perbuat­an jahat, maupun yang beriman dan sabar menegakkan kebaikan, maksudnya antara lain adalah untuk mengingatkan umat Is­lam atau umat manusia umumnya tentang tetapnya Tuhan memberlakukan sunnah­Nya. Dapat dilihat dalam al-Quran bahwa Tuhan antara lain setelah mengisahkan pe­rangai kaum kafir masa lalu — bahwa me­reka berjanji akan beriman bila datang se­orang juru-ingat (rasul), tapi setelah yang mereka tunggu datang, mereka malah ber­tambah kufur dan sombong, bahkan me­nyusun rencana-rencana jahat — menegas­kan bahwa yang mereka tunggu tidak lain dari berlakunya sunnah yang berlaku pada umat terdahulu, dan selanjutnya Ia mene­gaskan bahwa sunnah-Nya ( sunnatullah) yang diberlakukan untuk masyarakat ma­nusia tidak akan berobah (35:42-43). Nabi Muhammad sendiri, setelah diingat­kan Tuhan tentang upaya kaum kafir un­tuk menggelincirkannya dan apa akibat­akibatnya kalau kehendak mereka ditu­ruti, juga diingatkan tentang sunnatullah yang tetap, seperti, yang berlaku pada ra­sul-rasul yang datang terdahulu (17:73­77).

Selain menyajikan kisah-kisah umat ter­dahulu, sebagai contoh-contoh yang harus dijadikan bahan itibar atau pengajaran al­Quran juga mendorong agar orang-orang melakukan perialanan di permukaan bumi ini untuk meneliti sendiri dan merenung­kan hubungan kausalitas atau sunnatullah dalam peristiwa-peristiwa kebangkitan dan kejayaan suatu masyarakat atau kemun­duran dan kehancuran mereka. Berulang­ulang al-Quran mendorong: “Berjalanlah kamu di permukaan bumi dan lihat atau pikirkanlah bagaimana kesudahannya na sib orang-orang yang mendustakan agama (3:137; 6:11, 16:36), bagaimana kesudah­an nasib orang-orang yang berbuat dosa (27:69), bagaimana kesudahan nasib orang-orang dulu yang kebanyakan musy­rik (30:42), atau bagaimana Ia memulai penciptaan dan kemudian menciptakan sekali lagi (29:20).”

Tujuan esensil menyadari adanya sun­natullah yang tetap atau tidak mengalami perobahan itu adalah agar masyarakat ma­nusia yang hidup sekarang dan seterusnya tidak lagi mengulangi kesalahan atau ke­jahatan, yang pasti membawa kepada ke­hancuran atau pasti mengundang datang­nya malapetaka (azab Tuhan) di dunia ini juga. Bila sebab-sebab bagi kehancuran su­dah diperbuat, niscaya datang kehancuran (malapetaka atau azab) itu. Inilah makna yang terkandung dalam banyak peringatan al-Quran, seperti “Tiap-tiap umat mempu­nyai af al (batas waktu; saat kematian atau kehancuran), bila ajal mereka datang, nis­caya mereka sesaat pun tidak bisa menun­da atau mendahuluinya (10:49 7:34).” Umat Islam sendiri berulang kali diingat­kan oleh al-Quran bahwa mereka bukan­lah kaum yang tidak mungkin dimusnah­kan Allah, kecuali jika mereka teguh ber­juang mencapai tujuan-tujuan yang diri­dai-Nya: “Jika kamu berpaling, maka Allah akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan se­perti kamu (48 :38 ; 9:39).”

Sunnatullah, yang tetap (tak akan per­nah berobah) berlaku dalam kehidupan manusia dan dalam perjalanan alam semes­ta ini, dipahami oleh para ulama atau pe­mikir sebagai ungkapan yang mengandung arti: sifat-sifat atau tabiat dasar yang te­tap, yang diberikan atau diciptakan Tuhan untuk setiap sesuatu yang diciptakannya. Panas dan membakar (misalnya), sebagai tabiat atau sifat api, adalah sunnatullah yang diberikan-Nya kepada api. Dengan demikian api dipahami selamanya bersifat panas dan membakar. Bila ada benda yang dapat mengalahkan (memadamkan) api, atau tidak rusak (hangus) oleh api, maka itu berarti bahwa sunnatullah yang diberi­kain Tuhan kepada benda itu adalah: da­pat memadamkan api atau tahan api. Api tetap pula dengan sunnatullahnya: panas, membakar, tapi kalah oleh benda tertentu atau tidak mampu merusaknya. Paham ini erat kaitannya dengan paham mestinya berlaku hubungan sebab •dan akibat atau hukum kausalitas dalam alam ini; kemesti­an hubungan kausalitas ini tetap dipadang sebagai akibat kehendak Allah sejak azali. Sebagian ulama, seperti al-Gazali dan yang sepaham dengannya, menolak kemestian hubungan kausalitas itu, karena mengira bahwa paham kemestian itu tidak membe­ri ruang bagi adanya mukjizat para nabi atau rasul Tuhan.

Advertisement