Advertisement

Sirhindi (lengkapnya Syekh Ahmad Sir­hindi) adalah seorang ulama terkemuka, yang hidup di India pada masa pemerin­tahan Sultan Akbar (1556-1606/963­1015 H) dan Sultan Jahangir (1606-1627/ 1015-1036 H), dari Kerajaan Mugal. Ia dikenal dengan sebutan Mujaddid Alf Sani (Pembaharu pada masa Seribu Tahun Ke­dua), yang berjuang untuk memperbaha­rui kehidupan umat Islam di India, agar sesuai dengan ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi.

Ia lahir di Sirhindi pada 1564 (971 H) dan wafat di Delhi (?) pada 1624 (1034 H). Ayahnya adalah seorang ulama besar dan syekh tarekat Khisytiyah dan Suhra­wardiyah. Karena itu dapat dimaklumi bahwa ia banyak memperoleh ilmu dan bimbingan dari ayahnya sendiri di rumah. Setelah lebih dahulu dibimbing menghafal ayat-ayat al-Quran, ia tekun mempelajari hadis, tafsir, fikih, dan berbagai pengeta­huan umum, termasuk falsafat. Un mendalami ilmu-ilmu tersebut, ia berusaha menjumpai ulama-ulama terkemuka di berbagai tempat di India, termasuk,Sial­kot, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat -penting kegiatan ilmiah. Ketika ia berada di Agra dalam rangka menekuni hadis dan tafsir, kecemerlangannya seba­gai calon ulama besar, .sudah semakin masyhur dan mendapat perhatian dari dua penulis terkemuka yang menjadi sahabat Sultan Akbar, yaitu: Abu al-Fadl dan al­Faidi. Sirhindi diajak oleh kedua tangan kanan Akbar itu agar mau berada dalam lingkungan mereka; ajakan itu dipenuhi oleh Sirhindi dan terjalinlah persahabatan di antara mereka. Disebutkan bahwa se­bagian dari karyatulis penting al-Faidi, Sawdti` ditulis oleh Sirhindi. Akan tetapi persahabatan itu tidak lang­geng, karena Sirhindi menentang kecende­rungan kedua penulis tersebut dan upaya Sultan Akbar menciptakan agama baru, yang dikenal dengan nama Din Ilahi.

Advertisement

Setelah menyelesaikan studinya di ber­bagai tempat dalam usia relatif muda, ia meneruskan aktivitasnya dalam bentuk menjalani kehidupan tasawuf, yang lang­sung dibimbing oleh ayahnya sendiri, sam­pal ia memperoleh ijazah dan status seba­gai syekh dalam tarekat Khisytiyah dan Suhrawardiyah. Selanjutnya pada usia 28 tahun, ia pergi ke Delhi dan bergabung dengan tarekat Naqsyabandiyah, yang waktu itu dipimpin oleh Syekh Khwaja Baqi Billah, penyiar pertama tarekat ter­sebut di kawasan India. Kendati Sirhindi memperoleh ijazah dan status syekh tare­kat Naqsyabandiyah dari Syekh Khwaja Baqi Billah pada 1600 (1009 H), tidak jarang tokoh yang akhir ini berperan seba­gai pengikut yang mengakui kecemerlang­an Sirhindi. Syekh itu bahkan mengakui bahwa Sirhindi telah berhasil melepaskan­nya dari pengaruh paham wandatul-wujud.

Sirhindi, kendati sejak usia muda mela­kukan kegiatan menentang paham-paham yang dipandangnya menyimpang dari ajar-an al-Quran dan Sunnah Nabi, termasuk menentang agama Din Ilahi yang diperke­nalkan oleh Sultan Akbar, baru dalam usia 40 tahun merasa dan mengaku sebagai mujaddid (pembaharu) yang bertanggung­jawab untuk mengembalikan umat kepada Islam yang sebenarnya. Statusnya sebagai mujaddid itu kemudian diakui oleh kala­ngan ulama dan sufi di India, termasuk Syah Waliyullah dan anaknya Syah Abdul Aziz. Gelarnya yang kemudian menjadi masyhur, Pembaharu pada masa Seribu ta­hun Kedua (Mujaddid Alf Sani), diberikan pertama kali oleh Mulla Abdul Hakim (1656/1067 H), ulama terkemuka dari Sialkot.

Dalam rangka mengajak segala lapisan masyarakat supaya kembali kepada al­Quran dan Sunnah Nabi, ia banyak menu­lis. Ia menulis beberapa buah buku, tapi ketenarannya terletak pada tulisan-tulisan­nya dalam bentuk risalah-risalah, yang disebarkan seluas mungkin. Jumlah risalah­nya itu 534 buah dan 70 buah di antara­nya ditujukan kepada kalangan penguasa Kerajaan Mugal. Karena aktivitasnya me­nentang Din Ilahi dan berbagai kebijaksa­naan penguasa, semakin meningkat setelah kematian Sultan Akbar, antara lain de­ngan mengharuskan umat untuk bersum­pah bahwa mereka tidak akan patuh ke­pada perintah apa pun bila bertentangan dengan Islam, Sultan Jahangir akhirnya memenjarakannya di Gwalior pada 1617 (1026 H). Penguasa di Kabul, Mahabat Khan, menjadi marah mendengar tindakan Jahangir itu dan menyerang India. Jaha­ngir dapat ditawan, tapi segera dibebaskan, karena permintaan Sirhindi. Sirhindi se­lanjutnya juga dibebaskan oleh Sultan Jahangir, dan setelah Sultan bersedia me­menuhi sejumlah tuntutan Sirhindi (meng­hapus semua kebijaksanaan yang merugi­kan umat Islam), Sang Mujaddid ini se-lama enam tahun sisa usianya menjadi penasihat khusus Sultan Jahangir. Dengan demikian ia pada masa hidupnya dapat menyaksikan keberhasilan perjuangannya, terutama mengakhiri.upaya pihak pengua­sa dalam menegakkan agama Din Ilahi, yang menyakitkan hati umumnya ulama dan umat Islam di India.

Selain upaya menentang agama Din Ilahi, Sirhindi tercatat sebagai ulama pa­ling terkemuka yang menentang tasawuf wandatul-wujud. Menurutnya, paham wah­datul-wujud itu menyimpang dari kebe­naran ajaran tauhid. Sebaliknya ia setuju dengan paham wandatusy-syuhud, yang dinyatakan oleh sufi terkemuka Sammani (1336/737 H). Dalam pahamwandatusy­syuhud itu terkandung pengertian bahwa hanya satu wujud saja, yakni wujud Tu­han, yang disaksikan oleh para sufi pada waktu terjadinya penyaksian batin (kasyf), tapi itu tidak berarti bahwa wujud selain Tuhan pada waktu penyaksian batin itu tidak ada. Wujud selain Tuhan tetap ada, tapi tidak tampak oleh keterbatasan pe­nyaksian batin sufi yang mengalami pe­nyaksian itu.

Advertisement