Advertisement

Sihir berarti sesuatu yang lembut atau halus. Dalam istilah, sihir adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang ter­tentu (disebut tukang sihir), dengan me­menuhi syarat-syarat tertentu, mempergu­nakan bijana dan peralatan yang tidak la­zim dipakai, serta dengan cara yang sangat rahasia, untuk menimbulkan efek jahat dalam diri orang lain. Untuk sihir sebenar­nya dipakai bermacam-macam istilah se­perti santet, teluh, mejik dan sebagainya.

Secara umum sasaran sihir itu ada dua, ada yang dikenakan langsung kepada diri korban (dengan mempengaruhi hati dan badannya, untuk disakiti dan dibunuh, atau untuk memutuskan hubungan cinta kasih sepasang suami istri atau kekasih) dan ada yang hanya dikenakan pada har­ta benda korban (untuk dirusak atau di­musnahkan).

Advertisement

Melihat proses dan cara kerjanya, sihir itu dapat dikategorikan ke dalam bebera­pa macam, antara lain:

  1. Sihir yang dilakukan secara langsung tanpa meminta bantuan manusia atau peralatan yang lain, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda padat, huruf-huruf, angka-angka, benda-benda langit dan sebagainya.
  2. Sihir yang dilakukan dengan meminta bantuan atau petunjuk roh-roh jahat atau setan-setan, serta menggunakan salah satu atau beberapa anggota badan manusia atau binatang, baik yang masih hidup atau yang sudah mati.
  3. Sihir yang menggunakan huruf-huruf, angka-angka, binatang-binatang dan benda-benda langit tertentu.
  4. Sihir yang menggunakan gambar korban, gambar hasil lukisan atau foto.

Masalah sihir ternyata banyak juga di­bicarakan dalam al-Quran. Tidak kurang dari 24 surat menyinggung masalah itu, seperti surat 2:102; 5:110; 6:7; 7:109, 111, 112, 113, 115, 116, 120, 125; 10:2, 76, 77, 79, 80, 81; 17:47, 101; 20:57, 58, 63, 64, 66, 73; 21:3; 25:8; 26:33, 49, 153, 185; 27:13; 28:36; 37:15; 38:4; 40:24; 43:30, 49; 46:7; 5139; 52:15; 61:6; 74: 24 dan 113:4.

Di antara surat-surat tersebut, surat 2:102 menjelaskan bahwa sihir itu berasal dari setan dan Harut-Marut. Hadis-hadis Nabi pun, dalam berbagai riwayat (Bukha­ri, Muslim, Tabrani, Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban dan lainnya) membicarakan masa­lah itu. Hadis-hadis tersebut pada umum­nya menegaskan bahwa melakukan (mem­praktekkan) sihir itu termasuk dosa besar yang sejajar dengan syirik, sehingga pela­kunya (tukang sihir dan yang memesan­nya) tidak akan masuk surga dan halal da­rahnya (boleh dibunuh).

Para ulama pada umumnya sepakat bahwa melakukan sihir itu haram hukum­nya, karena sihir dan segala macamnya itu bersifat merusak, sedangkan segala per­buatan yang bersifat merusak dilarang oleh Islam. Adapun mempelajari ilmu sihir, hanya sebagai ilmu, tidak untuk diprak­tekan menjadi bahan perselisihan para ulama. Sebagian mereka berpendapat bah­wa mempelajari ilmu sihir untuk membe­dakan yang hak dari yang batil dan untuk membantu menyelamatkan orang yang menjadi korban sihir adalah boleh, bahkan mungkin menjadi fardu kifayah, karena semua jenis ilmu itu (termasuk ilmu sihir) ditinjau dari segi keilmuannya adalah mu­lia, berdasarkan al-Quran surat 39:9 (Ada­kah sama antara orang-orang yang menge­tahui dengan orang-orang yang tidak me­ngetahui . . .), dan terjadinya kejahatan atau kerusakan dari sihir itu hanya akibat dari kejahatan pelakimya saja.

Sebagian besar mereka berpendapat se­baliknya, mempelajari dan mengajarkan ilmu sihir itu haram hukumnya, karena sifat sihir itu adalah merusak, maka mem­pelajari dan mengajarkan ilmu sihir itu identik dengan mempelajari dan mengajar­kan kejahatan dan kerusakan, dan itu sa­ngat dilarang oleh Islam.

Advertisement