Advertisement

Sidrat al-Muntaha merupakan jumlat idafiyat (kata majemuk) yang terdiri dari dua kata: sidrat, yang berarti pohon sidrah (bidara); dan al-muntaha, yang berarti tertinggi atau terjauh. Jadi, sidrat al-mun­taha berarti pohon bidara yang tertinggi atau terjauh. Dalam al-Quran, kata sidr (bentuk muzakkar) disebut dua kali, yaitu dalam surat Saba:16 dan surat al-Waqi`ah: 28. Sedangkan kata sidrat (bentuk muan­nag) juga tersebut dua kali, dalam surat an-Najth ayat 14 disambung dengan kata al-muntaha, dan ayat 16 surat yang sama disebutkan sendiri.

Pembahasan Sidrat al-Muntaha berkait­an erat dengan peristiwa mikraj Nabi Mu­hammad. Al-Quran 53:7-18 menginfor­masikan bahwa “ia (Nabi Muhammad) melihat Dia (Tuhan) kedua kali, dekat Si-drat al-Muntaha., yang di dekatnya ada surga al-Ma`wa, ketika apa yang menutupi, menutupi pohon sidrat.” Beberaph buah hadis juga menginformasikan, bahwa ke­tika memasuki langit ke-7 Nabi Muham­mad menjumpai Nabi Ibrahim yang se­dang bersandar kepada Bait al-Makmur . . . , kemudian ia (Nabi Muhammad) de­ngan Malaikat Jibril menuju Sidrat al-Mun­taha, yang daunnya seperti telinga gajah dan buahnya seperti tempayan. Dan keti­ka datang perintah Allah kepadanya (Si-drat al-Muntaha), menjadi berubahlah pohon itu sehingga tak seorang pun dari makhluk Allah dapat melukiskan keindah­annya . .

Advertisement

Seperti terhadap peristiwa mikraj Nabi Muhammad sendiri, tentang apa dan ba­gaimananya Sidrat al-Muntaha juga timbul perbedaan pendapat. Sebagian ulama yang cenderung memahami informasi-informasi al-Quran dan hadis-hadis tersebut secara harfi menggambarkan, bahwa Sidrat al­Muntaha adalah sejenis pohon agung yang sangat indah, yang dikunjungi Nabi Mu­hammad sewaktu melakukan mikraj, di langit VII, setelah menjumpai Nabi Ibra­him yang sedang bersandar pada Bait al­Makmur, sebelum ia (Nabi Muhammad) menerima perintah salat. Sebagian ulama lainnya menjelaskan, bahwa Sidrat al­Muntaha hanya sebagai simbol (perumpa­maan) untuk menggambarkan batas ter­tinggi dari pengalaman rohani Nabi Mu­hammad, ketika Tuhan menampakkan wujud-Nya (taialli) dengan kebenaran dan keagungan penuh.

Lebih jauh mereka menggambarkan, bahwa ketika itu (mikraj) Nabi Muham­mad secara rohani naik ke langit melalui jenjang-jenjang mikraj menghampiri Tu­han, sehingga jarak antara keduanya hi­lang sirna. Ketika Nabi Muhammad naik menuju Tuhan, Tuhan turun mendekati­nya, sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud, atau Nabi Muhammad menjadi terbenam dalam Tuhan, seakan-akan ia menjadi bayangan Tuhan Sendiri. Pada waktu ia telah men­capai garb ildhi (kedekatan kepada Allah) itu, terbentang di hadapannya samudera luas tanpa tepi, samudera makrifat ilahi dan hakikat-hakikat serta kebenaran abadi. Dan ketika ia turun kembali kepada umat manusia, ia menjadi begitu penuh dengan cinta kasih serta merasa prihatin pada me­reka, sehingga sifat ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri­nya, seolah-olah ia menjadi titik pusat tali kedua busur ketuhanan dan kemanusiaan..

Penggunaan kata Sidrat di sana juga memberikan isyarat secara simbolis, bah­wa makrifat ilahi yang dilimpahkan kepa­da Nabi Muhammad itu akan seperti hal­nya pohon sidrah, yang memberikan ke­senangan dan naungan kepada para musafir rohani yang merasa letih dan payah. Lebih dari itu, karena daun pohon sidrah memi­liki khasiat untuk memelihara mayat dari proses pembusukan, berarti bahwa ajaran­ajaran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan, melainkan juga sangat berguna untuk menolong dan memelihara umat manusia dari kerusakan.

 

Advertisement