Advertisement

Sekaten adalah kata Jawa yang asalnya dari kata Arab: syahadatain (dua kalimat syahadat), dan merupakan “nama” dua perangkat (unit) gamelan (musik Jawa). Gamelan sekaten ini dipagelarkan di de-pan mesjid kraton, seperti kraton Yogya­karta dan Surakarta, hanya pada hari-hari raya “Grebeg”, seperti Grebeg Mulud (Maulid Nabi Muhammad), dan Grebeg Pasa (Puasa). Kedua perangkat gamelan sekaten yang masing-masing diberi nama Kiai Sekati dan Nyai Sekati ini, memang melambangkan dua kalimat syahadat seba­gaimana pengertiannya dalam bahasa Arab (lihat: Syahadat) yang harus diucapkan oleh orang yang masuk agama Islam.

Pelambangan dua kalimat syahadat de­ngan gamelan ini agaknya dilakukan pada zaman para wali (sekitar zaman kesultan­an Demak) yang dirasakan perlu menye­suaikan ajaran Islam dengan kebudayaan setempat, dan selanjutnya dipagelarkan pada setiap Grebeg Mulud. Pada zaman Sultan Agung di Mataram (1613-1645), atas kehendaknya pagelaran itu dilakukan di depan mesjid besar. Sekarang, dalam rangka perayaan “Grebeg” itu, di samping terdapat pagelaran gamelan sekaten, juga diadakan pasar malam di alun-alun. Na­mun, adalah tidak benar kalau dikatakan bahwa sekaten itu artinya semacam pasar malam.

Advertisement

 

Advertisement