Advertisement

Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang pertama ada di Indonesia. Samudera sekarang ini merupakan nama kampung di tepi sungai Pase yang bermuara di teluk Lhokseumawe, Aceh. Di seberang sungai tersebut, dekat bekas-bekas kerajaan, ter­dapat makam-makam raja, yang tertua bertahun 1297 (692 H) dan merupakan makam al-Malik as-Saleh. Agaknya raja tersebut merupakan raja pertama dari kerajaan Islam Samudera Pasai dan 1297 (692 H) adalah tahun wafatnya. Tahun permulaan memerintah, tidak dapat dipas­tikan, tetapi ketika Marco Polo, seorang pengembara dari Venesia, singgah di Per­lak, raja tersebut sudah memerintah. Me­nurut Sejarah Melayu, nama asli raja itu adalah Merah Silu, dan masuk Islam ber­kat usaha Syekh Ismail, utusan Syarif Mekah (waktu itu Mekah berada di bawah pengaruh sultan-sultan Mamluk di Mesir). Ia diberi hak memakai gelar “Sultan” dan namanya menjadi al-Malik as-Saleh. Ia kawin dengan putri Perlak dan mendapat­kan 2 orang anak, al-Malik az-Zahir dan al-Malik al-Mansur (bandingkan dengan al-Malik az-Zahir Baibars dan al-Malik al-Mansur Qalawun yang masing-masing memerintah antara 1260-1277 dan 1279-1290 di Mesir). Al-Malik az-Za­hir I memerintah antara 1297-1326 dan al-Malik az-Zahir II antara 1326-1348. Agaknya al-Malik az-Zahir II ini yang dijumpai oleh Ibnu Batutah, seorang pe­ngembara muslim dari Tunisia, dalam per­jalanannya ke dan dari Tiongkok atas pe­rintah Sultan Delhi (1345 dan 1346) dan singgah di Pasai. Dalam catatan Ibnu Batu­tah itu diketahui bahwa raja Pasai itu su­dah beragama Islam .dan menganut maz­hab Terdapat pula di Pasai dua orang ulama, seorang dari Syiraz dan lain­nya dari Isfahan. Yang pertama menjabat sebagai hakim agama. Di samping keaga­maan, perdagangannya pun sudah maju, dan ini terbukti dengan adanya armada dagang milik Sultan.

Al-Malik az-Zahir II digantikan oleh putranya, Zainal Abidin yang memerintah belum dewasa, sehingga kerajaannya men­jadi mundur. Pada masa pemerintahannya, Pasai ditaklukkan oleh Siam dan kemudi­an diserang pula oleh Majapahit. Ketika

Advertisement

Ceng Ho, pelaut ulung dari Tiongkok dan beragama Islam, datang ke Pasai (1405), masih ia temui Sultan Zainal Abidin. Ditawarkannya kepada Sultan ter­sebut perlindungan Tiongkok atas Pasai apabila Sultan mau mengaku perlindung­an Tiongkok. Ketika Ceng Ho datang ke­dua kalinya ke Pasai 1412, Sultan Zainal Abidin sudah wafat, bahkan gantinya pun tewas melawan negeri Nakur (di Aceh ju­ga). Seorang nelayan berhasil mengalah­kan Nakur dan kemudian menjadi raja di Pasai, tetapi putra raja yang tewas da­pat merebut kembali tahta yang menjadi haknya.

Terkisah pula bahwa Raja Iskandar, pu­tra raja Pasai, dibawa oleh Ceng Ho ke Tiongkok tetapi di sana ia mati terbunuh.

Berita dari Tiongkong tentang Pasai yang terakhir adalah 1434. Setelah itu, berita yang ada ialah ditaklukkannya Pasai oleh Portugis 1521. Beberapa pemudanya pergi merantau, antara lain Fatahillah yang mengukir sejarahnya sendiri di Pulau Ja­wa.

Advertisement