Advertisement

Salafiyah adalah istilah yang mengacu kepada sikap atau pendirian para ulama Islam dari generasi (-generasi) salaf (yang paling awal), dalam lapangan akidah, atau mengacu kepada golongan umat Islam yang bersikap dan berpendirian seperti yang dimiliki oleh para ulama dari genera­si (-generasi) salaf tersebut.

Kalangan ulama yang paling sering dan paling bersemangat mengaku sebagai go­longan salafiyah, adalah ulama-ulama yang dalam lapangan fikih bermazhab Hambali, terutama sejak abad ke-10 (4 H). Ketika pihak lain, seperti kaum Asy`ariyah yang muncul sejak awal abad ke-4 H,. juga mengaku sebagai pengikut ulama salaf da­lam lapangan akidah, mereka dinilai dan dikritik oleh kaum Hambaliyah sebagai kaum yang tidak sepenuhnya mengikuti ulama salaf.

Advertisement

Tokoh yang sangat lantang menyeru orang, baik dengan lisan maupun tulisan, agar berakidah dengan akidah salaf, ada­lah Ibnu Taimiyah (1263-1328/661­728 H), seorang ulama besar dari kalangan iiambaliyah. Sesudah is wafat, seruannya tersebut dilanjutkan oleh para pengikut­nya, antara lain Ibnu Qayyim al-Jauziah (1292-1350/691-751 H) dan Muham­mad bin Abdul Wahhab (1703-1787/ 1115-1201. H); kedua ulama ini juga dari kalangan Hambaliyah.

Sejarah menunjukkan bahwa para saha­bat Nabi, seperti Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan lain-lain, dan kebanyakan ulama-ulama yang datang sesudah para sahabat Nabi dalam tiga abad pertama Hijrah, seperti Umar bin Abdul Aziz (w. 719/101 H), Ha­san al-Basri (w. 728/110 H), Ibnu Syihab az-Zuhri (w. 742/124 H), Jalar as-Sadiq (w. 742/124 H), Abu Hanifah (w. 767/ 150 H), Malik bin Anas (w. 795/179 H), asy-Syafil (w. 819/204 H), Ibnu Hambal (w. 855/241 H), dan lain-lain, merupakan ulama-ulama yang berpegang pada rumus­an akidah Islam, tidak lebih dari seperti apa yang tertera dalam al-Quran dan Hadis Nabi. Terhadap nas-nas al-Quran dan Ha­dis yang berkaitan dengan akidah, mereka tidaklah terpanggil untuk mempertanya­kan, mempertimbangkan, apalagi untuk memperdebatkan perincian makna-makna yang terkandung di dalamnya. Mereka ti­dak mau menjadikan pernyataan-pernya­taan kedua cumber utama ajaran Islam itu sebagai obyek diskusi atau perdebatan, se­perti yang dilakukan ulama-ulama Mula­zilah; mereka sudah merasa cukup dan puas dengan pemahaman-pemahaman yang mereka miliki secara garis besar.

Aktivitas Ma:bad al-Juhani, Gailan ad­Dimasyqi, Jaham bin Safwan, dan ulama­ulama Mulazilah, memperbincangkan dan memperdebatkan berbagai masalah dalam lapangan akidah, seperti masalah hubung­an takdir Tuhan dengan perbuatan dan na­sib manusia, masalah sifat-sifat dan per­buatan Tuhan, masalah yang berkaitan de­ngan ayat-ayat mutasyabihat (yang meng­gambarkan Tuhan seakan-akan seperti ma­nusia), dan lain-lain dianggap oleh keba­ nyakan ulama salaf itu sebagai aktivitas bid’ah, dengan alasan antara lain bahwa pada masa Rasulullah dan para sahabatnya masalah-masalah demikian tidak pernah diperbincangkan atau diperdebatkan. Disebutkan juga sebagai alasan bahwa da­hulu pada masa hidup Rasulullah memang pernah terjadi perbincangan atau perteng­karan antara dua orang sahabat tentang takdir Tuhan. Rasulullah yang kebetulan menjumpai perbincangan tentang takdir Tuhan itu, menjadi marah dan menyuruh mereka menghentikan perbincangan terse-but dan tidak mengulanginya lagi. Dalam peristiwa itu Rasulullah mengingatkan bahwa hancurnya umat-umat terdahulu adalah karena mereka mempertentangkan pengertian sebagian ayat-ayat Tuhan de­ngan bagian yang lain. Jadi, dengan alasan­alasan begitu, kebanyakan ulama salaf, yang pada umumnya terdiri dari ulama ha­dis dan ulama fikih, membenci aktivitas ulama mutakallim (teolog) dan membenci ilmu kalam yang mereka lahirkan. Empat imam mazhab yang paling berpengaruh dalam lapangan fikih (yakni Abu Hanifah, Malik, Syafil, dan Ibnu Hambal) tercatat sebagai imam-imam yang membenci ilmu kalam, yang dalam pandangan mereka pe­nuh dengan aktivitas bid’ah. Imam Abu Hanifah sendiri, yang dikenal sebagai ahlur ra’yi (paling banyak menggunakan pikiran) dalam lapangan fikih, memang pada mulanya melibatkan dirinya dalam ilmu kalam, tapi sesudah itu meninggal­kannya dan menasihati putranya supaya menjauhkan diri dari ilmu kalam tersebut.

Diriwayatkan bahwa Rabiah ar-Ra’y, guru Imam Malik, pernah ditanya orang tentang caranya Tuhan istiwa’ (bersema­yam) di atas singgasana. Ia menjawab bah­wa istiwa itu dimaklumi, tapi bagaimana caranya Tuhan istiwa tidak bisa dibayang­kan oleh akal, namun kita wajib membe­narkannya. Imam Malik sendiri, ketika di­tanya tentang istiwa itu, juga memberikan jawaban seperti gurunya, dan menambah­kan bahwa mempertanyakan bagaimana istiwa Tuhan itu adalah perbuatan bid’ah. Sikap seperti Imam Malik dan gurunya itu merupakan sikap kebanyakan ulama salaf.. Mereka tidak mau mempersoalkan dan ka dengan wa `alaikum saja) mungkin diterapkan ketika suasana hubungan (tole­ransi) antara muslim dengan non muslim dalam keadaan buruk; tentunya ketika suasana hubungan (toleransi) antara mus­lim dengan non muslim baik, sikap tidak bersahabat (tidak mau mendahului mem­beri salam dan hanya menjawab salam de­ngan wa `alaikum saja) agaknya sangat j an ggal .

Selain itu, tidak ada salahnya seorang muslim mendoakan orang-orang non mus­lim agar mendapat keselamatan dan kese­jahteraan, ini tidak berarti menyetujui atau membenarkan agama mereka dan mendoakan agar mendapatkan keselamat­an dan kesejahteraan sebagai balasan dari pelaksanaan agama mereka, tetapi dalam anti mendoakan semoga Tuhan membuka­kan pintu hati mereka (memberikan hida­yah) agar mau menerima salam (memeluk Islam); sebagaimana pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad sendiri yang mau mendoakan orang-orang Taif, meskipun mereka telah menganiaya dirinya (Nabi Muhammad).

Selain sebagai penghormatan (tahiy­yat salam juga mempunyai maksud-mak­sud lain. Dalam ilmu tauhid misalnya, Sa-

(as-Saldm) adalah salah satu nama dari 99 nama baik untuk Tuhan (al-Asma” al­Husnit), atau sebagai salah satu nama dari beberapa nama surga (Dar as-Saliim). Da-lam ilmu fikih, salam termasuk rukun sa­lat, yang harus dibaca ketika tasyahhud, dan sebagai penutup dari rangkaian kegiat­an salat.

Salat menurut arti bahasa ialah doa. Adapun dalam istilah hukum Islam, salat berarti suatu ibadat yang terdiri dari bebe­rapa perkataan dan perbuatan, yang dimu­lai dengan takbir (membaca Allahu Ak­bar) dan disudahi dengan memberi salam. Salat lima kali sehari semalam adalah salah satu dari rukun-rukun Islam yang lima, di samping dua syahadat (Pengakuan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utus­an Allah), menunaikan zakat, puasa bulan Ramadan dan naik haji ke Baitullah (al­Hadis).

Salat mendidik manusia untuk selalu merasakan kehadiran Allah bersamanya. Dalam salat seseorang dianjurkan agar se­lalu ingat kepada Tuhannya, atau seku­rangnya mengingat arti dari setiap apa yang dibacanya. Lima kali dalam satu hari satu malam seseorang dilatih untuk itu. Pada akhirnya perasaan kehadiran Allah bersamanya itu akan mendarah menda­ging, menjadi sikap mental yang tidak bisa terpisah dari dirinya. Waktu itulah salat berpengaruh terhadap tingkah laku dalam surat al-Ankabut ayat 45, adalah untuk menjadi pencegah pelakunya dari perbuat­an keji dan munglcar. Tujuan salat itu bisa tercapai apabila ia dilakukan dengan sung­guh-sungguh dan berkesinambungan. Salat yang dilengkapi dengan syarat dan rukun­nya secara sempurna, akan diterima oleh Allah. Salat yang diterima oleh Allah itu­lah yang akan berpengaruh kepada kehi­dupan seseorang. Dengan salat, seorang pelakunya akan terlatih berdisiplin dan te­rus merasa dikontrol oleh suatu kekuatan. Lima kali sehari semalam secara rutin se­seorang dilatih untuk itu, sehingga ia tidak mudah melanggar larangan-larangan Allah, dan akan selalu taat kepada segala perin­tah-Nya.

Di samping untuk latihan diri supaya selalu ingat kepada Allah, salat juga bisa menjadi penghapus dosa. Dalam Islam, se­seorang yang terlanjur berbuat dosa, dian­jurkan cepat mengiringinya dengan ber­buat kebaikan, dan kebaikan itu akan menjadi kifarat (penghapus) bagi dosa. Dalam surat Hud ayat 114 dijelaskan bah­wa kebaikan akan menghapuskan kejahat­an. Sejalan dengan maksud ayat tersebut, dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa sa­lat lima waktu itu ibarat sebuah sungai yang jernih airnya, terletak di samping pintu rumah seorang muslim. Dengan air jernih itu seseorang lima kali sehari sema­lam membersihkan badannya dari kotor­an. Demikianlah perumpamaan dari Ra­sulullah bagi orang yang melakukan salat lima waktu. Lima kali dalam sehari sema­lam ia menebus dosanya, sehingga dengan demikian seseorang tetap bersih dari dosa.

Mula salat lima waktu diwajibkan ialah pada malam Isra dan mikraj. Dalam se buah hadis disebutkan bahwa Allah pada mulanya mewajibkan lima puluh kali salat untuk umat Muhammad sehari semalam. Kemudian setelah Rasulullah memohon­kan keringanan, Allahpun menguranginya menjadi lima waktu. Dan dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menunjuk­kan kewajiban salat, umpamanya: “Diri­kanlah salat, sesungguhnya salat itu diwa­jibkan atas orang-orang mukmin pada waktunya.” Dalam sebuah hadis diriwa­yatkan, bahwa perbedaan antara orang yang kafir dengan orang yang mukmin itu adalah melakukan salat.

Ada beberapa macam salat yang dilaku­kan oleh umat Islam. Ada yang berupa ke­wajiban. Umpamanya salat lima waktu se­perti yang dikemukakan di atas. Dalam se­buah hadis yang diriwayatkan oleh Bukha­ri dan Muslim dijelaskan, bahwa ada lima waktu salat yang diwajibkan Allah atas hambaNya, barangsiapa melakukannya dengan hati-hati dan tidak mengabaikan­nya, Allah menjanjikan masuk surga; dan barangsiapa yang tidak melakukannya, ti­dak ada jaminan masuk surga baginya; jika Allah menghendaki, ia akan diazab-Nya, dan jika Allah mau, ia akan diampuniNya.

Di samping salat wajib, ada lagi bebera­pa macam salat sunnah. Umpamanya salat witir (yaitu salat ganjil, satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, sembi­Ian rakaat atau sebelas rakaat), salat dua hari raya ‘idul-fitri dan ‘idul-adha, salat gerhana matahari atau gerhana bulan, salat minta hujan, salat dua rakaat tahiyatul­mesjid bagi orang-orang yang masuk mes­jig sebelum ia duduk, salat dua rakaat se­lesai berwudu, salat duha, yaitu salat yang dilakukan di waktu, duha (pada waktu naik matahari kira-kira jam delapan sam­pai tergelincir matahari). Salat duha dila­kukan sekurangnya dua rakaat, dan seba­nyaknya dua belas rakaat. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa orang yang mela­kukan salat duha dua belas rakaat, akan dibangun Allah istana baginya di Surga (H.R. Tirmizi). Dan banyak lagi macam lain dan salat yang dianjurkan bagi umat Islam untuk melakukannya.

Seseorang sebelum melakukan salat per­lu melengkapi syarat-syaratnya.

Pertama, bersih dan hadas kecil, yaitu dengan melakukan wudu, dan bersih dari hadas besar yaitu dengan melakukan mandi jinabat, dan bersih dari najis, baik di pakaian, maupun badan di tempat salat. Dalam sebuah hadis dijelaskan: “Allah tidak akan menerima salat orang yang tidak bersih”. (H.R. Muslim)

Kedua, menutup aurat. Aurat perempu­an dalam salat adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan dua telapak tangannya, sedangkan aurat lelaki di antara pusat dan dua lututnya.

Ketiga, ialah menghadap kiblat. Bagi orang yang dekat dengan Ka’bah, yang menjadi kiblatnya ialah Ka’bah itu secara pasti, sedang bagi yang jauh dari Ka’bah, cukup dengan menghadap ke arah Ka’bah degan ijtihadnya. Artinya, cukup mengha­dap ke arah yang diduganya adalah arah Ka’bah. Menghadap kiblat yaitu Ka’bah dalam salat, bukan berarti menyembah Ka’bah. Menghadap Ka’bah adalah seke­dar lambang pemersatu arah dalam melakukan salat, tidak lebih dan itu. Yang disembah adalah Allah yang menjadikan Ka’bah itu.

Di samping melengkapi syarat-syarat tersebut, rukun-rukunnya pun perlu di­lengkapi secara sempurna seperti dapat di­baca di dalam kitab-kitab fikih.

Advertisement